Monday, August 8, 2022

Nikmatnya Makan Cempedak Biji Kempes

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sayang, buah tak dapat dicicipi karena masih muda. ‘Dicari yang tua tetap tak ketemu,’ kata Andretha Helmina, wartawan Trubus. Di kebun milik Mulyono Sutejo di Singkawang, Kalimantan Barat itu ada 200 pohon cempedak biji kempes. Sebanyak 50 pohon berumur 6 tahun dan berproduksi sejak 3 tahun silam. Sisanya, 150 pohon, masih berumur 2 tahun.

Nikmatnya cempedak berbiji kempes baru dicicipi 6 bulan berselang di Malang, Jawa Timur. Di kebun milik dr Hendrarko SpKJ, di Bunton, Malang, wartawan Trubus, Destika Cahyana, mencicipi kerabat sukun itu. Rasanya? Hmm, manis dan lengket di lidah. Sayang, nyamplung buah sedikit. Dari buah berbentuk memanjang tak beraturan sepanjang 27 cm hanya terdapat 12 nyamplung. Daging buah kuning agak jingga. Yang agak unik, dami – penyekat antarbuah – juga rasanya manis.

Menurut Hendrarko, cempedak berbiji kempes itu berasal dari Kuching, Malaysia, dan Singkawang, Kalimantan Barat. ‘Awalnya saya membeli di Kuching, tapi ternyata banyak sekali di Singkawang. Total saya membawa 6 pohon dari kedua tempat itu,’ kata mantan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya itu. Bibit asal okulasi yang dibawa 5 tahun silam mulai belajar berbuah saat berumur 2 tahun. Penelusuran Trubus, bibit milik Hendrarko dan Mulyono itu mulanya berasal dari Thailand.

Mutasi alam

Menurut Gregorius Garnadi Hambali, pakar botani di Bogor, keragaman genetik memang selalu ditemukan dalam sebuah spesies – termasuk cempedak. Misalnya, asam Tamarindus indica pun memiliki jenis yang manis. Asam berasa manis itu banyak ditemukan di Th ailand. ‘Begitu juga ukuran biji cempedak, ada yang berbiji besar dan ada yang kempes,’ kata penyilang nangkadak – silangan nangka dan cempedak – itu. Variasi biji yang beragam banyak ditemukan pada durian. Jenis lokal unggul seperti sukun dan hepe berbiji kempes, tapi kebanyakan jenis lokal berbiji besar.

Ir Lutfi Bansir MS, hobiis buah-buahan di Bulungan, Kalimantan Timur, mengatakan cempedak berbiji kempes atau tanpa biji lebih disukai karena persentase bagian buah yang dapat dimakan menjadi lebih besar. Sayang, jumlah individu berbiji kempes di alam jauh lebih langka ketimbang buah dengan ukuran biji normal. ‘Penyerbukan biasanya terhambat. Biji kempes pun tak menghasilkan individu baru,’ kata Greg. Pada cempedak berbiji normal, biji dari nyamplung yang dimakan mamalia berpeluang menjadi generasi berikutnya.

Menurut Dr M Jawal Anwaruddin Syah, peneliti buah-buahan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Pasarminggu, Jakarta Selatan, di alam beberapa buah tanpa biji memiliki mekanisme perbanyakan alami lewat akar. ‘Bila akar terluka, maka terbentuk tunas dan muncul individu baru,’ katanya. Itu biasa ditemukan pada kesemek dan sukun. Keduanya memang dikenal sebagai buah seedless. Toh, menurut Jawal, perbanyakan paling cepat buah tanpa biji dan berbiji kempes terjadi setelah campur tangan manusia melalui perbanyakan vegetatif.

Pada cempedak berbiji kempes, peluang terbesar muncul dari mutasi alami. ‘Kecil sekali kemungkinan rekayasa genetika untuk menghasilkan cempedak tanpa biji. Soalnya, cempedak bukan buah yang dianggap bernilai ekonomi tinggi oleh perusahan agribisnis besar,’ katanya. Berbeda dengan semangka tanpa biji yang dihasilkan dengan teknologi modern. Kromosom semangka yang diploid dilipatgandakan menjadi tetraploid. Lalu semangka tetraploid dan diploid disilangkan untuk menghasilkan triploid. Yang disebut terakhir biasanya tanpa biji.

Tajuk melebar

Tajuk cempedak biji kempes yang cenderung melebar pun dimungkinkan karena 2 hal. Yang pertama karena secara genetik pertumbuhan cenderung melebar. Lazimnya di habitat asli, batang cempedak tunggal dan meninggi. Tajuk baru terbentuk 3 – 4 m di atas permukaan tanah. Kemungkinan kedua karena cempedak ditanam di kebun dengan jarak tanam tertentu. Artinya, campedak tak perlu tumbuh meninggi untuk mencari cahaya seperti di habitat aslinya. ‘Bila jarak tanam lebar, mereka tak perlu berkompetisi untuk menangkap sinar matahari,’ kata Jawal.

Di kebun Mulyono, banyak percabangan sejak dari pangkal batang, terjadi karena teknik pemangkasan. Tanaman secara alami memiliki sifat apical dominan, yaitu pertumbuhan pucuk cenderung dominan. Itu karena aktivitas hormon auksin yang dihasilkan di bawah titik tumbuh dekat pucuk. Selama pucuk atau batang tidak dipangkas, maka pertumbuhan tunas ke samping terhambat. Itu karena aliran auksin dari pucuk ke akar melaju dengan deras. Pemangkasan menghambat aliran auksin itu dan memungkinkan sitokinin yang diproduksi di ujung akar memicu pertumbuhan cabang samping di daerah percabangan. (Destika Cahyana/Peliput: Dian Adijaya Susanto, dan Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img