Sunday, August 14, 2022

Nutrisi Apik Kopi Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pengolahan pupuk kandang menjadi kompos baik untuk lingkungan.(foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Pupuk organik memenuhi kebutuhan hara tanaman kopi, terjangkau, dan ramah lingkungan.

Ngadiyanto rutin memanen 8 ton biji kopi kering (green bean) organik dari kebun seluas 10 hektare (ha). Artinya produktivitas kebun mencapai 800 kilogram (kg) biji kopi kering per ha. Hasil panen itu lebih tinggi dibandingkan dengan masa peralihan dari konvensional menjadi organik. “Saat itu panen anjlok hingga 60% setara 320 kg per ha,” kata pekebun kopi robusta di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu.

Menerapkan prinsip organik berarti Ngadiyanto hanya menggunakan bahan-bahan alam untuk membudidayakan kopi. Ia mengandalkan pupuk organik berbahan dasar kotoran kambing di sekitar kebun. Kebetulan para pekebun kopi di kawasan itu juga memelihara kambing. Aplikasi pupuk 2 kali setahun yaitu mulai musim hujan untuk merangsang pertumbuhan dan akhir musim hujan agar hara tanah bertambah.

Pupuk gratis

Setiap tanaman mendapatkan 5—10 kg pupuk organik. Kiryono memiliki racikan pupuk organik sendiri untuk tanaman kopi miliknya. Pekebun kopi di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memanfaatkan humus dan kotoran kambing sebagai sumber hara di kebun kopi. Kiryono mendapatkan humus yang melimpah dari lantai hutan tanpa biaya sepeser pun. Kebun kopi Kiryono memang berdekatan dengan hutan.

Adapun kotoran kambing berasal dari peternak di sekitar kebun. Mereka rutin menyetorkan kotoran kambing kepada Kiryono. Sebagian besar pupuk kambing pun gratis. “Kecuali lokasi pengambilan jauh sehigga ada biaya transportasi,” kata Ketua Kelompok Tani Hutan Cibulao Hijau itu. Boleh dibilang sebagain besar pasokan pupuk organik di kebun kopi milik Kiryono gratis.

Tentu saja ia menghemat ongkos pupuk yang cukup signifikan. Perbandingan antara pupuk kandang dan humus tidak menentu. Tergantung dari pasokan karena setiap hari jumlahnya berbeda. Yang pasti tanaman berukuran besar memperoleh lebih banyak pupuk organik. Adapun tanaman yang baru tumbuh menerima lebih sedikit pupuk organik. Apalagi tanaman muda mendapatkan ‘subsidi’ dari pupuk yang diberikan untuk sayuran.

Lazimnya Kiryono menumpangsarikan kopi dengan sayuran hingga tanaman berumur setahun. Saat itu ia tidak bisa menanam sayuran karena ternaungi kopi. Sejak itulah ia membudidayakan kopi secara organik. Kiryono hanya memberikan pupuk organik sekali setahun yaitu menjelang musim hujan. Dengan cara itu hasil panen lumayan. Ia memanen 480 kg biji kopi robusta kering per ha per tahun. Sementara produktivitas kopi arabika mencapai 800 kg biji kopi kering/ha/tahun.

Pekebun kopi di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Ngadiyanto. (foto : dok Ngadiyanto)

Jumlah itu memang masih lebih rendah dibandingkan dengan kopi yang dibudiyakan secara anorganik. “Setidaknya kita sudah berkontribusi bagi lingkungan dan masih menguntungkan,” kata pria kelahiran Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, itu. Kopi arabika milik Kiryono lebih tinggi produktivitasnya karena kebun berada di ketinggian 1.000—1.350 m di atas permukaan laut (m dpl). Ketinggian lahan itu lebih cocok untuk arabika, sedangkan robusta kurang pas sehingga berproduktivitas rendah.

Sesuai riset

Kini ia dan kelompok tani lebih banyak mengembangkan arabika di lahan 150 ha. Adapun untuk robusta hanya 25 ha. Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ir. Irma Villayanti, mengatakan, pemanfaatan humus dan pupuk kandang seperti yang dilakukan Kiryono dan anggota kelompok tani sudah tepat. Alasannya masyarakat memanfaatkan potensi alam sekitar sehingga tidak bergantung pada sumber daya dari luar.

Meski hanya mengandalkan humus dan pupuk kandang, hasil panen tetap menguntungkan. Hasil penelitian Atiqah Aulia Hanuf dan rekan dari Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, menunjukkan, campuran 800 kg kotoran kambing, 20 kg dedak, dan dekomposer menghasilkan kompos kotoran kambing yang memenuhi prasyarat kualitas kimiawi kematangan kompos sesuai SNI 19-7030-2004. Kompos itu mengandung 92% air; pH 7,24; 32,28% C-organik; 1,98% N; dan 13,16% rasio C/N .

Kompos yang dibikin selama 8 pekan itu juga memenuhi prasyarat kualitas fisik yang ditetapkan antara lain memiliki suhu 29,7oC, berwarna kehitaman, serta bertekstur dan berbau seperti tanah. Pembuatan kompos menjadi solusi tepat agar pengelolaan limbah kotoran dapat digunakan kembali untuk tanaman. Atiqah dan tim menyatakan masyarakat mesti mengetahui cara pengomposan yang baik agar dapat mengelola limbah domestik termasuk kotoran ternak. Yang terpenting kompos meningkatkan kualitas agroekosistem kebun kopi. (Imam Wiguna/Peliput: Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img