Sunday, November 27, 2022

Nilam: Strategi di Dataran Tinggi

Rekomendasi

 

Agus Yana mengebunkan nilam Pogostemon cablin di Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berketinggian 900 m dpl. Menurut Dra Endang Hadipoentyanti MS, periset di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik di Bogor, Jawa Barat, nilam memang lebih pas dikebunkan di dataran rendah berketinggian 0 – 500 m dpl. Di dataran rendah intensitas sinar matahari tinggi, 10.000 foot candle (fc). Dataran tinggi, 7.000 fc.

Harap mafhum, intensitas sinar matahari tinggi mempengaruhi proses metabolisme sekunder pada tanaman. ‘Proses itulah yang mengaktifkan kelenjar minyak di daun,’ kata Endang. Artinya, jika proses metabolisme lebih kerap, produksi minyak lebih banyak. Faktor lain suhu. Pada suhu 27oCpembentukan patchouli oil – senyawa dalam minyak nilam – lebih cepat. Jika suhu lebih rendah, proses pembentukan berjalan lambat. Di dataran rendah kisaran suhu harian antara 21 – 30oC, di dataran tinggi 16 – 22oC.

Kelembapan ideal untuk budidaya nilam adalah 70%. Jika kelembapan lebih tinggi daripada itu, laju evaporasi terhambat akibat udara jenuh. Kurang dari itu evaporasi terlalu cepat hingga tanaman kehilangan air terlalu cepat. Di dataran rendah kelembapan rata-rata di bawah 60%, dataran tinggi di atas 70%.

Rekayasa budidaya

Dari fakta itulah muncul anggapan rendemen nilam yang ditanam di dataran tinggi lebih rendah daripada nilam dari dataran rendah. Lalu apa rahasia Agus Yana menuai rendemen tinggi? Agus menanam varietas sidikalang, salah satu varietas unggulan. Hasil riset Endang Hadipoentyanti menunjukkan produksi sidikalang 21 ton kering per ha. Nilam berproduksi perdana pada umur 6 bulan. Panen berikutnya dengan interval 4 bulan selama 2 bulan. Dalam satu periode tanam, pekebun memanen 5 kali.

Menurut Endang, sidikalang memang berendemen tinggi. Kadar patchouli alcohol sidikalang 32,95%. Mari membandingkan dengan varietas unggul nilam lain seperti tapaktuan dan lhokseumawe. Yang disebut pertama, unggul dalam produksi, mencapai 26 ton per ha dan kadar patchouli alcohol 33,31%. Agus akhirnya memilih sidikalang lantaran varietas itu toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda dibanding ke-2 varietas lain.

Penyakit layu bakteri dan nematoda acap kali menggagalkan panen. Tingkat kerugian akibat serangan organisme pengganggu itu mencapai 60 – 95%. Sidikalang toleran karena mengandung fenol dan lignin mencapai 81,45 ppm.

Meski sama-sama menanam sidikalang di Gekbrong, Cianjur, Supardin hanya memperoleh rendemen 1,7%. Padahal teknologi penyulingan yang dipakai pun sama: sistem uap langsung. Selisih 0,3% sangat berarti. Jika volume penyulingan 12 ton, selisihnya setara 36 kg minyak.

Pembedanya, Agus Yana membudi-dayakan nilam secara intensif. Lahan terbuka dan tak ternaungi sehingga tanaman menerima sinar matahari secara penuh. Kelembapan di tempat Agus sekitar 70%. Setelah penyiapan bibit, Agus membersihkan kebun dari gulma dan mencangkul lahan sedalam 30 cm. Selanjutnya ia membuat bedengan: lebar 1,2 m, panjang 20 m, tinggi 0,4 m, dan jarak antarbedengan 80 cm.

Setelah itu ia membuat lubang tanam sedalam 30 cm berjarak 100 cm x 80 cm dan dalam lubang 30 cm. Jarak terlalu rapat dihindari karena menghambat proses fotosintesis. Di setiap lubang tanam, Agus menaburkan 1,3 kg pupuk kandang kering dan membiarkan selama 2 pekan. Sehari sebelum tanam, Agus menaburkan 1 g insektisida sekaligus nematisida berbahan aktif karbofuran untuk mencegah serangan hama.

Pupuk organik

Penanaman nilam sebaiknya pada musim hujan karena tanaman perlu banyak air. Meski demikian, tetap memungkinkan menanam nilam pada musim kemarau. Caranya bibit dinaungi pelepah pisang selama 5 hari agar tanaman beradaptasi. Pelepah pisang mengurangi evaporasi.

Sebulan berselang, pekebun berusia 45 tahun itu menyiangi tanaman. Sembari itu Agus memberi 5 gram Urea per tanaman. Urea dibenamkan 5 cm di bawah permukaan tanah berjarak 5 – 10 cm dari tanaman. Pemupukan berikutnya ketika tanaman berumur 3 bulan. Ia memberikan campuran masing-masing 5 gram Urea, KCl, dan TSPdi setiap tanaman.

Perawatan lain berupa pemberian pupuk organik dari kotoran kambing, daun-daun kering, dan mikroorganisme. Proses pembuatannya, untuk kapasitas tangki 200 liter, kotoran kambing mengisi setengahnya. Fermentasi dengan bakteri itu berlangsung selama 10 hari. Sebelum penggunaan, hasil fermentasi itu ia saring. Agus mencampurkan 1 liter larutan fermentasi dan 10 liter air. Campuran itu ia siramkan ke sekujur nilam. Frekuensi penyemprotan sekali sepekan.

Menurut Prof Dr Dedik Budianta, ahli kesuburan tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, semakin kental cairan pupuk organik, semakin banyak koloid yang terkandung. Koloid mampu mengikat air hingga 25%. Cara itulah yang tak diterapkan oleh para pekebun nilam. Dengan rekayasa budidaya itu, tanaman nilam tumbuh subur dan kokoh.

Pada umur 6 bulan, tanaman anggota famili Labiatae itu siap panen. Agus memetik nilam pada pukul 06.00 – 08.00 ketika laju fotosintesis masih rendah. Laju fotosintesis yang sangat kuat menurunkan rendemen. Agus menyisakan 20 cm batang bawah agar nilam dapat kembali berproduksi. Usai panen, Agus memberikan 1,3 kg pupuk kandang per rumpun nilam. Empat bulan berselang nilam siap panen kembali.

Dengan kombinasi cara-cara itu Sarjana Fisika alumnus Institut Teknologi Bandung itu menuai 100 ton segar setara 25 ton kering dari 15.000 batang nilam per ha.

Itu lebih tinggi dari produktivitas nilam di kebun Sutikno di Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berketingian 640 m dpl yang hanya 70 – 80 ton basah. Pengalaman Agus sejak 2001 menanam nilam di Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berketinggian 900 m dpl, pada musim kemarau rendemen berkisar 2,4 – 2,5%. Bagi Agus Yana dataran tinggi bukan halangan untuk menuai produktivitas dan rendemen tinggi. (Faiz Yajri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img