Monday, November 28, 2022

Naga Merah di Tampomas

Rekomendasi

 

Kisah dibukanya kebun buah naga berawal pada 2004. Stok pasir dari perut bumi di Kampung Golempang, Desa Cibeureumwetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, habis. Yang tersisa lahan kering kerontang berlapis pasir dan kerikil, serta batu-batu berukuran raksasa menghiasi lahan di lereng Gunung Tampomas itu. Kondisi lahan nyaris tak menyiratkan bisa ditumbuhi pohon. Hanya rumput teki yang sanggup bertahan hidup.

Beruntung pada awal 2005, 3 investor dari Bandung datang mengajak kerja sama untuk penanaman buah naga. Uha Juhari, pengelola kebun yang ditemui, agak sangsi buah naga bisa hidup. Namun, setelah pria berusia 63 tahun itu mengetahui bahwa pitahaya-sejenis kaktus, keraguan itu mencair. Ia yakin temperatur Cibeureumwetan yang mencapai 38oC pada siang hari dan 18oC pada malam hari sesuai untuk tumbuh kembang sang naga.

Tiga bulan berselang, Maret 2005, Uha bereksperimen ‘memperbaiki’ tanah agar subur. Lubang tanam berukuran 0,8 m x 0,8 m x 0,3 m digali. Ke dalam lubang dibenamkan tanah topsoil yang subur serta pupuk bokashi dan kotoran kambing kering. Perbandingan tanah dan pupuk organik 2:1. Uha menanam 180 batang buah naga setinggi 50 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m di lahan seluas 420 m2. Batang buah naga dirambatkan pada 60 tiang kayu gelam setinggi 1,7 meter. Setiap tiang dirambati 3 tanaman.

Uji ketahanan

Uha juga menaburkan serbuk gergaji sebagai mulsa di sekitar pohon. ‘Biar penguapan air tidak terlalu tinggi,’ kata kelahiran Sumedang 20 Maret 1946 itu. Kotoran kambing kering sebanyak 20 kg dibenamkan dua kali setahun untuk menjaga kesuburan. Pada penanaman perdana itu Uha mencoba ketahanan sang naga. Tanaman tak disiram selama 1,5 bulan walau kemarau menyergap pada Agustus 2005. Akibatnya, sebulan kemudian batang buah naga terkulai layu. Beruntung hujan datang pada pertengahan Oktober 2005. Batang buah naga pun segar kembali.

Dari 180 tanaman dipetik 25 buah naga merah matang. Meski hanya sedikit, Uha menjadi yakin, ‘Asalkan batang tidak kering, pohon naga masih bisa tumbuh,’ tuturnya. Puas dengan usaha Uha, para investor menambah luasan 3 ha. Hingga kini lahan seluas 3,5 ha sudah menjadi kebun buah naga dengan jarak tanam 3 m x 2,5 m.

Saat Trubus berkunjung ke Cimalaka, Sumedang pada penghujung Februari 2009, Uha baru saja memanen 13 ton buah naga sepanjang Oktober 2008-Februari 2009. Ia memprediksi 7 ton buah naga bakal dipanen lagi hingga April 2009. Total jenderal musim ini dipanen 20 ton. Hasil itu memuaskan Uha karena hampir 2 kali lipat ketimbang panen musim lalu. Pada Oktober 2007-April 2008, ia memanen 12 ton.

Produksi kebun bekas galian pasir itu memang meningkat dari tahun ke tahun. Panen Oktober 2006-April 2007 dari 14.180 tanaman hanya dipanen 150 kg buah naga. Itu karena jumlah sulur semakin banyak dan kondisi lahan kian membaik. Hasil panen buah naga langsung diambil oleh pengepul dari Kota Kembang, Bandung. ‘Harganya Rp40-ribu/kg di tempat untuk ukuran sekilo isi 2 buah,’ tutur Uha. Menurutnya soal pasar tidak perlu dikhawatirkan karena dua eksportir pun tengah menunggu hasil panen pada musim berikutnya.

Berlipat

Menurut Ir Bambang Setiadji MT, ahli tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, tanah bekas galian pasir banyak yang terlunta karena kesuburannya hilang. Itu karena tanah topsoil (lapisan atas, red) yang kaya bahan organik terkelupas. Yang tersisa adalah tanah lapisan bawah yang miskin hara. Lahan baru bisa ditanami bila dilakukan reklamasi. Pembenaman tanah topsoil dari lahan yang subur serta penambahan bahan organik, seperti yang dilakukan Uha, merupakan cara paling efektif memulihkan lahan.

Ir Kharisun PhD, ahli pupuk Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, mengamini pendapat Bambang. Menurutnya, bahan organik ampuh mendongkrak kesuburan kimia dan fisik tanah. Hampir semua 16 hara esensial yang dibutuhkan tanaman terdapat dalam bahan organik. Sebut saja K, P, dan Mg yang diperlukan buah naga. Kondisi fisik tanah pun membaik dengan penambahan bahan organik. Tanah mampu memegang air lebih banyak ketimbang tanpa bahan organik.

Pun pemberian mulsa serbuk gergaji. Pada lahan terbuka yang suhunya tinggi dan berangin maka penguapan tinggi. Serbuk gergaji melindungi kehilangan air sehingga kondisi perakaran tidak kekeringan. ‘Pada suhu tinggi dan cahaya cukup laju fotosintesis meningkat. Apalagi jika jumlah air di tanah cukup, metabolisme optimal,’ kata Kharisun. Pertumbuhan tanaman optimal. Ujung-ujung panen buah pun melimpah. Berkat topsoil, bahan organik, dan mulsa, Uha sukses menyulap bekas galian pasir menjadi surga buah naga. (Faiz Yajri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img