Saturday, August 13, 2022

Ketika Ratu Duri Tiba di IndonesiaMereka Menjaga Kebiasaan Moctezuma

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Buah dari tanjung Yucatan, Meksiko, itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kelahiran Paris 9 September 1959. Maklum, ia memang dibesarkan dalam keluarga pecandu cokelat. Di sana sejak abad ke-17 masyarakat lazim mengkonsumsi olahan buah anggota famili Sterculiaceae. Apalagi kakeknya pengolah kakao.

Favoritnya adalah dark chocolate alias bitter, cokelat yang terasa sedikit pahit lantaran tanpa gula dan campuran apa pun. Mengapa ia begitu gandrung cokelat? “Cokelat dapat membuat saya merasa rileks,” katanya. Itu memang masuk akal. Sebab, kandungan theobromine, kafein, phenylethylamine, dan serotine mampu merangsang sistem saraf pusat. Penikmat cokelat jadi merasa tenang ketika mengunyahnya.

Retur tinggi

Kecintaannya pada cokelat mendorong pehobi renang itu memperdalam teknik pengolahan di lembaga pendidikan Le Notre, Paris. Di institusi bergengsi itu ia belajar menjadi chocolaterie alias desainer cokelat. Francis yang juga mengeyam pendidikan Eloktronik dan Pemasaran akhirnya benar-benar tak dapat melepaskan diri dari cokelat. Untuk menyalurkan hobi berkreasi dan menikmati cokelat ia pun membuka gerai L’ Atelier du Chocolate alias Studio Cokelat pada September 3 tahun silam.

Gerai cokelat di Kemang, Jakarta Selatan, itu menyediakan minimal 400 jenis olahan cokelat. Ada casse noisete cokelat yang diberi hazelnut dan bentuknya mirip umbi bawang. Campuran madu plus cokelat hadir dalam belle de jour. Kemudian daun mint nan segar dilumuri cokelat dikenal sebagi menthe a l’ea. Semua bikinannya yang dikerjakan sejak pagi hingga malam.

Yang khas adalah oranye tte. Itu lo kulit daun jeruk yang biasanya dibuang, dipotong sepanjang 7 cm. Kemudian bahan direbus beberapa jam, lalu dibungkus dengan cokelat. Aroma jeruk tetap tercium, rasanya lezat tanpa pahit sedikit pun. Istrinya, Diana Sutandya, ketika diberi pertama kali pada 1991 di bandara Charles de Gaulle, Paris, sempat menolak. Namun, ketika Francis “memaksa” kelahiran Kudus 43 tahun silam itu ketagihan. Hingga sekarang.

Awalnya memang tak gampang membuka gerai di negeri tanpa budaya cokelat. Meski Indonesia salah satu produsen terbaik kakao dunia. Hampir 6 bulan p e r t a m a , i a k e r a p membawa pulang cokelat hasil olahannya. Toh, pria murah senyum itu tak patah arang. ”Tujuan kami adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menikmati cokelat,” kata Diana. Ironis memang konsumsi cokelat masyarakat Indonesia cuma 50 g/orang/tahun. Bandingkan dengan Perancis yang mencapai 3 kg.

Boleh jadi tujuan itu sebagian telah tercapai. Buktinya, konsumen yang datang ke gerainya terus mengalir dari pagi hingga pukul 21.00 setiap hari. Malahan ia akhirnya membuka gerai baru di Plaza Indonesia. Masyarakat berduyun-duyun ke sana seperti pada 14 Februari 2005. “Permintaannnya sepuluh kali lipat daripada biasanya,” ujar Fransis. Sebagai gambaran, pada hari-hari biasa, ia hanya menghabiskan 550 kg bahan baku.

Naik 60%

Semula kedai seperti itu hanya ada di hotel berbintang. Tiga tahun terakhir kedai-kedai yang menjajakan cokelat memang bertebaran, khususnya di Jakarta. Salah satu gerai itu adalah Dapur Cokelat yang berdiri pada Mei 2001. Pemilik kedai itu, pasangan Oki Dewanto dan Ermi Trisniarti. Kegilaan pada cokelat telah menyatukan mereka. Cokelat memang bukan komoditas asing baginya. Harap mafhum, kakeknya di Palopo, Sulawesi Selatan, mengelola perkebunan kakao.

Tumbuh dan besar di Jakarta, Ermi belajar pengolahan cokelat justru di Bandung. Penyuka darkchocolate i t u s e m u l a hanya melayani o r d e r c o k e l a t secara kecil-kecilan dari teman-temannya. Alumnus National Hotel Institute itu menangkap gaya hidup baru masyarakat Indonesia yang gemar cokelat. Maka didirikanlah Dapur Cokelat di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Meski demikian, tak mudah mengundang konsumen untuk menyambangi gerainya. “Dua bulan pertama saya kerap mengundang siapa saja lewat e-mail atau mailing list. Hasilnya memang efektif,” katanya. Mereka diundang untuk mencicipi cokelat gratis. Kedai itu menyediakan beragam cake (11 macam), praline (10), dan snack (5) berbahan cokelat.

Salah satu produk yang digemari konsumen adalah cake berukuran 30 cm x 40 cm yang disertai foto berwarna orang yang berulang tahun atau menikah. Dengan sendok kecil bagian wajah dalam foto itu dapat dikunyah. Foto di atas kue itu memang hasil prin dari sebuah komputer yang aman dikonsumsi. Soalnya, tinta yang dimanfaatkan untuk mengeprin merupakan edible ink alias tinta yang dapat dikonsumsi.

Aman

Seperti di L’Atelier, Dapur Cokelat juga kebanjiran konsumen, khususnya pada hari-hari tertentu seperti Valentin. Menurut Manajer Pemasaran Pongky Poernomo Sidik, lonjakan mencapai 30%; Lebaran 60%. Kedua gerai itu sama-sama melayani pesanan via telepon di sekitar Jakarta. Puluhan orang saban hari cukup menelepon untuk menikmati cokelat. Malahan L’Atelier kerapkali mengirim pesanan ke Denpasar, Surabaya, dan Semarang.

Mengapa orang tertarik mengkonsumsi cokelat? Ermi menduga lantaran cokelat kini lebih mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. “Dulu kan gerai yang menyediakan hanya di hotel tertentu,” katanya. Sedangkan Francis menengarai kesadaran orang mengkonsumsi cokelat mulai tumbuh. Maklum, dulu banyak fitnah dialamatkan kepada cokelat. Contoh, cokelat merusak gigi. “

C o k e l a t j u s t r u berpengaruh positif untuk gigi. Zat polyhidroxyphenol mencegah perkembangan mikroba di mulut. Fluoride dalam cokelat melindungi kerusakan gigi,” ujar drg Diana Sutandya. Jika g i g i r u s a k s e t e l a h mengkonsumsinya, itu gara-gara cokelat bermutu rendah dengan campuran gula berlebihan. Di pasaran banyak juga cokelat yang dicampur lemak tumbuhan.

Dakwaan cokelat memicu obesitas juga tak berdasar karena kandungan lemak minim. Diana dan Francis yang puluhan tahun menyantap cokelat tetap bertubuh ramping dan sehat. Itulah sebabnya pilihlah cokelat bermutu. Cirinya antara lain, berwarna lebih gelap berarti kandungan kakaonya lebih dominan. Tekstur mengkilap, jika dipatahkan tak menimbulkan serpihan. Nah, jika kita gigit, cokelat mudah lumer dan tak menempel di gigi.

Cokelat kini juga tak sekadar pangan lezat. Saat Salon du Chocolat—ekshibisi cokelat di Corrousel de Louvre, Paris— cokelat juga dimanfaatkan sebagai baju. Xocoatl—artinya air berbuih, sebutan cokelat di suku Aztec—memang telah berubah. Tak lagi sekadar minuman penghangat yang lazim dikonsumsi Moctezuma, kepala suku Aztec, untuk menjamu tamu atau sebelum menemui ratusan haremnya. Yang tak pernah berubah, cokelat tetap menyehatkan penikmatnya. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img