Thursday, August 18, 2022

Minyak Nabati Penyelamat Jagad

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Mobil Saab 9-5 seri terbaru yang dibeli pemilik Virgin Records seharga $36,790 setara Rp332-juta itu menggunakan 85% bioetanol atau E85 sebagai bahan bakar.

 

Produsen mobil milik Swedia itu meluncurkan produknya sejak pertengahan Mei 2005 di pasar Eropa. Hingga kini, setidaknya 10.000 mobil telah dipasarkan di Eropa lantaran komitmen terhadap lingkungan. Mobil bertipe biopower itu terbukti menurunkan 50-70% emisi karbondioksida. Harga bahan bakarnya pun 27% lebih rendah daripada harga bensin. Harga bensin US$3 sedangkan E85 hanya US$2,19.

Selain untuk membakar mobilnya, Branson, kelahiran Shamley Gree, Surrey, Inggris, 18 Juli 1950 juga menggunakan E85 untuk 30 pesawat maskapai penerbangan miliknya, Virgin Atlantic Airways. Bahan baku bioetanol diperoleh dari pabrik pengolahan limbah selulosa berbahan baku remah kayu. Pabrik itu akan didirikan dengan investasi US$3-miliar dalam jangka waktu 10 tahun mendatang.

Minyak kacang

Tak hanya Saab yang menggebu menghasilkan wahana berbahan bakar bioetanol. Produsen lainnya adalah Renault dengan E85 flex fuel megane, Volvo dengan C30, S40, dan C50, Ford dengan Focus, Citroen, Fiat, Chevrolet, Hyundai, Peugeot, dan Honda. Mereka mendesain agar mesin harmonis dengan bahan bakar nabati.

Evolusi itu diiringi oleh pemunculan industri bioetanol di berbagai negara. Di Amerika Serikat, peningkatan jumlah pabrik etanol dari 1999 hingga awal 2007, mencapai 100%. Pada 1999, 50 pabrik; 2007 97 pabrik. Produksinya pun meningkat dari 6.464,2-miliar liter per tahun menjadi 17.029.32-miliar liter per tahun.

Jumlah itu jauh dibandingkan awal penemuan bioetanol dunia. Produksi bioetanol pertama kali dilakukan Nikolaus August Otto pada 1876 untuk bahan bakar mesin pembakaran. Lantas, dilanjutkan dengan mobil karya Henry Ford untuk Ford model T. Mobil yang diproduksi pada 1903 itu berbahan bakar minyak kacang.

Sayang, lantaran minyak hasil pengeboran lebih murah, semua mobil diproduksi dengan mengandalkan bensin sebagai bahan bakar. Perkembangan selanjutnya harga minyak fosil meningkat dan jumlah pasokan minyak dunia menipis.Dalam kondisi itu Presiden Amerika Serikat, Geoge W Bush, berharap 75% minyak fosil yang diimpor bisa digantikan bioetanol pada 2025.

Berbagai langkah dan kebijakan dibuat pemerintahan Bush untuk meningkatkan konsumsi bahan bakar etanol. Pada 1990 keluar propaganda Clean Air Act yang mengharuskan bensin mesti memiliki kandungan 2,7% oksigen. Pada 2005 Pusat Energi Amerika Serikat menargetkan jumlah etanol penambah pada bensin mencapai 28,5 juta liter pada 2012. Sejalan dengan itu memberikan dana US$200-juta untuk penelitian dan pemberian kredit industri bioetanol. Subsidi telah diberikan kepada produsen sebanyak US$0,27 per liter.

Usaha itu tak sia-sia. Kini lebih dari 400 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjual bahan bakar E85 dan E10. Volume penjualan 3% etanol dari 140-juta liter bensin yang dikonsumsi setiap tahun.

Kaya sumberdaya

Keberhasilan Brazil menghasilkan bioetanol membuat seluruh dunia bercermin pada Negeri Samba itu. Pada 1973 terjadi krisis minyak. Brazil yang saat itu diperintah Jenderal Emilio Garrastazu Medici tak punya cukup dana untuk impor. Pemerintahnya melirik perkebunan tebu yang melimpah.

Pada 1975 dibuatlah kebijakan Pro Alcool atau program alkohol nasional yang mengharuskan pencampuran bensin dengan alkohol asal limbah industri gula. Kini jumlahnya mencapai 24% etanol tebu berbanding dengan 76% bensin. Program itu berhasil diterapkan pada 10-ribu mobil berbahan bakar bensin. Jumlah itu mengkonsumsi 27.000 liter etanol per hari. Brazil kini bebas dari ketergantungan terhadap minyak asal fosil.

Sebanyak 15-miliar liter bioetanol kini dihasilkan oleh 300 pabrik pengolah gula di Brazil. Pengendara mobil dan motor dapat mengisi tangki dengan etanol 100% murni atau bensin campur etanol 20-25%. Harganya separuh harga bensin pada 30.000 SPBU di seluruh pelosok. Brazil mengembangkan produksi etanol dengan bahan baku tebu dengan biaya terendah yaitu US$14 sen/liter. Sedangkan Thailand dengan tapioka seharga US$18,5 sen/liter, Amerika dengan jagung US$25,5 sen/liter. Bandingkan dengan Eropa yang menggunakan gandum US$42 sen/liter, sedangkan yang menggunakan bit biayanya US$45 sen/liter. Besarnya investasi memang tergantung pada jenis bahan baku, kapasitas, teknologi, dan instalasi pengolahan limbah.

Cina memprogramkan industri etanol melalui perencanaan selama 10 tahun ke belakang. Produksi bioetanolnya mencapai 3,6-miliar liter, yang berarti mengambil 9,5% porsi produksi dunia. Pada 2005 sumberdaya yang digunakan untuk produksi 700-ribu ton: gabah 2-juta ton dan jagung 1,4-juta ton. Sedangkan pada 2006, 4 pabrik pengolahan etanol membutuhkan 3-juta ton gabah dan 2-juta ton jagung. Pemerintahan pusat melihat terjadinya kompetisi antara kebutuhan pangan dan etanol dari bahan baku yang digunakan. Oleh karena itu, pemerintah berusaha mencari bahan baku etanol non-pangan.

Isu lingkungan

Berbeda dengan Amerika Serikat, masyarakat Uni Eropa meningkatkan jumlah produksi etanolnya lantaran isu lingkungan terutama pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh pestisida saat revolusi hijau, aktivitas industri, pembakaran hutan, serta pembakaran BBM. Selama 15 tahun terakhir pemanasan global meningkatkan suhu dan menyebabkan turunnya permukaan salju kutub utara dan es terapung di Laut Artik. Selain itu permukaan air laut mengalami kenaikan 14-20 cm selama satu abad terakhir.

Negara-negara di Eropa berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca melalui penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Gasohol E10 terbukti menurunkan pencemaran emisi gas rumah kaca sebesar 19%. Yang paling banyak menggunakannya Perancis, Spanyol, Jerman, Polandia, dan Italia. Secara keseluruhan produksinya mencapai 2,5-miliar liter atau 6,5 persen dari total produksi bioetanol dunia. Bahan bakunya berasal dari gandum, jagung, gula bit, anggur, dan terigu.

Kini seluruh negara berlomba menghasilkan bioetanol. Bagaimana dengan Indonesia? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Februari 2007 silam saat meninjau pabrik bioetanol di Bandar Mataram, Lampung Tengah, mengatakan dalam 3-5 tahun ke depan produksi bioetanol ditargetkan 150-juta liter per tahun berbahan baku singkong atau tebu. Dengan begitu Indonesia bisa ikut menyelamatkan jagad raya dengan mengurangi emisi bahan bakar. (Vina Fitriani).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img