Monday, November 28, 2022

Metamorfosis Limbah Tetes Tebu

Rekomendasi

Contoh paling gres, molase sebagai bahan biopremium sehingga banyak mobil melaju kencang. Balsem, bedak, pasta gigi, dan obat batuk juga memerlukan olahan molase. Dari bangun hingga hendak tidur, tetes tebu selalu dibutuhkan.

 

Molase merupakan limbah pabrik gula pasir yang tak lagi dapat dikristalkan. Menurut Erlies Sartini dari PT Molindo Raya Industrial-produsen bahan bakar nabati-kadar gula molase masih tinggi, 55%. Bentuknya cairan, mirip kecap dengan aroma khas. Molindo yang berdiri sejak 1965 mengolah molase dari beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Setiap hari perusahaan yang didirikan oleh Iswan Rustanto itu menghasilkan 150.000 liter etanol atau hasil olahan molase.

Tiga tahun terakhir selama 365 hari perusahaan itu nonstop mengolah molase. Artinya, tak ada hari libur. Padahal, di Indonesia pabrik gula menggiling tebu hanya 6 bulan terkait dengan pasokan bahan baku. Tebu Saccharum officinarum siap panen pada umur minimal 12 bulan. Agar perusahaan tetap dapat mengolah molase pada setengah tahun berikutnya-ketika pabrik gula berhenti menggiling-Molindo harus menyimpan 90.000 ton molase sebagai cadangan. Harga beli molase saat ini Rp700/kg.

Cadangan molase itu tersimpan dalam beberapa tangki berkapasitas 5.000-16.000 ton. Rendemen pengolahan hanya 27-28%. Ketika hendak diolah, molase disaring dengan penyaring berukuran 1 mess. Tujuannya untuk membuang kotoran. Menurut Indra Winarno MS, presiden komisaris Molindo, kualitas etanol hasil pemrosesan molase yang disimpan selama 6 bulan tetap bagus. Perbedaannya, ‘Kadar asam amino turun hanya 1%,’ ujar Indra.

Tak terbatas

Tetes tebu berubah menjadi etanol melalui dua proses yaitu fermentasi dan destilasi atau penyulingan. Fermentasi dengan bantuan cendawan Sacharomyces cereviceae. Erlies menuturkan, untuk memfermentasi 6.000 ton molase, misalnya, perlu 30% cendawan. Lama fermentasi 40 jam. Tahap berikutnya destilasi untuk memurnikan etanol hingga berkadar 96%. Dengan prinsip dehidrasi, Molindo memurnikan lagi etanol itu hingga berkadar 99,95%. ‘Di Indonesia baru Molindo yang mampu menghasilkan etanol itu,’ ujar Indra Winarno.

Nah, etanol berkadar 99,95% itulah yang mengisi tangki-tangki mobil dan motor sebagai biopremium atau premium nabati. Ketimbang premium, biopremium jelas lebih unggul. Selain dapat diperbarui, bahan bakar nabati itu juga meningkatkan kinerja mesin kendaraan sekaligus tanpa polutan.

Saat ini Molindo memasok 2 SPBU di Malang dan Jakarta. Total pasokan mencapai 15.000 liter per hari. Molindo menjual biopremium melalui Pertamina Rp5.000 per liter. Dari penjualan biopremium saja, Molindo menangguk omzet Rp75-juta sehari.

Jauh sebelum biopremium ramai digunakan, 4 tahun silam Indra memanfaatkannya untuk bahan bakar mobil BMW dan 8 mobil operasional perusahaan. Semula campuran biopremium itu memang hanya 5%, kemudian terus ditingkatkan hingga kini mencapai 15%. Sementara etanol berkadar 95% itu menjadi rebutan industri domestik dan mancanegara. Kebutuhannya? Sama seperti biopremium, permintaan etanol, ‘Tak terbatas,’ ujar Indra mantap. Produsen rokok, parfum, bumbu masak, pasta gigi, dan obat batuk hanya beberapa yang membutuhkannya.

Gas cair

Dari pengolahan molase, Molindo tak cuma memetik etanol. Selama proses fermentasi menghasilkan gas di lapisan atas tangki. Gas itu didinginkan dan diolah menjadi cairan yang dibutuhkan antara lain oleh industri minuman berkarbonasi, pembekuan bahan pangan, pengolahan tembakau, industri karoseri, dan pengelasan. Dalam sehari Molindo menuai 45 ton gas cair.

Adapun limbah dalam proses pengolahan etanol tak dibuang begitu saja. Sebab, limbah pengolahan molase amat korosif lantaran BOD (Bio Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) tinggi sehingga mencemari air tanah. Oleh karena itu Molindo memekatkan limbah dengan evaporator. Kemudian mengabutkan limbah pekat ke dalam tanur pembakaran bersuhu 800oC sehingga bahan organik dalam limbah terbakar habis.

Abu hasil pembakaran itu ternyata mengandung kalium sehingga diolah menjadi pupuk. Indra, alumnus pascasarjana Universitas Brawijaya itu menghasilkan 10.000 ton pupuk per hari. Dengan sistem pengolahan seperti itu buangan limbah Molindo nihil.

Limbah tetes tebu ternyata dapat diolah menjadi etanol yang menjadi campuran beragam produk. Bahkan, limbah pengolahannya pun masih mendatangkan keuntungan. Pasar membutuhkannya dalam jumlah besar. Itulah sebabnya, Indra terus mengepakkan sayap bisnis Molindo. Perusahaan itu mendirikan pabrik pengolahan baru di Pacitan dan Kediri, keduanya di Jawa Timur, serta di Sekampung Udik, Lampung. (Sardi Duryatmo)

Limbah Multiguna

Etanol hasil olahan tetes tebu sudah ada sejak zaman purba. Nenek moyang mengolahnya dari hasil peragian pati atau gula. Sekarang etanol multimanfaat untuk campuran beragam produk. Faedahnya sebagai pelarut, bahan pembuatan cuka, dan asetaldehida. Yang terbanyak, etanol digunakan untuk minuman keras. Inilah sebagian produk yang memanfaatkan tetes tebu. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img