Thursday, August 11, 2022

Musim Berganti di Sembalun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Umbi kentang Solanum tuberosum varietas atlantik itu hasil panen dari 104 ha lahan yang dikelola pekebun yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Horsela. Para pekebun menanam kentang industri itu di areal sawah bergiliran dengan tanaman sayuran lain. Pada Januari mereka menanam bea ganggas. Itu jenis padi lokal berbulir merah yang adaptif di dataran tinggi seperti Sembalun yang berketinggian 1.200 – 1.500 m dpl. Padi baru bisa dipanen 6 bulan pascatanam. Memasuki Juni – Juli barulah kentang – dan beragam sayuran lain seperti cabai, bawang putih, bawang merah, dan wortel – ditanam.

Umbi kentang dituai 3 – 4 bulan kemudian atau September – Oktober ketika rutinitas memasok ke pabrik berlangsung. Dari kebun, umbi-umbi itu dibawa ke gudang transit untuk dibersihkan, disortir, dan di-grading. Kemudian dikemas dalam karung-karung berkapasitas 40 kg. ‘Setelah terkumpul hingga 100 ton barulah kentang dikirim ke Jawa,’ tutur Minardi, ketua gapoktan Horsela. Akses jalan yang sempit dan terjal membuat umbi-umbi itu harus 2 kali berganti kendaraan. Dari Sembalun ke Lemor – berjarak 20 km – memakai colt L300; Lemor – Cikarang menggunakan truk fuso.

Setiap hari

Angka 100 ton sesuai dengan kapasitas olah pabrik. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka gapoktan mengatur waktu tanam kentang. ‘Setiap hari harus ada penanaman benih. Masing-masing sebanyak 6 – 10 ton setara luasan 3 – 5 ha. Nantinya dari sana dipanen 60 – 100 ton kentang per hari,’ lanjut Minardi. Dengan kondisi seperti itu, pekebun di Sembalun mampu memenuhi 18% dari total kebutuhan pabrik sebanyak 50.000 ton kentang per tahun.

Pada 2008 luas penanaman mencapai 148 ha; 2009, 150 ha. Areal tanam berkurang pada 2010 karena Sembalun terus diguyur hujan. ‘Tahun ini curah hujan sangat tinggi – mencapai 2.000 mm – dan sering. Setiap bulan pasti ada hujan,’ kata Lalu Purna, kasie Benih Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur. Bandingkan dengan kondisi pada 2009. Curah hujan hanya 1.100 mm dan ada 2 bulan kering (Juni – Juli).

Harap mafhum, gempuran hujan menyebabkan risiko serangan penyakit tinggi. Sebut saja busuk daun akibat Phytophthora infestans yang bisa membuat pekebun merugi hingga 80%. Oleh karenanya pekebun mesti menyiapkan dana ekstra untuk pembelian ‘amunisi’ lebih lengkap, misal beragam merek pestisida. Di kala hujan ‘menggila’ aplikasi pestisida dilakukan selang sehari. Toh meski begitu, pekebun masih menuai untung.

Simak saja hitung-hitungan berikut. Produktivitas kentang di sana rata-rata 23 – 25 ton per ha. Harga kontrak diterima pekebun Rp3.000 per kg. Dengan biaya produksi Rp39-juta – Rp41-juta per ha, pekebun menuai pendapatan Rp69-juta – Rp75-juta atau laba minimal Rp30-juta per 3 bulan musim tanam. Keuntungan lebih tinggi ketika mereka menanam dengan sistem semiorganik. Produksi naik 40% menjadi 35 ton per ha. ‘Bagi petani, kentang jadi harapan setelah era bawang putih,’ kata Hilman Iswarta, staf bidang Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Provinsi NTB yang menemani perjalanan Trubus ke Sembalun.

Era sangga

Bukan tanpa alasan Hilman menyebut-nyebut bawang putih. Allium sativum itu pernah menjadi sandaran hidup penduduk di sentra sayuran di kaki Gunung Rinjani itu. Pada era 1980 – 1990-an Sembalun merupakan sentra produksi bawang putih terbesar di tanahair. Jenis yang ditanam varietas sangga yang khas setempat.

Setiap tahun dituai puluhan ribu ton dari lahan seluas 913 ha. ‘Dengan bawang putih apa pun bisa dibeli,’ tutur Haji Mustiadi, mantan kepala Desa Sembalun periode 1972 – 1988 yang Trubus temui pada 2004. Maklum keuntungan menanam anggota famili Liliaceae itu minimal 3 kali lipat modal kerja. Wajar bila ketika itu hampir 100% penduduk menanam bawang putih.

Derasnya impor bawang putih dari China, Filipina, dan Brasil pada 1998-an mengakhiri kejayaan itu. Musim tanam 1999 terakhir kali mereka menanam sangga. Pekebun beralih menanam sayuran dataran tinggi lain seperti wortel, kentang sayur, kubis, dan cabai. Mereka baru kembali menanam sangga pada pertengahan 2000-an karena umbi awet simpan hingga setahun. Sayuran lain harus segera dijual. Menurut catatan Lalu Purna luas penanaman bawang putih 400 ha pada 2009.

Harapan kembali menghampiri ketika perusahaan penganan ringan di Bekasi menawarkan kerja sama: menanam kentang atlantik untuk dipasok ke pabrik. Sembalun dipilih karena ‘bersih’ dari nematoda sista kuning Globodera rostochiensis penyebab kegagalan panen hingga 90%. ‘Lagi pula masyarakat di sini sudah terbiasa membudidayakan kentang sayur,’ kata Minardi yang mendapat penghargaan Champion dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai petani penggerak di desa.

Lewat umbi anggota famili Solanaceae itu pekebun kembali menuai laba. Hanya saja hingga saat ini pasokan benih masih ketergantungan pada impor. Perjalanan dari negara pengekspor ke Sembalun menyebabkan tingkat kerusakan benih mencapai 4%. Benih impor pun dikhawatirkan dijadikan boncengan oleh nematoda sista kuning. Oleh karenanya pekebun berupaya memproduksi bibit sendiri.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada 2010 kelompok tani kentang di Sembalun mendapat bantuan dari Direktorat Hortikultura Kementerian Pertanian berupa program produksi benih, mulai dari pupuk hingga sertifikasi benih. Saat Trubus berkunjung pada akhir Desember 2010, lahan-lahan tegalan tengah hijau oleh rumpun-rumpun tanaman kentang untuk produksi benih. Jumlahnya memang belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan, tapi paling tidak para pekebun sudah mencoba. Karena pada kentang kini asa itu disandarkan. (Evy Syariefa)

 

  1. Dengan budidaya semiorganik tekstur keripik lebih renyah
  2. Sembalun berketinggian 1.200 – 1.500 m dpl cocok untuk budidaya kentang karena bebas nematoda sista kuning penyebab gagal panen hingga 90%
  3. Lalu Purna, upaya pembibitan kentang untuk menekan impor benih
  4. Minardi, ketua Gabungan Kelompok Tani Horsela Bawang putih sangga khas Sembalun
Ilustrasi: Bahrudin
Foto-foto: Evy Syariefa

 

Di Kaki Rinjani
Hingga era 1960 kopi menjadi sandaran hidup masyarakat Sembalun. Sayang, harga komoditas itu anjlok sehingga penduduk beralih menanam bawang putih. Penanaman sayuran umbi beraroma kuat itu bermula pada 1961. Diawali dengan 50 ha, lalu berkembang jadi 450 ha pada 1980. Luas penanaman terus bertambah hingga 913 ha pada 1990-an. Lalu menukik menjadi nol setelah 1999. Musim tanam itu terakhir kali pekebun menanam Allium sativum karena kalah bersaing dengan bawang impor. Pekebun lalu menanam beragam sayuran dataran tinggi, seperti wortel dan kubis. Hanya saja, kurang ‘menguntungkan’ karena harus cepat dijual. Umbi bawang putih bisa disimpan hingga setahun. Pertengahan 2000-an pekebun kembali menanam bawang putih meski tidak seintensif era 1980-an. Pada 2006 dimulai penanaman kentang industri yang memberi pendapatan tinggi pada pekebun. (Evy Syariefa)
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img