Friday, December 2, 2022

Momoa Mampir di Haruku

Rekomendasi

Ratusan momoa datang setiap malam di Pulau Haruku. Mereka satu-satunya burung yang  mengubur telur di dalam pasir pada malam hari.

Senja hampir menghampiri Tanjungmaleo di Pulau Haruku, 30-40 menit berkapal cepat dari Pulau Ambon, Provinsi Maluku. Namun, berdiri di padang pasir Pulau Haruku keringat mengalir deras. Sang surya masih menyisakan panas menyengat. Padang pasir empat kali lapangan voli itu hanya berjarak 100 meter dari pantai. Beragam tanaman seperti nyamplung, bintaro, pulai membentuk sabuk hijau-total 1,5 ha-sekaligus pembatas antara padang pasir dan pantai. Di Tanjungmaleo terdapat tiga kawasan padang pasir dengan luas masing-masing relatif sama. Beragam pepohonan menjadi pembatas antarpadang pasir.

Dari bawah pasir itulah, seekor momoa Eulipoa wallacei berlari sekencang-kencangnya menuju hutan. Dari bawah pasir? Induk momoa memang meletakkan sebutir telur di kedalaman hingga satu meter di bawah pasir. Rombongan burung itu-jumlahnya hingga ratusan ekor-datang ketika malam tiba. “Ketika datang, suaranya bergemuruh,” kata Raja Negeri atau Kepala Desa Kailolo, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Azhar Ohorella. Burung-burung itu bersuara kek… kek… atau kuk… kuk… berulang-ulang.

Ahli burung dari Rotterdam, Belanda, yang pernah meriset momoa di Haruku, CJ Heij, mengisahkan, “Burung bergerak beberapa langkah, ke arah kanan dan kiri, berhenti dan melihat ke sekeliling. Ia membuat lubang dengan kaki kanan dan kiri. Dalam waktu sekitar dua menit, hewan itu dapat berada di bawah pasir.” Biasanya burung jantan bergantian menggali lubang dengan sang betina. Namun, kadang-kadang hanya betina yang menggali.

Jika burung monogami itu menganggap suasana tak aman, mereka akan terbang ke dahan pohon, lalu menggali lagi saat aman. Ohorella mengatakan, ketika malam purnama yang benderang, burung-burung itu biasanya lebih lama menggali sarang karena ubang galian cenderung lebih dalam. Namun, pada malam-malam gelap, momoa lebih cepat menggali dan segera bertelur. Itu karena pada malam purnama, burung lebih mudah mengawasi predator, sedangkan saat gelap, mereka terburu-buru menggali dan bertelur karena lebih sulit memantau predator seperti soa-soa, ular patolla Boiga irregularis, dan kucing liar Felis sp.

Aktivitas membuat sarang itu memang berlangsung pada malam hari, pukul 21.00 hingga dinihari. Ahli burung dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Ir Dewi M Prawiradilaga MSc PhD, mengatakan perilaku bertelur burung-burung anggota keluarga Megapodiidae memang khas, yakni membuat galian dan mengubur telur dalam pasir. Spesies lain seperti maleo Macrochepalon maleo, misalnya, kerap kali menimbun telur dalam sebuah gundukan serasah setinggi manusia dewasa.

Momoa maupun maleo memang tak pernah membuat sarang di pepohonan sebagaimana lazimnya burung. Doktor Ekologi alumnus Australia National University itu mengatakan, satwa anggota keluarga Megapodiidae itu disebut burung gosong. Indonesia memiliki 15 spesies burung gosong. Dewi menduga sebutan gosong itu karena warna bulu-bulu mereka cenderung  gelap atau mirip barang yang gosong.

Meski bertelur di Haruku, masyarakat setempat hampir tak pernah melihat momoa di hutan dan sekitarnya. Menurut  Ir AA Tuhumury MS dari Universitas Pattimura, tempat bersarang atau bertelur berbeda dengan lokasi mencari makan. Tempat mencari pakan momoa bukan di persarangan, tetapi di hutan tropis dataran rendah. Namun, jika di lokasi peneluran tersedia pakan, maka maleo akan mencari makan. Momoa termasuk pemakan segala seperti buah-buahan, biji-bijian, serangga, siput, dan kepiting.

Masyarakat Kailolo menyebut momoa itu maleo. Padahal, antara momoa dan maleo dua spesies berbeda. Dwi Mulyawati dari Burung Indonesia-lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada kelestarian burung-mengatakan  masyarakat menyebut maleo untuk semua jenis Megapodiidae. Nama famili itu bermakna kaki besar (dalam bahasa Yunani, mega berarti besar, poda berarti kaki). Di antara anggota famili itu, hanya momoa yang bertelur pada malam hari, jenis-jenis lain bertelur pada siang hari. Betina momoa Eulipoa wallacei meletakkan sebutir telur di sebuah lubang.

Nama ilmiah itu pemberian ahli burung dari Skotlandia, William Robert Ogilvie Grant pada 1893. Semula momoa menyandang nama ilmiah Megapodius wallacei-nama pemberian George Robert Gray-selama 33 tahun. Gray memberi nama itu untuk menghormati ahli biologi Alfred Russel Wallace yang pertama kali menemukan burung nokturnal itu di Pulau Halmahera pada 1858.

Dwi Mulyawati mengatakan induk momoa bertelur di daerah yang menyimpan panas. Panas pasirlah yang “mengerami” telur itu selama 98 hari hingga menetas. Begitu lahir dalam kesenyapan di bawah pasir itu, momoa kecil langsung menjadi yatim piatu. Ia tak mengenal wajah ayah dan ibu (baca: Tanpa Kasih Ibu halaman 98-99). Setelah bertelur, induk tak pernah menengok calon anaknya. Itulah sebabnya Dewi Prawiradilaga menyebut momoa sebagai burung modern. Sebab, anak-anak burung gosong itu tak memerlukan asuhan dari induk. Begitu lahir, mereka menjadi burung yang mandiri.

Menjelang senja di Tanjungmaleo nan molek itu, seekor soa-soa Hydrosaurus amboinensis memburu momoa. Soa-soa-sejenis biawak-menggigit kaki momoa. Burung berbulu kelabu itu akhirnya selamat ketika beberapa warga setempat yang menemani wartawan Trubus meliput, mengejar soa-soa dan melepaskan gigitan itu. Betapa beratnya perjuangan burung gosong untuk bertahan hidup. Momoa itu hanya sebagian kecil yang berhasil menetas di Tanjungmaleo. Menurut Heij, persentase telur menetas tak lebih dari 10% (lihat ilustrasi).

Azhar Ohorella mengatakan dari area itu pengumpul telur mengambil 100-200 butir per hari. Bahkan, ketika musim barat bertepatan September-Desember, pengumpul mampu mengambil hingga 500-600 butir setiap hari. Hingga kini jumlah dan interval bertelur momoa belum diketahui. Sore itu Suaib Marasabessy menggali pasir hingga kedalaman semeter. Keringat membasahi sekujur tubuh pria itu. Ia paham betul lokasi peneluran momoa, meski induk membuat tipuan. Setelah mengambil sebutir telur di dasar lubang, ia menutup kembali dengan pasir putih hingga rata begitu seterusnya hingga ratusan telur terkumpul.

Siapa berhak menjadi pengumpul telur? Kepala Desa Kailolo melelang hak menjadi pengumpul selama setahun setiap 31 Maret. Pada tahun ini Ibrahim Tuasamu memegang hak itu setelah menang lelang dengan bayaran tertinggi, yakni Rp22,5-juta. Nilai lelang itu lebih tinggi daripada tahun sebelumnya yang Rp16-juta, Rp11.100.000 (2001), dan Rp6.500.000 (1998). Hingga 31 Maret 2013, Ibrahim Tuasamu akan mengumpulkan telur-telur momoa di Tanjungmaleo dan berhak menjual. Saat ini harga sebutir telur momoa di Haruku hanya Rp1.500 meningkat dari Rp500 pada 2001.

Pengumpul menjual telur-telur momoa itu di Kailolo. Warga setempat membeli telur jumbo berukuran 2 kali telur ayam itu untuk konsumsi sehari-hari. Namun, pernah juga,”Telur dibuang ke laut karena tak terbeli (produksi melimpah),” kata Ohorella. Masyarakat Kailolo menggoreng telur berbobot hingga 110 gram dan 70% berupa kuning telur itu untuk lauk.

Menurut Ohorella uang lelang untuk pembangunan desa dan perawatan masjid. “Pemenang lelang tak pernah rugi. Tender Rp10-juta, untung bisa dobel,” kata Ohorella. Artinya, jika pemenang lelang membayar Rp10-juta, biasanya untungnya pun Rp10-juta. Selama ini memang pemenang lelang tak pernah rugi. Menurut Ohorella sistem lelang seperti itu berlangsung sejak ratusan tahun silam. Kakek-kakeknya dahulu bercerita soal lelang itu.

Ohorella yang menjabat raja negeri baru setahun mengatakan di Desa Kailolo terdiri atas 4.500 jiwa tak pernah terjadi pencurian telur meski lokasi peneluran tak pernah dijaga. Begitu juga hutan yang menjadi sabuk hijau di tepian pantai tetap terjaga. Walau bertahun-tahun, pengumpul mengambil telur-telur momoa, tetapi produksi tak pernah turun. Selain itu induk betina yang bertelur juga tetap banyak. Dewi Prawiradilaga menduga induk-induk momoa kemungkinan juga bertelur di area lain.

Dengan demikian populasi momoa di Haruku tetap terjaga. Jika momoa hanya bertelur di Desa Kailolo dan pengumpul terus mengambil, tentulah populasi momoa kian menipis. Ohorella pernah mengajak sebuah lembaga pemerintah untuk mengkonservasi momoa di Haruku. Ia meniadakan lelang pada tahun tertentu sehingga telur-telur di bawah pasir itu menetas. Syaratnya instansi itu memberikan dana sebagai pengganti biaya lelang.

Dewi Prawiradilaga juga menyarankan hal serupa untuk menjaga populasi burung gosong itu. “Harus ada jeda telur-telur tak dipanen, setahun misalnya, agar populasi momoa terjaga,” kata Dewi. Sayang, ide itu belum terwujud. Padahal, jika terlaksana populasi meningkat, jumlah telur pun berlipat. Yang pasti  suasana malam di Haruku kian riuh dengan kehadiran momoa. (Sardi Duryatmo)

 

“Saya pernah mengajak sebuah lembaga pemerintah untuk melakukan konservasi momoa dengan cara meniadakan lelang pada tahun tertentu sehingga telur-telur di bawah pasir itu menetas,” kata Raja Negeri atau Kepala Desa Kailolo, Kecamatan Pulau Haruku, Azhar Ohorella

 

Terlindungi Rimba

Menggali Pasir Tanjungmaleo

Momoa Eulipoa wallacei satu-satunya burung gosong yang bertelur pada malam hari. Mengapa spesies itu menanti malam untuk bertelur? Menurut ahli burung dari Rotterdam, Belanda, yang meriset momoa di Haruku, Provinsi Maluku, CJ Heij, itu merupakan evolusi untuk menghindari pemangsa. Menurut Heij, setidaknya terdapat 16 pemangsa momoa yang mengincar telur, anak, hingga burung dewasa. Bahkan, pada malam hari sekalipun ternyata tak bebas predator.

Padahal, induk momoa berupaya keras menyelamatkan calon generasi penerus itu. Burung anggota famili Megapodiidae itu membuat sarang tipuan di sisi sarang yang sebenarnya. Tujuannya untuk mengelabui predator. Bukan hanya satu, kadang-kadang induk momoa  membuat 3-4 buah sarang tipuan. Namun, sepandai-pandai momoa “menipu” akhirnya ketahuan juga. Penggali sarang di Tanjungmaleo, Pulau Haruku, Suaib Marasabessy, hafal betul sarang yang sebenarnya.

Mula-mula ia berjalan di tepian lokasi peneluran, lalu mengamati permukaan pasir putih itu. Setelah memastikan sarang momoa, ia jongkok dan menggali dengan kedua tangan. Ketika lubang kian dalam, hingga 100 cm, ia pun berbaring untuk mengambil telur di dasar sarang. Pada umumnya setiap sarang hanya terdapat sebutir telur. Namun, kadang-kadang, terdapat dua butir di sebuah sarang momoa. Dalam sehari ia biasanya dua kali menggali ratusan sarang pada pagi dan sore hari. (Sardi Duryatmo)

Keterangan Foto :

  1. Panorama Tanjungmaleo di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah
  2. Perbandingan antara telur momoa (kiri) dan ayam. Telur-telur momoa yang terkumpul, 70% berupa kuning telur
  3. Momoa Eulopia wallacei anakan
  4. Momoa Eulopia wallacei dewasa
  5. Masyarakat Haruku memanfaatkan telur momoa untuk lauk-pauk
  6. CJ Heij (berkaos putih) ketika meriset momoa di Pulau Haruku
  7. Ir Dewi M Prawiradilaga MSc PhD, ahli burung dari Pusat Penelitian Biologi LIPI
  8. Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, lokasi peneluran momoa terbesar. Selain di Haruku, momoa juga berteleur di Seram dan Pombo.

Previous articleTanpa Kasih Ibu
Next article10 Hari Panen Jamur Merang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img