Friday, August 12, 2022

Metamorfosis Pride of Sumatera

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Bukan tanpa alasan kematian sri rejeki itu disebut tragedi. Dua tahun lalu kota Surabaya diselimuti tren aglaonema. Eddy pun kepincut mengoleksi sepot pride of sumatera dan lady valentine masing-masing seharga Rp200-ribu. Dua jenis itu dipilih lantaran disebut orang sebagai hibrida terbandel. Namun, apa lacur. Sri rejeki itu hanya bertahan 1 bulan karena daun terbakar. ‘Saya kalang kabut, istri saya pasti marah. Uang Rp400-ribu terbuang percuma,’ katanya.

Kemarahan istri tercinta dihindari dengan membeli tanaman serupa setiap kali koleksinya mati. Tercatat 6 kali berturut-turut ayah Samanta Sicilillya dan Timothy Edison itu mengganti 2 sri rejeki itu. ‘Habis setiap bulan pasti mati. Saya mesti cepat-cepat membeli,’ ujar pengusaha pasar swalayan makanan jepang di Surabaya itu. Pengalaman selama setengah tahun itu membuatnya tersadar. Aglaonema tak boleh terkena sinar matahari langsung. Ternyata benar. Setelah sang ratu daun ditaruh di tempat teduh dan dirawat intensif, hasilnya aglaonema tumbuh subur. Sejak itulah Eddy berburu jenis lain yang lebih mahal.

Berbarengan dengan itu pula sarjana Akuntansi Universitas Jayabaya itu kepincut adenium. Pilihan pada mawar gurun itu berlangsung mulus karena sukulen itu tahan banting meski terjemur sinar matahari dan tak disiram 3-4 hari. Pada bulan pertama, koleksinya berlipat dari 10 menjadi 20-30 tanaman. ‘Karena tak mudah mati, saya ketagihan berburu,’ tuturnya. Nurseri dari ujung barat hingga timur Jawa sudah disambangi.

Terlengkap

Kini cerita aglaonema dan adenium itu berbuah manis. Eddy bukan lagi hobiis kelas teri. Saat wartawan Trubus, Karjono dan Destika Cahyana berkunjung ke nurseri pada Desember 2006 dan Januari 2007, hobi itu telah jadi bisnis yang melesat. ‘Setiap bulan 1 kontainer tanaman hias dari Thailand datang. Itu karena permintaan kian besar,’ katanya.

Komoditas yang dipasarkan tak hanya aglaonema dan adenium, tapi juga plumeria, caladium, palem janggut, dan pachypodium. Bahkan, untuk caladium Eddy disebut-sebut sebagai orang pertama yang mengadopsi teknik sungkup massal ala Thailand. Penelusuran Trubus, kini teknik itu menginspirasi pekebun noncaladium. Misalnya, pekebun sansevieria di Solo.

Konsep pasar swalayan yang serbaada pun diterapkan di ruang pamer nurseri. Di atas lahan seluas 250 m2-bekas restoran-ia memajang alat pertanian dan satwa. Sementara halaman samping dan belakang seluas 8.000 m2 dibagi 2: nurseri tanaman hias dan kandang satwa. Makanya berkunjung ke sana ibarat memasuki kebun binatang dan kebun raya sekaligus. Selain menikmati keindahan anthurium dan aglaonema, pengunjung disuguhi merdunya kicauan lovebird dan kenari. Desisan ular sanca yang tengah beristirahat pun terdengar. Pasar swalayan serupa di Bandung dan Jakarta hanya memilih 1 dari 2 segmen: tanaman atau satwa.

Sukses Eddy memadukan tanaman hias dan satwa itu bukan kebetulan belaka. Sejatinya 11 tahun silam ia pernah membangun farm perkutut ternama di Surabaya, Santa Bird Farm. Ia terkenal karena getol mengoleksi indukan asal Thailand: ada 80 pasang. Banyak anakan dari farm-nya merebut juara di arena kontes. Sayang, bisnis itu terhenti pada 2002 karena menurunnya tren kerabat merpati itu. Selepas bermain perkutut, Eddy tergila-gila pada ayam serama, lovebird, makaw, dan parot.

Menurut Eddy, pasar di dunia tanaman hias dan satwa masih terbentang luas. Dengan sistem promosi sederhana-memasang iklan di majalah dan tabloid, serta memasang spanduk besar-ia meraup pasar lokal hingga nasional. Pelanggan luar Jawa pun berhasil digaetnya. Pengelolaan kebun dan kandang dilakukan profesional. Ia mempekerjakan 6 dokter hewan dan 5 insinyur pertanian dari 28 pegawai.

Penghias restoran

Showroom berbendera Santa Pet Store & Nursery itu sebetulnya tak sengaja didirikan. Ketika itu, 1,5 tahun silam koleksi aglaonema dan adenium terlalu banyak di halaman rumah. Ia pun memindahkan koleksi ke 4 restoran-ala Jepang, Amerika, Meksiko, dan Indonesia-miliknya yang tersebar di Surabaya sebagai penghias.

Tak disangka banyak pelanggan yang melirik tanaman. Lantaran tak berniat menjual, Eddy kerap menyebut angka semaunya agar mereka tak membeli. Anehnya, angka jutaan rupiah yang disebutkan tak membuat pelanggan urung membeli. ‘Kalau dihitung-hitung, keuntungan dari tanaman jauh lebih besar ketimbang dari makanan,’ katanya.

Naluri bisnis Eddy pun terusik. Ia menghubungi 2 nurseri besar di Jakarta menawarkan diri berbisnis ala franchise. Sayang, niatnya ditolak mentah-mentah karena Eddy dianggap awam di bidang tanaman. Gagal membuka franchise, pada Juni 2006 suami Kristin Setiawan itu nekat menyulap restoran di bilangan HR Muhammad, Surabaya, menjadi showroom tanaman hias dan satwa. ‘Kalau tak nekat begini tak jadi-jadi. Padahal, bisnis restoran kian turun karena banyak saingan,’ ujar Eddy.

Sebagai permulaan tanaman dipasok dari sahabatnya di Jakarta. Sebanyak 200-300 aglaonema tanpa nama dipamerkan di restoran. Ternyata dalam hitungan hari 20-30% sri rejeki itu ludes terjual. ‘Anehnya, meski baru terjual 1/3, modal sudah tertutup. Teman saya sampai bingung karena pembayaran dilunasi tak sampai seminggu,’ tutur Eddy.

Di saat itu pula kolega lain menitipkan 1.000 Adenium obesum. Dalam waktu sebulan habis tak tersisa. Sebanyak 500 Adenium arabicum setinggi 40 cm pun turut menambah semangat Eddy. Pasalnya, sepot arabicum bisa terjual hingga Rp18-juta. Penjualan di bulan pertama itu membuat Eddy meningkatkanperburuannya. Ia mengambil tanaman langsung dari Thailand sebagai pusat produksi adenium dan aglaonema.

Kini sejak setahun terakhir kesibukan Eddy sedikit berubah. Bila sebelumnya sepulang dari kantor berkutat dengan tanaman sebagai hobiis. Sekarang ia berkutat dengan tanaman sebagai mesin pencetak rupiah yang andal. Matinya pride of sumatera dan lady valentine menjadi guru terbaik untuk memahami tanaman. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img