Monday, August 15, 2022

Namdokmai sang Fotografer Tembus Pasar Jepang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di antara yang sukses memasok, ada kebun Ngao Sin di Provinsi Chacheongsao, yang dimotori seorang mantan fotografer profesional.

Di kalangan masyarakat permanggaan Thailand, kebun seluas 300 rai (sekitar 50 ha) itu tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai penghasil Mangifera indica berkualitas prima. Tak heran, sejak 2003 kebun milik Sakdida Chantiphalo itu dinobatkan sebagai kebun percontohan mangga nasional.

Lokasi penanaman yang dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Bangkok itu memang tertata rapi. Melalui menara pandang di tengah kebun, terlihat deretan tanaman teratur.

Intensif

Namdokmai ditanam dengan jarak 4 m x 6 m sehingga mobil penyiraman danpemupukan leluasa melintas di antara barisan tanaman. Begitu pula saat panen tiba, kegiatan pengangkutan mudah dilakukan. Maklum, tajuk tanamandipertahankan hanya berdiameter 3,5 m. Batang utama bebas percabangan hingga setinggi 1 m dari tanah. Tajuk hanya setinggi 3—3,5 m. Panen pun jadi mudah dan efisien.

Wajar jika buah dari kebun itu berkualitas prima. Meski hanya dipelihara oleh 8 tenaga kerja, pemiliknya menerapkan sistem budidaya intensif. Selain pemupukan NPK berimbang 15-15-15 sebulan sekali, pemangkasan tajuk menjadi kegiatanrutin di kebun berumur 13 tahun itu.

Setiap ranting atau pucuk sakit, kurus,dan tidak produktif dipangkas. Begitu pula ranting dan tangkai bekas buah.Ranting salah arah, saling bersinggungan, maupun yang keluar dari bingkai tajuk disingkirkan. Dengan begitu, lingkungan tajuk tetap sehat dengan bentuk ideal.

Mulus

Menjaga kualitas buah menjadi perhatian utama, maklum konsumen Jepang terkenal rewel. Karena itu sejak berukuran seruas jari, buah dibungkus. Sebelum dibungkus, pestisida disemprot lebih dahulu. Kadarnya dipantau agar tidak melebihi anjuran. Setelah itu, penyemprotan bahan kimia terlarang hingga buah dipanen 2 bulan kemudian. Dengan cara itu, kulit namdokmai tetap mulus saat dipetik.

Buah siap panen, tua tapi belum matang. Cirinya, kulit hijau muda dengan semburat kuning, pangkal buah besar, terisi penuh sampai ujung runcingnya. Untuk mendapatkan kualitas seperti itu, Sakdida mengandalkan 20 pekerja berpengalaman memanen buah tua.

Buah dituai dengan galah bambu sepanjang 2,5 m dilengkapi cincin aluminium berjala tali di ujungnya. Pada bagian ujung cincin jala terdapat pisau 2 sisi sebagai gunting pemutus tangkai buah. Buah hasil petik langsung masuk ke dalam jala dan tidak boleh jatuh ke tanah. Dengan cara itu 95% hasil panen diterima eksportir.

Lima ton/hari

Seluruh hasil panen ditampung dalam keranjang plastik. Keranjang berukuran 60 cm x 75 cm x 60 cm dapat menampung 25 kg buah. Setelah penuh, keranjang dimasukkan ke dalam mobil bak terbuka untuk diangkut ke gudang sortir.

Di sana buah dipisahkan berdasarkan bobot dan tingkat kematangan. Buah dengan bobot 400—450 g/buah masuk pasar ekspor, selebihnya untuk pasar lokal. Penyortiran dilakukan dengan metode sederhana di atas meja panjang beralas koran. Meja disekat dengan petak-petak terbuat dari sambungan pipa PVC. Namdokmai hasil sortiran diletakkan di atas petak sesuai kelas bobot rata-rata atau derajat kematangan.

Setelah terklasifikasi, masing-masing dimasukkan ke dalam keranjang kotak. Buah diletakkan dengan posisi pangkal di bawah agar getah tidak mengotori buah lainnya. Mangga siap dikirim ke eksportir untuk ditangani lebih lanjut hingga siap ekspor. Buah diekspor segar atau beku (frozen mango).

Pada musim panen Januari—April, dari kebun milik Sakdida dapat dipanen 4—5 ton/hari. Harga jual bervariasi. Periode Januari—Februari, 55 baht/kg; Maret—April, 45 Baht/kg; dan panen raya April dijual 35 baht/kg.

Sejak 1990

Sakdida Chantiphalo, pemilik kebun itu sebenarnya tak punya latarbelakang pertanian. Pria 45 tahun itu sebelumnya hanyalah seorang fotografer profesional berpengalaman 20 tahun. Sebagai pakar jepret-menjepret kamera ia kerap menerima order pemotretan buahbuahan unggul Thailand untuk brosur atau buku panduan promosi ekspor. Garagara sering melihat namdokmai berkualitas prima, ia pun tergoda untuk mengebunkan.

Keinginan itu pun mulai diwujudkan dengan membuka kebun sejak 1990. Tidak tanggungtanggung, pada tahap awal saja luas kebun sudah mencapai 80 rai (sekitar 13 ha). Agar mangga yang dihasilkan berkualitas ekspor, Sakdida pun serius menangani kebun. Bahkan, tak segan-segan ia berguru pada para pakar mangga senior dan eksportir berpengalaman.

Usaha tak kenal lelah itu akhirnya membuahkan hasil. Namdokmai sang fotografer menembus pasar Jepang. Bahkan, karena yakin manajemen kebun baik, ia tak menolak bila sang pembeli langsung berkunjung ke kebun. Lokasi kebun kerap dijadikan arena pameran, lomba, sampai tempat pelatihan dan sarasehan mangga tingkat nasional.

Luas areal yang dikelola terus bertambah. Kini, luas kebun mencapai hampir 1.000 rai, tersebar di 3 lokasi. Yaitu Ngao Sin 1, Ngao Sin 2, dan Phanom Sithong. Dengan volume ekspor mencapai 600—900 ton per tahun, Sakdida kini menjadi saudagar mangga namdokmai nomor 1 di negerinya. (Ir Nancy Martasuta, konsultan pertanian Thailand—Indonesia)

 

Previous articleBukan Arwana Biasa
Next articleVanili: Sekilo 3-Juta
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img