Thursday, December 8, 2022

Murnikan Minyak Terbang

Rekomendasi

 

Biang kerok rendahnya harga minyak itu karena minyak Pogostemon cablin sulingan Dharmawan berwarna cokelat kehitaman. Padahal, para pengepul mencari minyak berwarna kuning muda. Akibatnya, jerih payah menyuling berjam-jam itu tidak mendatangkan untung. Sukron, bukan nama sebenarnya, mengalami nasib serupa. Penyuling minyak cengkih di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu menghasilkan 50 kg minyak cengkih, berwarna hitam kecokelatan dan kotor. Meski ia menurunkan harga jual 10%, tetap saja tak ada pengepul berminat. Maklum, minyak berkualitas rendah itu hanya dihargai 25-50% dari harga pasaran.

Menurut Tri Marwati, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, minyak asiri produksi penyuling tradisional banyak ditolak pengepul dan eksportir karena berkualitas rendah. Alat suling tradisional-dengan tangki bekas drum minyak-menjadi salah satu biang keladi. Ion logam seperti magnesium, besi, mangan, timbal, dan seng dari alat suling mengotori minyak. Penyebab lain, mereka menangani bahan baku secara sembarangan.

Bentonit

Meski demikian, minyak bermutu rendah itu dapat diselamatkan. Solusinya? ‘Sebetulnya mudah, tinggal dimurnikan saja,’ kata Marwati. Secara umum ada 2 teknik pemurnian: kimia dan fisika. Secara kimia ada 2 teknik termudah dan termurah. Pertama, mengadsorpsi alias menyerap logam pengotor dengan adsorban seperti bentonit, arang aktif, dan zeolit. Kedua dengan mengkhelat atau membungkus logam pengotor dengan larutan senyawa pembentuk khelat seperti asam sitrat dan asam tartarat. Sedangkan cara fisika ialah redestilasi alias penyulingan ulang.

Bila penyuling memilih cara penyerapan logam, sebaiknya gunakan bentonit sebagai penyerap. Bentonit penyerap logam terbaik ketimbang arang aktif dan zeolit. Tri Marwati membandingkan pemurnian minyak cengkih dengan arang aktif 5% dan bentonit 5%. Hasilnya dengan bentonit kejernihan minyak mencapai 75,58%, arang aktif hanya 2,7%. Secara fisik warna minyak yang dimurnikan dengan bentonit menjadi cokelat muda sedangkan dengan arang aktif tetap hitam.

Bentonit memiliki kemampuan mengembang, penukar ion, dan berfungsi sebagai penyerap logam seperti timbal, seng dan besi. Bentonit juga mudah menyerap air. Oleh karena itu bentonit-terutama yang berbentuk serbuk-paling populer dipakai sebagai pemurni. Apalagi bobot jenis bentonit tinggi, 2,4-2,8 kg/m3, sehingga memudahkan saat pemisahan dengan minyak.

Untuk memurnikan 10 kg minyak cengkih berwarna cokelat kehitaman, penyuling cukup menambahkan 1 kg bentonit (lihat boks).

Cara itu juga ampuh untuk menjernihkan minyak asiri lain. Namun, penyuling harus mempertimbangkan kadar bentonit sesuai jenis minyak asiri. Pemurnian minyak nilam perlu 7-10% bentonit. Artinya, untuk memurnikan 10 kg minyak nilam gunakan 0,7 kg bentonit. Untuk minyak akarwangi dan kenanga cukup menambahkan 2% dan 3% bentonit.

Bungkus

Cara pengkhelat dengan bantuan senyawa asam seperti asam sitrat dan asam tartarat. Keduanya memiliki kemampuan untuk mengkhelat logam pengotor pada minyak asiri. Namun, kemampuan asam sitrat mengkhelat logam jauh lebih baik.

Aplikasinya juga mudah. Mirip pemurnian minyak asiri dengan bentonit. Bedanya, ganti bentonit dengan asam sitrat, sedangkan proses selanjutnya sama.

Pemurnian dengan bentonit dan asam sitrat menghasilkan minyak asiri yang lebih jernih karena logam pengotornya hilang. Pada minyak cengkih, konsentrasi bentonit 10% dapat menyerap logam Mg hingga 289 ppm. Sedangkan asam sitrat 1%, 240 ppm. Logam Fe terserap antara 100-120 ppm dengan bentonit dan asam sitrat.

Pemurnian dengan bentonit dan asam sitrat hanya berguna menghilangkan ion logam pengotor. Ia, tidak bisa mengubah konsentrasi penyusun utama minyak asiri, misalnya meningkatkan kadar PA pada minyak nilam.

Menurut Sugono, praktisi dan konsultan minyak asiri di Bogor, Jawa Barat, kualitas minyak asiri-apa pun jenisnya-dapat didongkrak dengan redestilasi atau penyulingan ulang. Syaratnya: alat suling harus berbahan besi nirkarat sehingga logam dari alat suling tidak mengotori minyak yang dimurnikan.

Caranya, tambahkan air pada minyak yang akan dimurnikan dengan perbandingan minyak dan air 1 : 5. Campuran itu lalu disuling. Dengan cara itu minyak yang dihasilkan dapat memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Sejatinya, dengan penyulingan ulang pemurnian menggunakan bentonit dan asam sitrat tak perlu dilakukan lagi. Redestilasi bermanfaat ganda: menghilangkan logam pengotor sekaligus meningkatkan kadar komponen utama minyak.

Menurut Tri Marwati, redistilasi minyak nilam meningkatkan nilai transmisi alias nilai kejernihan dari 4% menjadi 83,4%. Logam besi pengotor berkurang dari 509,2 ppm menjadi 19,60 ppm.

Teknik redestilasi sebetulnya bisa diterapkan oleh penyuling di daerah. Tekniknya hampir sama dengan penyulingan biasa. Terlebih saat ini banyak alat suling besi nirkarat berkapasitas kecil yang harganya murah, hanya Rp5-juta-Rp7-juta. Artinya, alat suling lama dengan tangki drum tetap terpakai, tapi kualitas minyak didongkrak dengan bantuan destilator, bentonit atau asam sitrat. (Ari Chaidir/Peliput: Destika Cahyana & Faiz Yajri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img