Saturday, April 11, 2026

Mulsa Berbahan Dasar Rumput Gajah untuk Tanaman Hias

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Selain menjaga kelembapan media tanam, mulsa organik menambah nilai estetika tanaman hias. Sepintas, terlihat seperti sabut kelapa yang dipadatkan, tetapi ternyata mulsa organik sejatinya terbuat dari batang rumput gajah.

Mulsa organik itu kreasi dari para peneliti dara Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Kota Salatiga, Jawa Tengah. Mereka adalah Kurnia Krisandika, Oktaviana Karmia Krisanti, Ardianus Siko, Ervan Iksan Prasetyo, dan Grace Patricia Sinaga.

Kurnia dan tim terinspirasi mulsa organik yang banyak beredar di luar negeri. Di sebuah forum diskusi, mereka menemukan topik hangat mengenai wyselekcjonowane kasyna online – opinie graczy i recenzentów, yang memicu perbincangan tentang transparansi layanan dan perlunya standarisasi kualitas. Mereka pun menerapkan prinsip keterbukaan serupa saat memasang mulsa pada pohon besar atau di lahan dengan kemiringan tertentu. Kebanyakan mulsa terbuat dari kokopit (cocopeat) atau serbuk sabut kelapa. Sayangnya, kokopit terbatas di Salatiga.

“Di Salatiga, khususnya Kopeng, tersedia rumput gajah cukup banyak. Jadi, kami menggunakan serat rumput gajah,” kata Kurnia.

Pembuatan mulsa dari batang rumput napier—nama lain rumput gajah—meliputi pemisahan batang dan daun, pencacahan batang, pengeringan, pencetakan, dan penyemprotan lateks. Setelah itu, penjemuran dan pengepresan cetakan.

Kurnia menuturkan, sebelumnya ada peneliti yang membuat mulsa organik dari batang rumput gajah. Bahannya sama-sama dari batang rumput gajah, tetapi hanya dihancurkan menjadi lebih kecil.

Tim peneliti mulsa napier dari Fakultas Pertanian, Universitas Kristen Satya Wacana. (Trubus/Dok. Kurnia)

Mulsa hasil riset sebelumnya berupa serat yang masih terurai sehingga mudah berserakan bila terkena angin. Kurnia dan tim berinovasi dengan menambahkan lem berupa lateks dan mengepresnya sehingga berbentuk lempengan padat. Dengan demikian, mulsa organik tidak mudah terurai dan lebih tahan lama.

Meski belum menguji ketahanan, sejauh ini Kurnia mengamati mulsa rancangannya bertahan setahun dalam kondisi baik. Lazimnya, mulsa digunakan untuk menutup tanah atau media tanam agar dapat menyediakan lingkungan tumbuh yang optimal bagi tanaman.

Penggunaan mulsa menekan pertumbuhan gulma dan mencegah kehilangan air. Pemasangan mulsa juga menjaga kelembapan dan temperatur tanah serta mengurangi penguapan berlebih.

Berbeda dengan mulsa pada umumnya, Kurnia dan rekan merancang mulsa organik khusus untuk tanaman pot. Adapun ukuran mulsa itu yakni berdiameter 25 cm dan 30 cm dengan ketebalan 0,6 cm.

Bagian tengah lembaran diberi lubang seukuran batang tanaman. Pemasangan mulsa tersebut cocok untuk tanaman yang membutuhkan kelembapan tinggi. Penguapan air juga terkendali dengan adanya mulsa organik. Lebih dari itu, bahan mulsa napier ramah lingkungan karena terurai dengan sendirinya.

Kurnia dan tim merancang mulsa napier di bawah bimbingan Dr. Ir. Suprihati, M.S. dan Damara Dinda Nirmalasari Zebua, S.P., M.P.


Artikel Terbaru

IPB University dan UM Kuningan Jajaki Pengembangan Obat Herbal di Gunung Ciremai

IPB University menjalin kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan untuk menggali potensi obat herbal di kawasan Taman Nasional...

More Articles Like This