Wednesday, August 17, 2022

Naga Putih di Kaki Merapi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Suasana itu yang memikat Cindy Amalia-yang bersangkutan enggan disebut nama aslinya-berkunjung ke kebun di kawasan Pakembinangun, Sleman, Yogyakarta, itu setiap akhir pekan. Pemilik kursus kecantikan di Yogyakarta itu rela menempuh 40 km dari pusat kota untuk memborong 20 kg buah naga. ‘Pemandangannya indah, buah pun lebih manis ketimbang yang dijual di lapak buah atau pasar swalayan,’ katanya. Bagi Cindy, harga Rp20.000 per kg-2 kali lipat harga di pasaran-bukan sebuah ganjalan.

Lazimnya buah naga daging putih asam dan langu, tapi di kebun itu manis. Menurut Yos Sutikno, importir di Pasarrebo, Jakarta Timur, buah naga putih yang dipetik matang pohon pasti lebih manis. Musababnya, buah dipanen pada tingkat kematangan optimal. Di pasaran buah naga kebanyakan diimpor dari Vietnam. Agar buah tahan simpan, buah dipetik saat baru matang 70%. Menurut Prof Dr Ir Tatik Wardiyati MS, ahli fisiologi tanaman di Universitas Brawijaya, zat pati pada buah muda belum seluruhnya terurai menjadi gula sederhana sehingga rasa buah lebih masam.

Organik

Kebun itu juga membuat Cindy ketagihan datang karena buah naga dibudidayakan organik. Dengan begitu ia mendapat 2 keuntungan sekaligus: rasa istimewa dan sehat. Disebut organik karena Gun Soetopo, pemilik Sabila Farm-nama kebun itu, tak pernah memberi pupuk dan pestisida kimia sintetis pada buah naga. Ia hanya mengandalkan pasokan nutrisi dari kotoran sapi segar.

Kotoran sapi segar? Ya, pupuk kandang segar memang tak lazim digunakan pekebun. Mereka biasanya menggunakan pupuk kandang lapuk hasil fermentasi. Namun, bagi Gun, kotoran sapi segar memiliki beberapa keunggulan. ‘Kandungan nitrogen lebih tinggi,’ ujar alumnus Jurusan Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor itu.

Penelitian Sudiarso dari Universitas Airlangga menunjukkan nitrogen pada kotoran sapi adalah hasil aktivitas bakteri Methanobacterium formicium dan Selenomonas ruminantium saat pakan dicerna di dalam rumen. Inokulum (biakkan, red) kedua bakteri itu banyak digunakan dalam pembuatan pupuk kandang untuk meningkatkan kadar nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).

Dua kali

Menurut Dr Ir Tualar Simarmata MS, ahli teknologi pupuk dan pemupukan Jurusan Ilmu Tanah Universitas Padjadjaran, kotoran sapi dalam bentuk segar memang bisa langsung dipakai. Itu karena feses sapi bakal terurai secara alami dengan bantuan mikroba tanah. Hanya saja waktu penguraian kotoran segar lebih lama karena senyawa di dalamnya masih kompleks. Pada pupuk hasil fermentasi senyawa telah diurai saat pengomposan sehingga siap digunakan tanaman.

Namun, Tualar mewanti-wanti agar berhati-hati menggunakan pupuk kandang segar. ‘Pupuk kandang segar patogennya masih banyak,’ ujarnya. Contohnya patogen penyebab busuk akar seperti bakteri Pseudomonas. Namun, pengalaman Gun hingga kini belum satu pun buah naga terserang. Diduga tanah itu kaya mikroba pengurai.

Kotoran sapi segar itu diberikan 2 kali setahun. Pemupukan pertama pada akhir Maret atau awal April, menjelang berakhir musim panen. Itu untuk memasok nutrisi tanaman yang terkuras karena pembentukan buah. Karena pupuk kandang butuh 35-45 hari untuk terurai, pemupukan dilakukan sebelum masa berbuah berakhir. Di kebun Gun, panen terakhir biasanya Mei. Pemupukan kedua diberikan pada Mei, saat tanaman butuh nutrisi cukup untuk memasuki fase vegetatif berikutnya seperti pertumbuhan sulur baru. Dosis pupuk 10 kg per tiang pancang.

Meski hanya mengandalkan pupuk kandang, produktivitas tanaman tergolong tinggi. ‘Ada yang sampai berbobot 2 kg/buah,’ ujar Gun. Dari lahan 2 ha ia memanen 57,2 ton buah/tahun atau rata-rata 30 kg buah/pancang/tahun. Hampir seluruh buah diserap pengunjung kebun. Maklum, kebun di ketinggian 500 m dpl itu juga dirancang sebagai agrowisata.

Coba-coba

Menurut Gun sebelumnya tak ada yang menyangka areal yang semula lahan kritis itu bakal menjadi kebun buah naga yang subur. Lima tahun silam saat dibeli Gun, areal itu memang ibarat tanah mati. ‘Banyak pekebun mencoba menanam kentang dan kacang-kacangan tapi mati terus,’ kata Gun. Selama 6 tahun lahan itu bera. Gun memperbaiki lahan dengan membenamkan pupuk kandang sebanyak 4 ton sehingga kembali subur.

Lokasi kebun di ketinggian 500 m dpl pun sempat diragukan konsultan ahli asal Taiwan. Di negeri Formosa kerabat kaktus itu dibudidayakan di ketinggian 0-200 m dpl. Namun, nyatanya ketika berumur 12 bulan sejak tanam, Hylocereus undatus itu mulai berbuah. Kini naga putih menghampar luas di kaki Gunung Merapi. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img