Monday, August 8, 2022

Mochammad Yusuf Singkap Rahasia Pengobatan Kitab Tua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

“Pakailah dia (Naufa Zahra, red) sebagai percobaan. Meski dia minum obat dan meninggal, tak masalah. Siapa tahu percobaan itu kelak bermanfaat,” ujar orang tua pasien kepada Yusuf.

Sebelumnya Naufa Zahra berobat ke berbagai dokter. Sayang, kesembuhan baginya ibarat jauh api dari panggang. Kanker payudara yang dideritanya kian parah. Orang tua pasien—pejabat di Kabupaten Sukabumi—menaruh harapan pada Yusuf yang pernah belajar akupunktur. Saat itu Yusuf sama sekali tak berpengalaman menangani penderita kanker.

Mendapat kepercayaan itu Mochammad Yusuf teringat kitab pengobatan kuno. Meski kertas tampak menguning, huruf-huruf Cina di setiap lembar masih terbaca jelas. Dengan tekun Yusuf membaca halaman demi halaman. Berhari-hari ia mengurung diri dalam kamar. Kerap kali istrinya, Pupun Suminarti, mengetuk pintu. Ia mengingatkan makan malam sudah terhidang.

Sering pula hingga dinihari Yusuf mencari ramuan warisan nenek moyang dari kitab tua. Itulah sebabnya saat menemukan sebuah racikan herbal untuk mengatasi kanker, sulung 2 bersaudara itu amat bahagia. Kitab tua itu menyebutkan, membunuh sel kanker di sarangnya. Setelah menemukan ramuan itu ia merasa tertantang untuk menyembuhkan Naufa. Resep yang terdiri dari 6 simplisia itu—antara lain rumput lidah ular dan buah makassar—kemudian diberikan kepada pasien.

Ke Cina

Karena kanker kian parah, Yusuf meningkatkan dosis. Dari yang mestinya 5 g, ia memberikan 30 g. Hanya beberapa hari nyeri yang dirasakan Naufa hilang sama sekali. Setelah setahun rutin mengkonsumsi ramuan warisan leluhur, perempuan 27 tahun itu sembuh. Itu dipastikan dengan hasil pengecekan di sebuah rumah sakit. Betapa sukacitanya keluarga Naufa. Keberhasilan Yusuf menangani pasien pertama menjadi buah bibir. Malahan pria yang mengenyam pendidikan elektronik itu menjadi langganan keluarga Naufa.

Peristiwa pada 1980 itu menjadi titik tolak kiprah sinshe Yusuf di bidang pengobatan cina. Ayah 3 anak itu tergerak untuk mengecek kandungan bahan baku obat tradisional. Sayang, ia terhambat birokrasi. Jalan lain ditempuh dengan menghubungi Kedutaan Besar Cina di Jakarta. Dewi Fortuna seperti berpihak padanya. Ia disarankan untuk mengecek bahan itu di Guangdong Provincial Hospital, Cina Selatan.

Dengan penuh harap Yusuf terbang ke Guandong (baca: Kuangtong, red) sambil membawa sampel. Hanya dalam waktu sehari kandungan obat tradisional itu sudah diketahui. Paramedis di rumah sakit pemerintah itu takjub atas penemuan ramuan untuk mengatasi kanker. Sebab, mereka tahu ramuan itu bersumber dari budaya Cina, tetapi justru “ditemukan” di Indonesia. Saat itu juga Yusuf ditawari untuk bekerja di rumah sakit yang biasa memberikan resep herbal kepada pasien.

Akupunktur

Kesempatan untuk belajar pengobatan herbal itu tak disia-siakan. Di Guangdong Provincial Hospital, Yusuf bergabung dengan 11 dokter untuk menangani pasisen. Menurut Yusuf timnya banyak menuai keberhasilan dalam menangani pasien. Di sana hobiis bonsai itu tak hanya bekerja, tetapi juga belajar pengobatan ala Cina.

Selama bekerja di Guangdong, ia memang kerap pulang ke Sukabumi. Meski tengah berlibur selama sebulan ia tetap menerima pasien. Tiga tahun setelah bekerja di Cina, pria paruh baya itu menyimpan kerinduan untuk pulang ke tanah air. Yusuf ibarat bangau yang terbang jauh dan rindu kubangan. “Tak mungkin selamanya saya di sana (Guangdong, red). Keluarga saya ada di sini (Sukabumi, red),” katanya. Direktur rumah sakit, Lo Yu Bu, dengan berat hati melepas kepergian Yusuf.

Tiba di tanah air, Yusuf memutuskan untuk membuka klinik pengobatan Citra Insani pada 20 Januari 1990. Selain pengalaman mengobati di Cina dan panduan kitab kuno, ia juga pernah belajar akupunktur pada 1970-an. Ia tertarik akupunktur lantaran sembuh dari sakit lemas yang kerap disertai pingsan. Diagnosis dokter beragam, karena stres, infeksi, dan jantung.

Oleh seorang teman kaki dan tangan ditusuk jarum. Dengan jalan itu keluhan sakit tak pernah terulang. Karena itulah Yusuf tertarik belajar akupunktur pada Mr Tjia di Kramat, Jakarta Pusat. Selama setahun ia mendalami titik akupunktur, teori qi (artinya udara), teori lima unsur, dan yin yang.

Pasien buangan

Awalnya Yusuf memang mendapat banyak cibiran dari dokter soal keampuhan pengobatan yang diterapkan. Meski demikian pria humoris itu tak hirau. Ia konsisten dengan pengobatan komplementer—memadukan diagnosis secara medis dan herbal. Faktanya, pasiennya terus berdatangan dari berbagai penjuru tanah air, dari Aceh sampai Papua.

Pasien-pasien yang berobat umumnya “buangan” dari rumah sakit-rumah sakit. Harap mafhum, penyakit yang diidap pasien umumnya kronis. Reso Warsito, contohnya. Penderita kanker kelenjar itu sudah menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Jawa Tengah. Namun, sepekan kemudian sel kanker tumbuh di beberapa bagian tubuh. Sejak 23 Januari 2004 atas saran anaknya, ia berobat di Klinik Citra Insani.

Ketika ditemui Trubus di kamar klinik, ia tampak segar. “Sekarang sudah bisa tidur nyenyak. Benjolan di tubuh juga sudah hilang,” ujar pria asal Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, itu. Padahal, saat pertama kali datang di klinik Reso nyaris tak dapat memejamkan mata. Dioperasi? Yusuf sama sekali tak mengoperasi pria 52 tahun itu. Hanya ramuan herbal yang diberikan, antara lain ekstrak buah makassar Brucea javanica.

Antre

Kemujaraban pengobatan herbal itu berdampak positif. Tak berlebihan bila kadang-kadang pasien antre. Soalnya, Yusuf hanya menyediakan 8 kamar di Cikiray dan 5 kamar di Selabintana—keduanya di Sukabumi. Medio April 2004 tercatat 5 pasien yang menunggu giliran untuk ditangani lantaran seluruh kamar di Cikiray terisi penuh. Di setiap klinik Yusuf menempatkan 2 dokter yang akan mendiagnosis penyakit pasien.

Sedangkan tugas meracik obat masih ditangani Yusuf. Tatyou—nama kecil Yusuf—menempatkan semua bahan ramuan di stoples yang berjajar rapi mengelilingi dinding sebuah kamar. Setidaknya tercatat 300 herbal yang dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai penyakit. Aroma menyegarkan segera tercium dari apotek itu. Di sanalah Yusuf meramu obat yang ditelisik dari kitab kuno demi kesembuhan pasien. (Sardi Duryatmo)

Kini di Lemari Kaca

Semula kitab-kitab tua itu hanya teronggok di gudang rumah Mochammad Yusuf di bilangan Selabintana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Wajar jika sampul tebalnya berdebu. Padahal dulu orang tuanya kerap berpesan agar ia mempelajari buku itu. Sayang, Mochammad Yusuf sama sekali tak tergerak.

Barulah setelah orang tua Naufa Zahra—penderita kanker payudara—minta tolong, Yusuf berhari-hari mempelajarinya. Ayah 3 anak itu mempunyai 4 kitab tua. Ukuran masing-masing sekitar 20 cm x 10 cm dengan ketebalan 15 cm. Semua kitab menggunakan huruf dan bahasa Cina. Sebuah kitab berjudul Tanya Jawab Sepuluh Ribu Penyakit berisi jenis-jenis penyakit, penyebab, dan ramuan herbal untuk mengatasinya.

Dalam kitab-kitab itu tak semua informasi pengobatan dijelaskan dengan terang-terangan. Kerap kali malah ditulis dalam bentuk karya sastra berupa puisi dan dongeng. Kitab lain mengungkap anatomi tubuh dan cara kerja. Kitab-kitab tua itu merupakan warisan orang tuanya.

Pada 1919 orang tua Yusuf—pasangan Yun Yung dan Pit Nio Sim—meninggalkan Cina. Hingga sekarang Yusuf terus mempelajari kitab berumur ratusan tahun itu. Sebab isinya tetap relevan untuk mengatasi beragam penyakit. Wajar bila kitab itu tak lagi teronggok di gudang, ia disimpan di almari kaca. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img