Sunday, August 14, 2022

Mereka Mau Ubi Madu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ubi manis itu memikat lidah Singapura. Sayang pasokan seret saat kemarau kerap menjadi kendala.

Perjalanan ke Singapura pada pengujung September 2012 itu membahagiakan sekaligus membuat Taryana perlu memutar otak lebih keras. Pembeli di Negeri Singa meminta pasokan 5 ton ubijalar madu matang hasil pemanggangan di oven per minggu kepada pemilik CV Techtar Farm and Food di Desa Cilembu Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, itu. Itu jelas peluang, tapi Taryana belum sanggup memenuhinya.

Pekebun dan pengepul ubi madu sejak 1996 itu menghitung, untuk mendapatkan 5 ton ubi panggang ia butuh 10 ton umbi segar. Itu yang jadi masalah. Musababnya hingga kini permintaan ubi segar dari Singapura dan Hongkong yang masuk ke perusahaannya pun belum semua terpenuhi.

Setiap minggu Taryana setidaknya membutuhkan 14 ton ubi segar untuk memenuhi permintaan 8 ton per minggu dari Singapura, 6 ton per minggu dari Hongkong. Dari permintaan itu sejak 2009 ia baru bisa memasok 3-5 ton per minggu ke Singapura dan 4-6 ton per minggu ke Hongkong. Dari perniagaan itu Taryana mengantongi pendapatan minimal Rp35-juta per minggu dengan harga jual ubi Rp5.000 per kg.

Pasirpanjang

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ubijalar salah satu komoditas ekspor. Negara-negara tujuan ekspor yaitu Singapura, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, dan Malaysia. Trubus pernah menyaksikan tumpukan ubijalar di los sayuran saat berkunjung ke pasar induk terbesar di Singapura, Pasirpanjang Wholesales Center pada April 2000. Kini boleh jadi ubi cilembu dari Tatar Sunda salah satu yang mengisi pasar induk untuk ekspor impor itu.

Toh sejatinya permintaan pasar lokal juga besar. CV Techtar Farm and Food antara lain memasok ke Bali (1,5 ton), Kalimantan Barat (Pontianak; 1,5 ton), Jawa Tengah (Tegal; 2 ton), Jawa Timur (Surabaya; 6 kuintal), dan Jakarta (5 kuintal) per minggu.

Harap mafhum ubi cilembu memang kian dikenal di berbagai daerah. Kios-kios bermunculan bak jamur di musim hujan. Salah satunya Hambali, pemilik kios ubi cilembu di jalan Kemakmuran, Kota Depok. Baru satu tahun membuka kios setiap hari Hambali bisa menjual 25-30 kg ubijalar. Padahal, harga yang dibanderol relatif mahal: ubijalar mentah Rp13.000 per kg; matang oven, Rp16.000 per kg.

Bandingkan dengan harga di gerai milik Cepi Koswara di jalan raya Tanjungsari-Sumedang. Cepi menjual Rp7.500 per kg untuk ubijalar mentah; ubijalar matang Rp12.000 per kg. Setiap hari ia mampu menjual sekitar 20-30 kg ubijalar. Pada hari raya, hari besar, atau musim liburan, angka itu meningkat hingga 1 kuintal.

Untuk memenuhi permintaan rutin dari pelanggan Taryana menjalin kerjasama dengan para petani di Desa Cilembu, Cigendel, Citali, dan Sukawangi-semua di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Total pasokan mencapai

10 ton per minggu. Sisa 10 ton lainnya didapat dengan bergerilya kepada para petani di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, dan Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung-berjarak masing-masing 15 dan 45 km dari Desa Cilembu.

Menurut perhitungan Haris Maulana SP, anggota staf Bagian Produksi CV Techtar Farm and Food, dengan harga di tingkat petani Rp2.500-Rp3.000 per kg, usahatani ubijalar madu menguntungkan. Dari lahan seluas 1 ha petani menuai 12 ton ubi setelah 4 bulan tanam. Itu berarti omzetnya mencapai minimal Rp30-juta. Setelah dikurangi biaya bibit Rp7-juta per ha, saprotan Rp980.000 per ha, dan upah tenaga kerja sampai panen Rp4-juta per ha, petani masih mengantongi laba Rp18-juta.

Di CV Techtar Farm and Food, umbi-umbi dari petani mendapat perlakuan pascapanen. Pekerja mencuci umbi menggunakan mesin otomatis kemudian mengeringanginkan. Setelah itu mereka melakukan sortasi. Ubijalar berbobot 150-250 gram per buah misalnya dipisahkan sebagai pasokan untuk memenuhi permintaan ekspor. Di luar itu, umbi untuk pasokan ke pasar lokal.

Kemarau paceklik

Manisnya bisnis ubi cilembu membuat pengepul yang nakal berupaya meraup keuntungan dengan cara tak halal. Nun di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, pada 2010 Eddy Prijono terpaksa menghentikan bisnis jual beli ubi cilembu gara-gara “cilembu palsu”. Padahal pensiunan perusahaan pelat merah itu sempat sukses memasok memasok 4-5 ton per bulan ubi cilembu untuk pasar swalayan di Surabaya dan industri pengolah ubi di Malang, Jawa Timur.

Belakangan konsumen mengeluh kualitas ubi berubah. Eddy menduga pengepul mengirimkan ubi bukan asal daerah sentra. Akibatnya cita rasa ubi berubah, kehadiran cairan seperti madu yang jadi ciri khas cilembu hilang. Menurut Dr M Jusuf, pemulia ubi jalar di Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) di Malang, Provinsi Jawa Timur, cita rasa ditentukan oleh faktor genetik. “Bila varietas ubi jalar memiliki gen yang mampu mengekspresikan karakter manis, ditanam di mana pun tetap manis,” kata Jusuf. Namun di Malang, ubijalar cilembu tidak tumbuh baik. Jusuf menduga cilembu lebih cocok dengan tanah di Jawa Barat.

Batu sandungan lain terjadi saat musim kemarau tiba. Memasuki musim kemarau pasokan dari petani berkurang hingga 70%. “Kemarau masa paceklik ubi,” kata Taryana. Pada Oktober 2012 misalnya, Taryana hanya mendapat pasokan 4 ton ubi cilembu per minggu. Jumlah itu ia pakai untuk memenuhi permintaan ke Hongkong. Harap mafhum negara pulau itu pasar ekspor pertama bapak empat anak itu.

Masih di Cilembu, H Rukmana, pengepul lain, mesti mengurangi pasokan ke pelanggan di Bandung, Banten, Jawa Tengah (Purwokerto), dan Jawa Timur (Kediri). Biasanya Rukmana mengirim 2 ton per sepuluh hari kepada setiap pelanggan. Saat kemarau pengiriman hanya 1-1,5 ton. Musim kemarau menjadi batu sandungan sebab ketersediaan air di lahan terbatas. Belum lagi mengganasnya serangan hama Cylas formicarius penyebab boleng.

Menurut Budi Waluyo SP MP, periset ubijalar dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, dalam pertumbuhannya ubijalar membutuhkan cukup penyiraman hingga air menggenangi tanah. “Saat kemarau, kandungan air tanah berkurang sehingga permukaan tanah retak,” kata Budi. Retakan itu dimanfaatkan oleh serangga Cylas formicarius untuk masuk ke dalam tanah dan meletakkan telurnya ke dalam umbi. Risiko kekurangan air dan serangan boleng tidak main-main: 100% gagal panen. Petani pun jeri sehingga banyak yang menunda penanaman sampai tiba musim penghujan.

Petani bisa saja menyiasati kemarau dengan perlakuan tertentu. Muhammad Irsyad Muhibin, petani di Desa Cilembu, misalnya menjinakkan kemarau dengan menyiram lahan seluas 980 m2 miliknya setiap hari. Harap maklum lahannya dekat dengan sumber air. Hasilnya, ia mendulang panen 150 kg pada September 2012. Saat panen, pria kelahiran 49 tahun silam itu bak selebriti yang digilai penggemar lantaran dikejar-kejar pembeli. “Pengepul berdatangan saat panen,” kata Irsyad. Rupanya jika petani bisa mengatasi kendala maka pasar pun terbuka bahkan hingga ke Negeri Singa. (Muhamad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Ubijalar cilembu diminati hingga ke Singapura dan Hongkong
  2. Deretan kios penjajak ubijalar cilembu di Jalan raya Tanjungsari-Sumedang. Kini ubi cilembu mudah ditemukan di berbagai daerah
  3. Rukmana mengurangi jatah ke setiap pembeli ketika pasokan umbi berkurang saat kemarau
  4. Kios ubi cilembu di jalan Kemakmuran mampu menjual 25-30 kg ubi cilembu per hari
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img