Tuesday, August 9, 2022

Mereka Memang Aduhai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sebanyak 600 tokek, terpilih 17 ekor, 4 jawara, dan 1 grand champion.

Sepekan sebelum kontes itu berlangsung, Oscar mengelilingi ruangan 4 m x 3 m dan membuka 600 pintu kandang. Di ruang itu, ia menempatan 600 tokek alias leopard gecko koleksinya. Penggemar reptil di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu menemukan 17 tokek yang layak kontes. Gecko bernama Snow Radar salah satu di antara 17 ekor yang terpilih. Oscar menyeleksi tokek-tokek koleksinya berdasarkan penampilan yang aduhai dan sehat.

Di kontes perdana yang berlangsung di Mall of Indonesia, Jakarta Utara, pada 27 Oktober 2012 itu Snow Radar tampil menawan. Si Salju menumbangkan rivalnya di kelas open eclipse dan enigma. Menang di kelasnya, Snow beradu penampilan dengan enam jawara di kelas lain untuk memperebutkan gelar grand champion. Gecko bercorak river strip itu kembali menjadi kampiun. Teungku Noval Rizky, juri reptil asal Jakarta Timur, menuturkan bahwa corak Snow Radar amat menawan.

Pakan

Snow memiliki 4 corak unggulan: morph albino bell (warna pangkal hingga ujung ekor putih keunguan), snow (warna tubuh bak salju yang putih), eclipse (mata terlihat transparan ketika disinari cahaya), dan enigma (bercak putih mutiara menyelimuti tubuh). Menurut Teungku Noval Rizky, eclipse merupakan gen yang paling sulit berpadu dengan corak lain. Itulah yang menjadi kelebihan Snow yang berbobot 85 gram sehingga menyita perhatian juri. Bobot itu sangat ideal saat umur Salju 1,5 tahun. “Tidak kurus dan tidak gemuk,” tutur Noval.

Menjelang kontes, Oscar tak merawat satwa koleskinya secara khusus. Ia hanya memberi pakan berupa 5 gram ulat hongkong per tokek setiap hari. Dari total 17 tokek yang ikut kontes, 12 ekor di antaranya masuk dalam lima teratas. Hasilnya adalah 4 ekor menjadi jawara di empat kelas yang berbeda, yakni Snow Radar yang menjadi jawara di kelas open eclipse & enigma, Boldstripe (kelas open jungle & stripe), Emerine (open normal hi yellow tangerine & snow), dan Xtreme Emerine (kelas open albino). Jawara di dua kelas pertama itu menjadi pesaing terberat Snow Radar saat perebutan grand champion.

Windu Samudera, juri kontes asal Jakarta, menyatakan kriteria penilaian reptil adalah faktor kesehatan, anatomi tubuh, proporsi tubuh dan ekor, morph, serta corak. Kesehatan gecko terlihat dari bentolan kasar di permukaan kulitnya. Selain tokek, kontes adu molek itu juga menampilkan linsang yang tengah sohor sebagai satwa klangenan. Kiko, linsang koleksi Rizkya Mahardika asal Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat, menjadi yang terbaik dan menumbangkan keempat rival di kelas mamalia eksotis.

Aksi Kiko begitu atraktif di depan kelima juri. Gaya Kiko amat khas, tubuh berdiri tegap dan kepala mendongak sehingga mencuri perhatian dewan juri. Aksi berputar dan berlarinya pun menjadi aksi spektakuler di kontes itu. Jenny Chandradinata, juri asal Jakarta, sudah menduga sejak awal kontes, Kiko bakal menjadi kampiun. Menurut Jenny, Kiko memiliki mental petarung dengan aksinya yang atraktif dan akrobatis serta mengalami habituasi atau pembiasaan.

Akibatnya ketika kontes, Kiko cepat merespon rangsangan Rizkya yang memberikan kode dengan cara menggerak-gerakkan ujung tali kekang. Rizkya yang tergabung dalam komunitas Otter Lovers Indonesia itu baru pertama kali mengikutkan linsang di kontes. Ia mengatakan tak merawat secara khusus, hanya memberikan setengah kilogram ikan per hari. Frekuensi pemberian 3-4 kali sehari. Namun, yang terpenting latihan rutin.

Tupai gula

Satwa lain yang mengikuti kontes adu penampilan itu adalah tupai gula alias sugar glider dan musang. Ada dua jenis tupai gula Petaurus brevicep yang mengikuti kontes, yaitu jenis normal dan cremino dengan mata merah dan warna bulu krem. Jumlah peserta di kedua kelas itu 22 ekor. Tupai gula koleksi Elquad menjadi kampiun. Aksi terbang layang tupai itu mencuri perhatian dewan juri.

Di kelompok musang, terdapat 24 peserta beragam jenis, yakni musang bulan, musang akar, musang pandan, binturong, dan jenis rase. Musang pandan milik Ferry KL asal Bandung, Provinsi Jawa Barat, menjadi jawara. Menurut Ray Chaerudin, juri mamalia asal Cibubur, Jakarta Timur, musang milik Ferry lebih atraktif dibanding musang lainnya. Mamalia eksotis lain seperti landak mini dan musang morph pun turut meramaikan suasana kontes mamalia eksotis.

Kontes bertemakan Indonesia World Reptile Exhibition & Competition juga menampilkan kadal, biawak, kura-kura darat, kura-kura air, dan ular. Menurut ketua panitia kontes, Michael Buntoro, total peserta reptil mencapai 280 ekor terbagi dalam 18 kelas. Penggemar reptil dari berbagai kota seperti Jakarta, Denpasar, Manado, Pontianak, Samarinda, dan Banjarmasin mengikutkan koleksinya dalam adu molek itu.

Menurut Teungku Noval Rizky, koordinator juri reptil, persaingan kontes reptil terjadi di kelas Boa constrictor morph. Saking ketatnya, penjurian di kelas itu berlangsung lama, hingga satu jam. Penilaian dilakukan dengan sistem best of five. Artinya setiap juri memilih lima terbaik di setiap kelasnya. Yang dinilai meliputi kesehatan dan pola warna. Pemenang di kelas itu boa tak berpola. Pola garis dengan morph roswell sedikit unik karena warna dasarnya terang yang dikombinasikan dengan warna gelap stripe. (Rona Mas’ud)

Keterangan Foto :

  1. Grand champion leopard gecko
  2. Kampiun kelas tangerine
  3. Musang bulan koleksi Ferry KL menjadi jawara
  4. Pemenang grand champion reptil
  5. Suasana penjurian leopard gecko
  6. Kampiun open jungle & stripe
  7. Kontestan tupai gula
  8. Kampiun landak mini
  9. Linsang sabet grand champion di kelas mamalia eksotis
  10. Jawara open lizard
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img