Friday, August 19, 2022

Nepenthes : Rezeki di Tengah Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Masih di lokasi sama, terlihat seorang pemuda berkulit putih dengan ukiran tato di tangan duduk tepekur di kursi plastik berwarna biru. Di hadapannya ada sepot N. ampullaria berkantong merah dan N. rafflesiana merah muda. Bergantian matanya menatap kedua ketakung itu. Akhirnya pilihan jatuh pada N. ampullaria. Ini buat Mama saya, ujarnya sambil menampakkan wajah puas.

Di sisi lain arena pameran, Widyawati-pemilik Rumah Bunga Widya-berseloroh pada Trubus seraya tersenyum simpul. Wah, sampai capek lo memberitahu ini tanaman apa, kata istri Soegiharto itu. Banyak yang menduga entuyut-nama di Kalimantan Barat-sejenis anggrek. Apalagi Agustina Listiawati-pemilik Khuby Orchids dan Widyawati memang semula lebih dikenal sebagai pemain anggrek.

Toh meski mesti berulang menjelaskan tentang si kantong semar, Lies dan Widya tak mengeluh. Banyaknya pengunjung berimbas langsung pada penjualan. Sampai 14 Agustus-berarti pameran baru setengah jalan dari rencana hingga 28 Agustus 2006-18 dus nepenthes dari stan Khuby Orchids terjual. Masing-masing berisi 30 kendi kera beragam jenis. Sebut saja N. ampullaria, N. rafflesiana, N. mirabilis, N. gracilis, dan N. reinwardtiana. Dengan harga minimal Rp100.000 untuk nepenthes dalam pot 10 cm, berarti omzet mencapai Rp54-juta. Padahal, Lies juga memajang pitcher plant dewasa dalam pot 12-15 cm seharga minimal Rp200.000.

Laris-manis

Penjualan di stan Suska Nurseri milik M A Suska tak kalah kencang. Selama 12 hari pertama Rp60- juta sudah masuk ke kantong. Itu hasil penjualan sekitar 500 pot. Sekitar 75% penjualan N. ventrata dan N. truncata di pot kecil berdiameter 7 cm, kata Suska.

Para pemilik stan yang memajang si kantung beruk
memang tengah menikmati manisnya bisnis tanaman pemakan serangga itu.

Kondisi setali 3 uang juga Trubus temukan di stan Samsara Nurseri milik Fendi Salim. Di sana nepenthes ditata di dekat pintu masuk sehingga menarik perhatian. Alhasil, pameran baru berjalan kaditidiang baruak sudah ludes. Fendi menghitung, dari 100 pot nepenthes dalam pot 20 cm tinggal 13 pot. Pot 9 cm tersisa 30 pot dari total 100 pot. Sudah 230 pot 7 cm terjual dari 300 pot yang disediakan. Dengan kisaran harga Rp30.000- Rp200.000, Samsara Nurseri menangguk omzet Rp27-juta. Di stan Rumah Bunga Widya 300 pot laris-manis. Widya dan suami mematok harga Rp50.000-Rp75.000 untuk jenis-jenis asal kultur jaringan di pot 10 cm. Sementara barang koleksi, misal N. maxima asal Sulawesi dengan kantong menarik berbibir merah di pot gantung dibanderol Rp500.000. Pendek kata tanaman kecil, sedang, dan besar semua laris-manis.

Begitulah. Para pemilik stan yang memajang si kancung beruk memang tengah menikmati manisnya tanaman pemakan serangga itu. Lies menghitung omzet yang diperoleh setengah perjalanan pameran 4 kali lipat nilai penjualan pada pameran di Bali dan Bandung yang diikuti 1- 2 bulan sebelumnya.

Berlipat

Widya pun mengamini. Dalam ekshibisi di luar Pameran Flora dan Fauna, stan Rumah Bunga biasanya hanya sanggup menjual 50-100 pot. Pameran Flora dan Fauna kali ini boleh dibilang ajang panen raya. Setahun silam di ajang sama, Widya hanya membawa 50 pot N. gracilis dengan harga Rp50.000 per pot. Stan yang menjajakan si periuk monyet pun baru satu-dua. Selain Rumah Bunga Widya ada gerai Kreatif Flora milik dr Purbo Djojokusumo yang memajang N. ventrata.

Bandingkan dengan Pameran Flora dan Fauna tahun ini. Di ajang ekshibisi memperingati hari ulang tahun Jakarta itu tercatat minimal 7 stan menawarkan anggota famili Nephentaceae. Selain yang disebut di atas, ada juga stan Borneo Exotic yang memajang kantong hoki berukuran besar. Pun stan Oasis Sentul, Alam Flora, dan stan tanpa nama milik Sofyan dari Kalimantan Tengah.

Bukan tanpa alasan ketakung naik daun. Publisitas media membuat banyak orang mengenal nepenthes. Sebut saja Suyanto. Pria 71 tahun itu jadi kesengsem pada si kantong beruk gara-gara membaca Trubus. Selama 12 hari pertama pameran mantan direktur PT PLN itu sudah 3 kali datang. Setiap kali pula ia menenteng entuyut pulang.

Waktu Trubus berjumpa, Suyanto sedang menimbang-nimbang untuk membeli N. ampullaria berkantong merah polos yang tumbuh meroset di nampan plastik berukuran 30 cm x 40 cm. Di rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pria yang mengoleksi tanaman buah dalam pot di kantornya itu punya N. reinwardtiana dan N. rafflesiana. Sekarang sudah lebih banyak orang tahu nepenthes, kata Widya.

Merah favorit

Para pembeli awam rata-rata baru kali pertama mengenal nepenthes. Menurut Suska mereka umumnya memilih jenis yang murah, gampang dirawat, dan cepat besar. Ada juga yang sudah pernah merawat nepenthes tapi sang entuyut mati. Mereka pun kerap mengeluh, setelah dirawat periuk monyet mogok berkantong.

Setelah ngobrol biasanya ketahuan. Nepenthes diletakkan di tempat kurang cahaya dan kurang lembap. Padahal agar hidup dan mengeluarkan kantong, nepenthes butuh cahaya matahari dan kelembapan cukup tinggi, sekitar 75%, papar Soegiharto. Mereka yang tak kapok kemudian membeli ulang.

Uniknya penggemar anyar ketakung sangat beragam. Mulai dari anak-anak, remaja putri, pria muda, kaum bapak, para ibu, sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Saat melintas di depan stan milik Sofyan, Trubus melihat seorang anak lelaki menarik tangan ayahnya masuk. Ayo kita lihat nepenthes dulu, kata si anak.

Para pemain pun sepakat. Rata-rata pembeli mencari jenis berkantong merah. Para konsumen yang kebanyakan warga keturunan Tionghoa percaya, warna merah membawa keberuntungan. Selain merah, warna kantong kekuningan juga dicari. Menurut Dr Akino W Azzaro, master fengshui, kuning berarti rezeki.

Dari Malaysia

Terlepas dari urusan hoki. Bisnis nepenthes kini memang tengah menanjak. Selain terlihat dari ajang pameran, indikasi lain ialah penambahan jumlah pemain. Di Jakarta misalnya, ada Freddy Wijayanto. Pemilik Millenium Nurseri yang beken dengan usaha euphorbia dan adenium itu mulai melirik entuyut.

Awal Agustus 2006, Freddy mendatangkan 700 pot dari sebuah pulau di Sumatera. Sejumlah 200 pot langsung diborong pembeli untuk dipamerkan di ajang ekshibisi Flora dan Fauna. Jenis yang dimiliki antara lain N. ampullaria, N. gracilis, N. rafflesiana, N. reinwardtiana, dan N. hookeriana. Pun Fendi Salim yang semula bermain adenium.

Pilihan terjun ke bisnis nepenthes bermula dari hobi. Pria asal Kalimantan Barat itu baru setahun terakhir mengoleksi tahul-tahul-nama di Sumatera. Pada Juli silam, mengimpor tanaman karnivora dari Malaysia. Kobe-kobe didatangkan dalam bentuk tanaman muda hingga remaja. Total jenderal ada 1.000 pot terdiri dari N. ampullaria dan N. rafflesiana. Itulah sebagian yang dijajakan di pameran di Lapangan Banteng.

Pilihan mendatangkan dari Malaysia bukan tanpa alasan. Negeri jiran sudah lebih dulu serius mengembangkan kancung beruk itu. Nama Malesiana Tropica-nurseri di Serawak-pasti akrab di telinga pencinta nepenthes. Nepenthes salah satu tanaman hias yang sedang digemari di Malaysia, ujar Choon Thin Yat. Pemilik EQ Resource di Perak, Malaysia, itu sejak 4 tahun silam rutin membuat kultur jaringan entuyut.

Produksi pada 2006 mencapai 200.000 tanaman. Jumlah itu sebagian besar diserap pasar lokal. Sisanya untuk pengiriman ke Indonesia, Thailand, dan Taiwan. Seorang rekan Choon memproduksi nepenthes dalam terarium. Dengan model itu, si pemakan serangga juga bisa dinikmati di dalam rumah.

Prediksi

Senada dengan para pemain lokal, Choon percaya tren nepenthes bakal panjang. Sekarang di Asia nepenthes sedang populer, terutama di Jepang, tutur pria yang puluhan tahun berkecimpung di bidang kultur jaringan itu. Soegiharto memprediksi dalam 2-3 tahun bisnis si kantong beruk masih menjanjikan. Pasar ke daerah pun baru mulai bergulir.

Lagipula masih banyak jenis yang belum tereksplorasi. Kehadiran entuyut-entuyut baru itu membuat daftar koleksi para kolektor kian panjang. Itu berarti keberuntungan dari si kantong rezeki masih berlanjut. (Evy Syariefa/Peliput: Rosy Nur Apriyanti).

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img