Friday, December 9, 2022

Minuman Segar Asal Mayang

Rekomendasi
Mayang menghasilkan nira sebagai bahan baku minuman siap saji.
Mayang menghasilkan nira sebagai bahan baku minuman siap saji.

Pilihan lain mengolah nira kelapa menjadi minuman siap saji.

Minuman dalam botol membuat penasaran Drs Muhartoyo MA. Anggota staf Asian & Pacific Coconut Community (APCC) itu pun menenggak minuman berbahan nira kelapa itu. “Rasanya enak, manis, dan menyegarkan karena dingin,” kata pria berkacamata itu. Muhartoyo kepincut minuman bervolume 150 ml itu saat menghadiri pertemuan ke-51 APCC di Kerala, India.

Panitia menyediakan olahan nira sebagai minuman spesial. Tujuannya untuk mempromosikan produk minuman neera—sebutan nira dalam Bahasa Inggris. Harap mafhum tren mengolah nira menjadi minuman di Negeri Hindustan itu marak sejak 2013. Muhartoyo mengatakan sebelumnya pemerintah setempat melarang pekebun menyadap nira. Sebab masyarakat India lazim memanfaatkan nira sebagai bahan baku minuman beralkohol.

Minuman berbahan nira produksi India bercitarasa enak dan manis.
Minuman berbahan nira produksi India bercitarasa enak dan manis.

Cegah fermentasi
Menurut Muhartoyo, kini minuman nira tengah tren di India. Salah satu produsen minuman nira itu Karappuram Coconut Farmers Producer Company Ltd (KCPC) di Kanjikuzhy, Distrik Alappuzha. Chief Executive Officer perusahaan itu, Dr P K Mani, mengatakan dahulu Karappuram sentra kelapa di Negara Bagian Kerala. Mata pencaharian masyarakat sangat bergantung pada kelapa.

Suatu ketika harga kelapa dan produk turunannya anjlok, hama dan penyakit menyerang, serta meningkatnya ongkos produksi. Dampaknya petani mengabaikan tanaman anggota famili Arecaceae itu. Belakangan harga kelapa dan produknya merangkak naik. Sayangnya malah produksi kelapa dan produk derivatnya berkurang. Kepala Blok Kanjikuzhy, Priyesh Kumar, bekerja sama dengan ketua Badan Pengembangan Kelapa (Coconut Development Board, CDB), T K Jose.

Priyesh bermaksud menghidupkan kembali sektor kelapa antara lain melalui nira. Terdapat lebih dari 537.000 nyiur di Karappuram. Namun, hanya 200 pohon yang disadap. “Kami berencana menyadap nira dari 50.000 tanaman selama 3 tahun ke depan,” kata Mani. Perusahaan itu menyadap air manis sadapan dari mayang alias bunga kelapa sejak November 2014. Pada April 2015 KCPC memproduksi minuman berbahan nira secara komersial.

Drs Muhartoyo MA (paling kiri), dari Asian Pacific Coconut Community.
Drs Muhartoyo MA (paling kiri), dari Asian Pacific Coconut Community.

Mani menuturkan tahapan awal produksi yakni mengumpulkan air nira menggunakan larutan antifermentasi. Peneliti pascapanen dari Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara, Dr Steivie Karouw STP MSc, mengatakan jika tidak menggunakan larutan antifermentasi citarasa nira masam. Nira cepat terfermantasi karena mengandung banyak mikrob pendegradasi gula.

Larutan antifermentasi berfungsi menghambat aktivitas mikrob sehingga citarasa manis terjaga. Tanpa pengawet kemungkinan fermentasi terjadi 2—3 jam setelah nira disadap. Fermentasi bisa lebih cepat jika wadah pengumpul dan pisau pemotong mayang tidak steril. Steivie menuturkan membasuh wadah dan pisau dengan air panas cara sederhana mensterilisasi.

Mesin otomatis
Larutan antifermentasi pun sebaiknya dari bahan alami karena nira diolah menjadi makanan atau minuman. Bahan alami pengawet nira antara lain kayu manis, sabut kelapa segar, dan kulit batang manggis yang dimemarkan. Hasil riset Rifda Naufalin dan rekan dari Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, menunjukkan penambahan 4,5 g bubuk kulit manggis ke dalam 100 ml nira efektif menghambat fermentasi.

Hasil penelitian yang termaktub dalam Jurnal Teknologi Pertanian itu mengungkapkan senyawa bioaktif seperti tanin dalam kulit buah Garcinia mangostana menghambat aktivitas mikrob penyebab fermentasi dan mempertahankan pH nira. Petugas memasukkan nira ke dalam kotak berisi es menuju pabrik. Petugas lalu menyimpan nira di dalam chiller bersuhu 4°C.

“Kondisi dingin menghambat aktivitas mikrob sehingga tidak terjadi fermentasi,” kata Steivie. Selanjutnya petugas mengaduk larutan nira berkecepatan 8.000—10.000 rpm. Tujuannya memisahkan bahan pengotor yang masih ada dalam nira. Untuk menghilangkan organisme merugikan dalam nira petugas melakukan pasteurisasi dengan suhu 80°C selama 15 menit. Selanjutnya pekerja memisahkan nira berdasarkan kualitas dan menghilangkan bau.

Aneka minuman berbahan nira populer di India sejak 2013.
Aneka minuman berbahan nira populer di India sejak 2013.

Setelah itu nira dikemas dalam botol menggunakan mesin otomatis. Sebelum dijual, minuman nira disimpan dalam ruang pendingin. Perusahaan yang berlokasi di daerah berpantai itu juga berencana mengembangkan produk lain berbahan nira seperti sirup, gula merah, dan madu. Dalam Coco info International Deputy Director of CDB, Kochi, India, R Jnanadevan, menyatakan mengolah nira menjadi minuman lebih menguntungkan daripada memanen kelapa segar.

Jnanadevan menuturkan petani bisa menuai 300 l nira dari 72 mayang selama satu tahun. Harga nira per liter sekitar Rp10.000. Artinya petani mendapat omzet Rp3-juta. Bandingkan jika petani memanen Cocos nucifera segar. Hitungan Jnanadevan petani mendapat 60 kelapa segar selama setahun yang dibandrol Rp3.000/buah. Jadi, omzet petani hanya Rp1,8-juta. “Pengolahan nira menjadi produk siap minum belum ada di Indonesia,” kata Muhartoyo.

Nira perlu ditambahkan larutan antifermentasi agar terhindar dari fermentasi.
Nira perlu ditambahkan larutan antifermentasi agar terhindar dari fermentasi.

Masih tradisional
Sebelumnya ia pernah menjumpai minuman dari nira di tanahair. Sayang, citarasanya tidak semanis minuman yang ia cicipi saat rapat di Negeri Anak Benua. Penampilan minuman nira ala India juga lebih modern karena dikemas dalam botol plastik. Di Indonesia penjual menjajakan minuman nira dalam bumbung bambu. Konsumen meminum dari gelas yang disediakan. Muhartoyo menjumpai cara itu saat meminum nira di Kediri, Jawa Timur.

Steivie mengatakan masyarakat di tanahair sudah lama memanfaatkan nira sebagai minuman segar. Terutama masyarakat dari daerah penghasil nira seperti di Kulonprogo dan Banyumas. “Namun pengolahan nira di Indonesia belum komersial,” kata alumnus Program Studi Ilmu Pangan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu. Selain itu masyarakat di tanahair lazim mengolah nira sebagai bahan baku gula kelapa. (Riefza Vebriansyah)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img