Thursday, August 18, 2022

Murbei dan Ekonomi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Lagi pula, ulat sutera murbei Bombyx mori itu sudah memberikan harapan akan menghasilkan kokon warna-warni. Bukan hanya kuning (seperti umumnya); tapi juga biru, hijau muda, putih, oranye dan ungu. Sekarang sebagian besar mati, mengenaskan, dimangsa ribuan semut. Itulah hama nomor satu bagi petani ulat sutera, selain tikus, burung, dan cecak.

Belum ada petunjuk bahwa untuk memelihara ulat sutera perlu rumah yang bersih, disemprot formalin dan desinfektan. Kelembapannya harus dijaga dengan karung-karung basah, dan seterusnya. Balai benih dan pusat-pusat pelayanan pengembangan ulat sutera belum menjamur seperti sekarang.

Sekarang, pemelihara ulat sutera sudah berkembang di mana-mana. Kalau kita baca di situs BDSP (Business Development Service Provider), di Kabupaten Bogor, Ciamis, Tasikmalaya, dan seputarnya saja puluhan lembaga berurusan dengan ulat sutera. Ada Koperasi Petani Pengrajin Ulat Sutera (Koppus) Sabilulungan. Ada Pengrajin Sutera Priyangan, Persuteraan Cibeureum, dan puluhan lagi. Semua berdedikasi tinggi. Ada yang baru aktif setelah 2000-an. Namun, ada juga yang berpengalaman sejak 1970-an.

Bahkan ada yang lebih berpengalaman lagi, seperti industri sutera alam yang dipelopori oleh Aman Sahuri, di Garut sejak 1961. Sekarang usaha itu berkembang, menampung lebih dari seratus karyawan dan menghasilkan sekitar 5.000 meter kain sutera dalam sebulan. Tanpa didukung petani yang ulet dan berproduksi rutin, mustahil perusahaan dengan peralatan yang cukup lengkap itu bisa memasok produknya ke Bandung, Jakarta, bahkan Bali. Jangan lupa, ia hanya salah satu di antara hampir seratus lembaga yang terkait dengan persuteraan di Indonesia.

Daerah-daerah beriklim lembap, termasuk Temanggung (Jawa Tengah), Soppeng dan Bili-bili (Sulawesi Selatan) terkenal penghasil ulat sutera sampai sekarang. Sejarah menunjukkan, sudah lama ulat sutera tidak hanya penting bagi perekonomian negara besar (India, China, Jepang) tapi juga petani kecil di pedesaan.

Berapa nilai ekonomi satu kilogram sutera mentah? Harga normal berkisar antara Rp25.000 sampai Rp 30.000. Namun, kalau anjlok bisa tinggal Rp17.500. Itu terjadi akibat serangan virus pebrine, yang membuat peternakan ulat sutera di Bandung terpuruk awal 2005. Akibatnya? Industri sutera di Jawa Barat jadi semakin tergantung pada bahan mentah dari Cina. Harga benang sutera olahan impor bisa Rp310.000 per kilogram. Sedangkan benang sutera olahan kepompong lokal hanya Rp240.000.

Meskipun begitu, cukup menggiurkan petani. Hitung saja, dengan modal satu box berisi 25.000 telur benih berharga Rp60.000 dalam waktu 25—32 hari petani dapat memanen hingga 20 kg kepompong sutera mentah. Tidak perlu lahan luas. Cukup 20 – 50 meter persegi. Pakan yang diperlukan sekitar 700 kg daun murbei segar. Bila pemeliharaannya baik, menurut Rudi Wahyudin, pakar agrotek dari Institut Pertanian Bogor (IPB), panen bisa ditingkatkan hingga 40 kg. Tergantung pada bibit, pakan, cuaca, dan konstruksi rumahnya. Nah, rumah untuk ulat inilah yang perlu modal. Satu rumah ulat, idealnya perlu biaya Rp20 juta.

Itulah kendala umum yang dihadapi oleh petani kecil, seperti Kelompok Peternak Ulat Batu Tilu, di Kabupaten Bandung, yang menjadi berita besar di harian Kompas, akhir Januari 2005. Padahal, peternakan ulat sutera sesungguhnya multiguna. Ia bisa berfungsi ekologis – melestarikan alam dan industri ramah lingkungan. Bisa juga bernilai ekonomis dan sekaligus sosio-kultural. Kain sutera membuka kegiatan sosial bernilai budaya tinggi dan berdampak langsung pada kesehatan. Serat sutera bersifat higroskopis, menghalangi terpaan sinar ultraviolet, menjaga kekenyalan kulit, dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik maupun industri pengobatan.

Teh murbei dan ekologi

Penulis diktat Budidaya Ulat Sutera, Mien Kaomini, mengingatkan, perkebunan murbei juga memberikan produk sampingan yang bernilai ekonomi maupun ekologi. Pertama murbei mengandung banyak bioaktif sehingga dapat digunakan sebagai obat alternatif berupa teh daun murbei. Kedua: buahnya dapat dikonsumsi. Sedangkan ketiga: batangnya dapat digunakan untuk media bertanam jamur. Menurut aktifis Kelompok Peneliti Persuteraan dari Bogor itu, limbah peternakan sutera dapat diproses menjadi hasil ikutan antara lain klorofi l dari kotoran ulat, serbuk larva, protein pupa, serbuk sutera.

Jadi produk pertama adalah daun, buah dan kayu murbei. Di Nepal, pemerintah mendistribusikan bibit murbei sebagai langkah pertama untuk mengembangkan industri sutera. Dalam tahun 2004; misalnya, tidak kurang satu juta bibit murbei dibagikan di seluruh negeri, guna mengejar target produksi 6.000 kg kokon atau kepompong. Para petani di lereng Himalaya itu percaya bahwa budidaya ulat sutera sangat cocok di lahan-lahan terjal. Jangan heran kalau 180 petani dengan 9 perkebunan murbei dapat menghasilkan 600 kg sutera mentah dalam setahun.

Thailand juga menggunakan perkebunan dan penenunan sutera rakyat sebagai atraksi pariwisata. Pada akhir November hingga awal Desember biasa diadakan festival sutera di desa-desa yang menghasilkan kepompong. Begitu juga di Vietnam. Peternakan ulat sutera, relatif tidak memerlukan tempat luas. Kandang ulat yang terdiri dari lembar-lembar bambu dapat disusun. Wisatawan bisa menikmati mulai dari pemeliharaan sampai proses produksi, pemintalan benang dan penenunan kainnya.

Masalahnya di Indonesia, lahan murbei belum cukup tersedia, bibit ulat sudah berlimpah. Akibatnya ulat menetas dan kurang pakan. Setiap satu boks telur ulat, paling sedikit perlu 50 meter persegi kebun murbei. Dan itu harus ditanam dulu. Kalau ulat kurang pakan, lama sekali baru mau bikin kepompong. Yang biasanya 25 hari sudah memintal benang kepompong, bisa jadi 40 hari. Hasilnya pun tipis dan tidak optimal. Jadi, kebun murbei perlu dikembangkan, sekaligus sebagai sarana penghijauan di tebing-tebing sungai. Itulah yang membuat industri ulat sutera di Temanggung berjalan kencang.

Pohon murbei yang bernama latin Morus alba L dan Mandarin, sang ye, tidak hanya disukai ulat sutera, tapi juga bermanfaat bagi manusia. Daun mudanya enak disayur, berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi, memperbanyak susu ibu, membuat penglihatan lebih terang, dan meluruhkan kentut. Buahnya, dalam bahasa Mandarin disebut sang shen, bermanfaat untuk memperkuat ginjal dan meningkatkan sirkulasi darah. Paling praktis, buah murbei adalah pencahar, untuk menghilangkan sembelit dan mengatasi gangguan pencernaan. Di Tiongkok, orang percaya buah murbei dapat mempertajam pendengaran.

Kulit pohon murbei juga biasa dijadikan obat. Nama Chinanya sang pei pi, dapat mengobati penyakit asma, sesak napas, muka bengkak dan batuk. Begitu menurut Sinshe Chang, yang membuka toko obat tradisional di Pekalongan, Purwokerto, Tegal, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah. Ia juga memberikan resep, daun murbei dapat dipakai obat kalau kita digigit serangga, atau ditumbuk halus, dipopokkan pada luka. Akarnya bisa direbus untuk penawar demam.

Di Jawa Tengah, pohon murbei, banyak ditanam di Temanggung dan Jepara. Tingginya, maksimal bisa mencapai 9 meter. Bagi banyak orang, tanaman dari Tiongkok ini bisa tampak sebagai perdu, semak-semak, atau sekadar pagar. Namun, di Ithaca, New York, Amerika Serikat, saya pernah melihat dan memanjat pohon murbei yang sudah berumur 150-an tahun. Mulberry itu tidak terlalu tinggi, tapi pokoknya hampir sebesar pelukan orang dewasa. Buahnya banyak sekali. Pemiliknya seorang indonesianis terkemuka, Benedict Anderson!

Pohon itu memberi inspirasi bahwa kalau dipelihara dengan baik dan tidak ditebang, murbei pun bisa besar dan indah. Selama ini cukup banyak pohon mengkerdilkan diri supaya bisa tumbuh selamat di Pulau Jawa. Sekadar contoh adalah pohon bunga soka. Kebanyakan kita hanya melihatnya sebagai perdu, kecil, untuk pagar, yang digunting rutin pada ketinggian satu atau setengah meter. Padahal, menurut tokoh lingkungan terkenal, Suryo Prawiroatmodjo, pohon bunga soka yang berumur ratusan tahunbisa mencapai 20 meter, dan berbatang besar.

Masalahnya, banyak hal secara sengaja telah dikerdilkan. Potensi industri ulat sutera semestinya besar. Apalagi bila menyangkut budaya selendang sutera, batik sutera, benang sutera, dan lain-lain, yang pengrajinnya meluas di berbagai perdesaan. Namun, karena persepsi yang kurang pas dalam melihat pohon murbei, faktor ekologi kurang diperhatikan. Padahal kondisi ekologi yang tepat adalah modal awal dari segalanya. Inilah inti permasalahan dalam refl eksi agribisnis kita. Meningkatnya jumlah penduduk, yang diikuti oleh meledaknya kebutuhan pangan dan sandang, memerlukan pendukung ekologi yang memadai.

Murbei mungkin tidak pernah menjadi primadona seperti pohon buah merah yang sedang berkibar sebagai berita. Namun, potensinya sebagai bahan farmasi, tidak boleh diabaikan. Demikian juga buahnya, dan terutama produk sampingannya: ulat sutera. Kalau saja produksi kain sutera mencukupi, harga kain batik dan baju bodo pun tidak perlu melambung-lambung sampai berjuta-juta rupiah, dan sukar didapat.

Terlepas dari fokus kita pada cattleya dan euphorbia yang sedang ngetren, sudah waktunya kita memperhatikan hal-hal yang nyaris terlupakan itu dengan lebih seksama. Sehingga agribisnis Indonesia tidak hanyut dari mode yang satu ke mode lainnya. Padahal banyak alternatif tetap bisa dikembangkan sepanjang musim. Majulah industri ulat sutera Indonesia! ***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img