Thursday, December 8, 2022

Muslim Mahfudz Hilang Letih Disapu Anggrek

Rekomendasi

Di gazebo ia mencermati cattleya chun yeah ‘goodlight’ #17. Sebelum layu, direktur CV Dirga itu ingin menikmati sepuasnya keindahan anggrek jawara lomba Asia Pacific Orchids Converence VIII di Taiwan.

Muslim sangat tergila-gila pada anggrek itu. Saat pertama kali melihat sosok cattleya chun yeah, hobiis di Pondok BelimbingIndah, Malang, itu langsung jatuh cinta. Bunganya memang menarik, kuning berlidah merah selebar 20 cm dan terdiri atas 6 kuntum selebar 14 cm. Makanya, ia enteng saja menebusnya meski berharga 7 digit.

Bersama sang juara, Muslim Mahfudz membawa haser black jack, spring jewel miki, dan cattleya mini yuan angel little beauty.

Total pembelian saat itu mencapai belasan juta rupiah. Kini anggrek dari Taiwan itu ditempatkan di teras belakang dan sebagian di gazebo bersama cattleya berbunga ungu—terdiri atas 8 kuntum—dan vanda sarat bunga.

 

Anggrek terbaik

Dari sekian banyak koleksi, cattleya dan vanda menjadi favorit Muslim Mahfudz. Alasannya, keduanya berbunga indah, bentuk menarik, dan gampang dirawat. Tak heran untuk melengkapi koleksi cattleya dan vanda, komisaris Yayasan Al Azhar Semarang itu rajin menghubungi teman-teman di Jakarta, Surabaya, Malang, dan Bandung.

Setiap ke Jakarta, waktu luang diisi dengan mengunjungi Taman Anggrek Indonesia Permai. Toh, di pusat anggrekitu tidak selalu ada anggrek terpilih. Pemilik CV Dirga di Bali itu baru membeli bila anggrek berbatang utuh, tanpa pernah di-split, serta berbunga lebat dan indah. Harga tidak menjadi masalah, sejauh seimbang dengan kualitas. Lomba-lomba anggrek di berbagai tempat juga rajin disambangi untuk mencari anggrek idaman.

Beberapa koleksi diperoleh langsung dari pakar anggrek dari Thailand sewaktu bertandang ke Indonesia. Adisak Hongsilp dan Nopporn Buranaraktham, keduanya penganggrek top di Nakhonpathom, Thailand, pernah berkunjung ke rumahnya. Dari mereka Muslim mendapat 20 vanda juara di negeri Gajah Putih, di antaranya rattana x mahakkapon. Anggrek itu memiliki 3 tangkai sekaligus sepanjang 50 cm, ukuran bunga besar mencapai 10 cm. Setiap tangkai digelayuti 8—10 kuntum berwarna merah kekuningan.

Selain itu ada vanda nancy brown x kasem delight berwarna cokelat. Ia istimewa lantaran berbunga 4 tangkai—umumnya hanya 1—2 tangkai. Di Indonesia, anggrek sekualitas itu dijualRp1.500.000.

Koleksi lain yang mengagumkan ialah Dendrobium spectabile. Penampilan anggrek itu amat prima. Pantas kalau ia tampil sebagai the best of show di lomba Malang Orchids Show pada pertengahan April 2004. Anggrek kribo itu memiliki 5 tangkai yang dipadati bunga bercorak cokelat kemerahan tua. Daun lengkap dan sehat sekali.

Rawat sendiri

Anggrek-anggrek berkualitas itu tidak sekadar dikoleksi. Tanaman dirawat sendiri sepenuhnya sehingga tampil prima. Sedangkan perawatan anggrek nonkoleksi diserahkan ke karyawan. Anggrek nonkoleksi berasal dari anggrek koleksi yang biasanya: malas berbunga, bunga tidak prima, warna kurang cerah, cepat layu, jumlah kuntum sedikit, dan rumpun tidak utuh.

“Saya tidak suka beli kalau rumpun sudah dipecah,” ungkap sarjana Hukum alumnus Universitas Gajah Mada itu. Alasannya, ukuran bunga kecil. Setelah rimbun baru bisa besar, tetapi perlu waktu lama, minimal 7 bulan.

Perhatian Muslim terhadap anggrek memang luar biasa. Meski tengah tidur lelap, tetapi saat hujan disertai angin kencang, ia akan bangun dan segera naik ke dak rumah berlantai 2. Setelah yakin anggrek aman, baru ia balik ke peraduan. Keesokan pagi, ayah Dian Kurniawan itu kembali menjenguk sang peliharaan.

Kalau urusan anggrek ia memang tak kenal capai. Suatu ketika pejabat di salah satu lembaga keuangan itu menghadiri beberapa pertemuan penting. Aktivitasnya yang menyita tenaga dan pikiran itu ternyata tak menurunkan semangat untuk mengontrol anggrek.

Adalah pemandangan sehari-hari bila sehabis pulang kantor, malam hari, suami Nurul Sa’diah itu langsung menikmati kemolekan bunga anggrek. “Dengan menyambangi anggrek, rasa jenuh dan capai hilang begitu saja,” ucapnya. Apalagi ketika melihat cattleya dan vanda berbunga. “Itulah saat paling indah,” tutur pria kelahiran Blitar 56 tahun silam itu. (Syah Angkasa)

Ratu Berlidah Tiga

Namanya ekapol ‘queen dragon’. Yang membuat luar biasa penampilannya adalah ia mempunyai 3 lidah. Betul, berlidah tiga! Padahal hampir semua kerabatnya berlidah satu. Sebuah lidahnya menjulur sepanjang 4 cm, lebar 2 cm, dan berwarna merah keunguan. Sedangkan 2 lidah lainnya mengapit lidah pertama, tetapi lebih besar. Gara-gara lidah ia tampil atraktif.

Dendrobium ekapol ‘queen dragon’ salah satu kebanggaan Wirakusuma. Di kalangan penganggrek, nama Wira—panggilan akrabnya amat kesohor. Maklum, ia puluhan tahun menggeluti tanaman hias anggota famili Orchidaceae itu. Lalu, soal queen dragon, pemilik Edward & Frans Orchids itu, mendapatkan di Thailand pada 2002.

Selain berlidah 3, ratu naga itu juga berwarna menarik, merah terang. Ukuran bunga relatif besar, 8—10 cm sehingga tampil mencolok di tangkai sepanjang 30 cm. Dibanding induknya, anggrek sejenis, sosoknya sangat istimewa.

Sang ratu naga itu merupakan dendrobium ekapol yang mengalami mutasi. Anggrek potong itu memang sering mengalami mutasi. Namun, hanya queen dragon yang berlidah tiga. Pemilik di Thailand menyebutnya queen dragon untuk menyaingi king dragon. Bentuk penyimpangan raja naga itu —lidah amat lebar sehingga mirip cattleya.

Hati-hati bila mencari anggrek queen dragon. Bisa-bisa anggrek berlidah biasa yang didapat. Sebab, pemilik nama resmi dan terdaftar di Royal Horticultural Society (RHS) adalah anggrek yang berlidah tunggal itu. Saporita R.D, pakar anggrek dunia menyilang dan mendaftarkannya ke Lembaga Biologi di Inggris pada 1995.

Lain lagi anggrek lidah tiga milikMoling Simardjo, penganggrek di Prigen, Jawa Timur. Sepintas, penampilannya malah tanpa lidah. Itu lantaran sosok lidah mirip kedua petal. Anggrek unik itu dinamai dina agus soeyitno. Pada 2001 Moling “menjodohkan” dendrobium waianae stripe dan dendrobium brighton pansy. Ukuran bunga brighton pansy, misalnya, cuma 6 cm. Sedangkan dendrobium waianae stripe mewariskan sifat batang kokoh dan tegak

Jantan bundar

Untuk memperoleh anggrek berlidah aneh itu, Moling memilih jantan bentuk bunga bundar. Jantan tipe itu berpeluang besar untuk menurunkan sifat bunga besardan berlidah tiga. Bentuk bunga bintang menurunkan sifat bunga lebih kecilsehingga jangan dipilih. Oleh karena itu dendrobium brighton pansy dipilih sebagai indukan jantan.

Dendrobium brighton pansy lahir dari pasangan d’bush pansy dan kuranda classic pada 1994. Moling pertama kali melihat brighton pansy di Singapura pada 1995. Ia jatuh cinta padapandangan pertama. Meski warna belum begitu bagus dan ukuran kecil, Molingtetap memboyongnya kePrigen.

Induk lain,dendrobium waianae memiliki kelebihan warna cerah. Kedua induk itu lantas disilangkan. Dari puluhan anak, hanya satu yang berlidah 3. Turunan lain berlidah sama dengan dendrobium pada umumnya, lidah satu, warna merah, dan tebal.

Langka

Menurut ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) itu, persentaseterbentuknya anggrek berlidah 3 hanya 10%. Artinya, dari 10 anakan paling banter satu yang berlidah tiga. Oleh Moling, dina si lidah tiga itu terus diperbanyak dengan pemisahan anakan. Hasilnya keturunan dina pun tetap berlidah 3. Lantaran langka, kelahiran Medan itu menjual dina agus soeyitno Rp50.000 per pot. Hargadendrobium lain sekitar Rp20.000.

Menurut Wirakusuma ada 2 bentuk mutasi lidah. Pertama petal berubah menjadi lip atau sebaliknya lip menjadi petal. Bentuk pertama jauh lebih unik karena terbentuk tiga lidah pada satu bunga akibat kedua petal berubah wujud. Yang unik, lidah yang menjadi petal, dapat puladisilangkan dengan anggrek lain. Sebab di lidah itu juga terdapat tepung sari dan putik. Sayang di dendrobium, ”Kebanyakan pollen cup (kantong tempat tepung sari, red) hanya satu dan kebanyakan jantan bersifat steril,” tutur Wirakusuma.

Pada kasus kedua bentuk bunga amat sederhana karena bunga seolah hanya terdiri dari 3 sepal dan 3 petal. Contohnya seperti dendrobium milik Moling di atas. Anggrek sejenis bisa pula dihasilkan dengan induk dendrobium classic gem atau turunannya.

Selain pada dendrobium, kasus mutasi lidah 3 itu dapat pula terjadi di phalaenopsis, doritis, oncidium, dan paphiopedilum. Penyimpangan itu muncul saat diperbanyak secara massal. Misal oncidium gower ramsey yang sering diperbanyak lewat kultur jaringan. Akhirnya satu saat muncul kelainan yakni berlidah tiga. Kasus itu juga terjadi pada vanda douglas.

Walau rumusan menghasilkan anggrek berlidah tiga telah diketahui, tetapi keberadaannya belum diakui American Orchid Society. Kehadirannya dalam kontes selalu melalui debat panjang. Sebagian menginginkan ia didiskualifikasi sesuai peraturan. Sebagian lagi menginginkan anggrek peloric dibuatkan kelas tersendiri karena jumlahnya kian banyak.

Di Indonesia, kehadiran anggrek lidah 3 belum menimbulkan kontroversi. Trubus belum pernah menyaksikan kehadirannya dalam lomba. Menurut Wirakusuma, bila mutasi anggrek itu ke arah bagus, harga anggrek itu bisa disejajarkan dengan anggrek eksklusif lain. Kebanyakan masih memiliki tepi mengerut. (Syah Angkasa)

Previous articleBukan Arwana Biasa
Next articleVanili: Sekilo 3-Juta
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img