Wednesday, February 8, 2023

Nanas Subang Naik Kelas, Lapangan Pekerjaan Terbuka Luas

Rekomendasi

Trubus.id — Empat perempuan paruh baya terlihat sibuk di tengah tumpukan buah nanas. Tiga orang bertugas mengupas dan mengiris buah nanas menjadi beberapa bagian. Sementara itu, seorang perempuan lainnya bertugas mengemas hasil potongan ke dalam wadah kantong plastik, lalu menimbangnya.

Di ruangan lain, suara bising mesin begitu jelas terdengar di telinga. Terlihat seorang pria berkaos lengan panjang tengah sibuk menggiling daun-daun nanas menggunakan mesin pencacah. Di samping mesin, juga terlihat kumpulan serat berwarna hijau yang direndam dengan air.

Itu aktivitas yang terlihat di area Koperasi Produsen “Singgalang Sari Maju” Kampung Mekarsari, RT 08 RW 03, Desa Sarireja, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Mereka yang beraktivitas itu adalah sebagian pekerja harian lepas yang sedang bekerja mengolah beragam produk olahan nanas di Koperasi Produsen “Singgalang Sari Maju”.

Efrizal Ali (54), Ketua Koperasi Produsen “Singgalang Sari Maju” menyebut, total ada sekitar 30 orang yang bekerja di sektor produk olahan nanas.

Para pekerja itu terdiri atas berbagai latar belakang. Mulai ibu-ibu rumah tangga, pemuda yang putus sekolah, hingga difabel. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena faktor pendidikan.

“Sedih rasanya, melihat anak-anak putus sekolah karena terkendala masalah biaya. Jadi fokus kami adalah bagaimana bisa memberdayakan anak-anak putus sekolah ini dan ibu-ibu, sehingga dengan kegiatan perekonomian ini, nantinya mereka bisa mandiri,” jelas petani nanas sejak 2013 itu.

Para pekerja sedang mengupas nanas, lalu mengolahnya menjadi beragam produk olahan.

Tidak hanya di sektor produk olahan nanas, sering kali Efrizal memberdayakan masyarakat untuk bekerja di kebun nanas miliknya. Mereka diberdayakan untuk merawat tanaman mulai pemupukan hingga penyiangan gulma.

Saat ini, Efrizal tengah fokus untuk terus meningkatkan produktivitas dan pemasaran produk olahan nanas. Menurutnya, jika semakin banyak nanas terserap pasar, ke depan akan semakin banyak pula tenaga kerja yang dibutuhkan.

“Selain punya outlet di tempat wisata, saat ini kami juga sedang menggencarkan pemasaran online, untuk mengenalkan produk olahan kami ke masyarakat luas,” tutur pria kelahiran Bukittinggi, 20 April 1968 itu.

Semua termanfaatkan

Beragam produk pangan olahan berbahan nanas yang sudah berhasil dikembangkan antara lain, es buah nanas, keripik nanas, wajik nanas, dan sirup nanas. Adapun limbah nanas juga dimanfaatkan.

Bonggol dan kulit nanas diolah menjadi silase pakan ternak, daun nanas diolah menjadi serat untuk bahan kain, sedangkan limbah sisa olahan keripik dan wajik nanas dimanfaatkan menjadi pakan magot BSF.

“Magot digunakan untuk pakan ikan atau pakan ayam. Kami juga punya produk pupuk organik cair dari limbah nanas. Jadi, semuanya tidak ada yang terbuang,” papar Efrizal.

Efrizal mengatakan nanas yang digunakan untuk produk olahan berasal dari nanas segar yang tidak masuk kualifikasi pasar. Efrizal dan para petani nanas yang tergabung dalam Kelompok Tani Nanas Mekarsari Maju menjual nanas segar ke pasar modern atau supermarket di Jakarta dan pabrik.

Terhitung, ada tiga pabrik yang sudah bekerja sama dengan Kelompok Tani Nanas Mekarsari Maju untuk menerima pasokan nanas segar. Ketiga pabrik itu berada di Subang, Bogor, dan Bandung.

“Masing-masing pabrik itu meminta pasokan nanas segar 500 ton per tahun. Artinya dari total 3 pabrik, kami sudah memasok 1.500 ton nanas segar setiap tahunnya,” terangnya.

Tidak hanya dari pasar domestik, permintaan pasokan nanas segar juga datang dari pasar mancanegara. Baru-baru ini banyak buyer menghubungi Efrizal. Buyer itu berasal dari Arab Saudi dan Dubai. Mereka meminta pasokan nanas segar 200 kontainer atau setara dengan 3.000 ton per tahun.

Kendati demikian, Efrizal masih belum memenuhi permintaan itu. Ketahanan nanas masih menjadi salah satu pertimbangan. Ia belum bisa menjamin daya tahan nanas kuat sampai ke negara tujuan, lantaran waktu yang dibutuhkan mulai dari proses petik hingga proses pengiriman membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Apalagi banyak buyer yang biasanya menginginkan penggunaan sistem pembayaran saat barang tiba di negaranya. Nah, saya belum bisa menjamin dan belum tahu cara agar nanas lebih tahan untuk sampai di negara tujuan,” kata Efrizal.

Pasalnya, menurut Efrizal, semua kualitas nanas dari produksi petani Kelompok Tani Nanas Mekarsari Maju sudah memenuhi kualitas. Mulai dari standar bobot buah hingga briks atau tingkat kemanisan.  

Pemenuhan kualitas nanas standar pasar itu berkat penggunaan pupuk NPK tablet jeranti. Pupuk NPK tablet jeranti merupakan produk dari PT Pupuk Kujang, yang merupakan anak perusahaan PT Pupuk Indonesia.

Nanas naik kelas berkat jeranti

Sebelum menggunakan pupuk NPK jeranti, nanas produksi Efrizal dan petani tidak mampu menembus pasar modern dan pabrik. Penyebabnya, bobot dan tingkat kemanisan tidak lolos dari yang dipersyaratkan.

Menurut Efrizal, pabrik dan pasar modern mempunyai syarat kualitas yang ketat. Misalnya, syarat nanas masuk diterima pabrik minimal bobot 800 gram dan untuk pasar modern atau supermarket bobot nanas minimal 1,5 kilogram dengan tingkat kemanisan nanas bagian tengah harus 14°briks.

“Dulu sebelum pakai jeranti, bobot nanas hanya 1 sampai 1,5 kilogram per buah dengan tingkat kemanisan 9°briks. Jelas gak bisa masuk pasar modern, hanya masuk pasar-pasar tradisional dengan harga paling tinggi Rp3.000 per kilogram,” terangnya.

Bobot buah nanas rata-rata mencapai 2 sampai 3 kilogram per buah.

Setelah memakai pupuk jeranti, menurutnya bobot buah menjadi naik, per buah bisa sampai 2 sampai 3 kilogram dengan tingkat kemanisan mencapai 16°briks. Selain bisa diterima pasar modern dan pabrik, kualitas buah itu diikuti dengan harga jual nanas naik 50 persen, menjadi Rp6.000 per kilogram.

Berkat pencapaian buah nanas berkualitas, produktivitas pun menjadi naik sebesar 30 persen. Efrizal mencontohkan, jika sebelum memakai pupuk NPK jeranti, saat masa peremajaan, per hektare dengan populasi 40 ribu tanaman produktivitas hanya 60 ton.

Adapun sesudah menggunakan pupuk NPK jeranti, Efrizal bisa mendapat 80–100 ton per hektare. Artinya dengan harga Rp6.000 per kilogram, per hektare omzet yang didapatkan bisa mencapai Rp480 juta–Rp600 juta.

Itu perhitungan panen perdana saat fase peremajaan. Dalam budidaya buah nanas, pada panen kedua dan selanjutnya akan terjadi penurunan jumlah panen. Penyebabnya, kualitas pertumbuhan tunas batang buah nanas tidak bisa tumbuh serentak dan berkualitas layaknya panen perdana.

“Setelah panen perdana, biasanya petani akan melakukan seleksi tunas batang yang berkualitas, kemudian diberikan zat pengatur tumbuh. Namun jika menginginkan hasil optimal, petani harus melakukan peremajaan tanaman nanas kembali dari awal,” jelasnya.

Tiga kali pemupukan

Efrizal merasa senang saat mengetahui produktivitas nanas meningkat. Ia mulai menggunakan pupuk NPK jeranti pada 2017, saat tim riset dari PT Pupuk Kujang memberitahu keunggulan pupuk NPK jeranti pada komoditas nanas.

Sebelumnya, menurut Efrizal, sejak 2013 hasil panen nanas yang didapat kurang optimal. Lantaran, ia hanya mengandalkan pupuk urea dan perawatan sewajarnya. Namun, ketika mendapat bimbingan dari tim riset PT Pupuk Kujang, ia mulai menerapkan perawatan tanaman seperti pemupukan dengan standar operasional yang baik, dengan aplikasi pupuk NPK jeranti.

Pupuk NPK jeranti.

“Berkat penggunaan pupuk NPK jeranti ini, kebutuhan nutrisi tanaman nanas terpenuhi. Kandungan Nitrogen (N) untuk nutrisi daun, Fosfor (P) untuk batang, dan Kalium (K) untuk nutrisi buah, jadi lengkap,” kata Efrizal.

Selain itu, untuk pengaplikasiannya juga mudah. Apalagi, bentuk pupuk NPK jeranti berbentuk tablet. Petani hanya perlu membenamkan pupuk tersebut ke dalam tanah, jarak pembenaman pupuk dengan batang 3–5 cm. Dosis per tanaman yakni 1 tablet atau 10 gram pupuk NPK jeranti.

Pengaplikasian pupuk NPK jeranti dimulai saat tanaman nanas berusia 90 hari setelah tanam (hst) atau 3 bulan setelah tanam. Kemudian dilanjutkan pemupukan kedua pada 6 bulan setelah tanam, dan terakhir atau pemupukan ketiga pada usia 9 bulan setelah tanam.

“Untuk sekali pemupukan, per hektare saya menghabiskan 400 kilogram pupuk jeranti. Artinya, dengan 3 kali pemupukan, saya menghabiskan 1,2 ton pupuk jeranti,” jelasnya.

Efrizal merasa puas sebagai pengguna pupuk NPK jeranti. Selain dirinya, anggota Kelompok Tani Nanas Mekarsari Maju juga menggunakan pupuk NPK jeranti. Saat ini total anggota Kelompok Tani Nanas Mekarsari Maju ada 60 petani, dengan total luas lahan 76 hektare. Untuk Efrizal sendiri, memiliki kebun nanas dengan luas 6 hektare.

Berkat kegigihan Efrizal bersama anggota kelompok tani dan koperasi dalam meningkatkan hasil produksi nanas dari hulu hingga hilir dan upaya pemberdayaan masyarakat, Kampung Mekarsari RT 08 RW 03 Desa Sarireja, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, dinobatkan sebagai Kampung Nanas binaan PT Pupuk Kujang pada 2021.

Oleh karena itu, dalam proses pengembangan Kampung Nanas selalu dibantu PT Pupuk Kujang yang merupakan anak perusahaan PT Pupuk Indonesia. Mulai dari bantuan mesin vacuum frying untuk pembuatan keripik, decorticator untuk serat bahan kain, hingga Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img