Friday, December 2, 2022

Nyi Pohaci 9,5 Ton/Ha

Rekomendasi

Satu malai, 762 bulir. Lazimnya 150-200 bulir per malai.

Itu produktivitas padi nilam sari yang dibudidayakan H Fadoli, petani di Mojotengah, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Pada 2009 Fadoli menanam bibit di lahan seluas 1 ha dan panen 4 bulan kemudian. Produktivitasnya 600-800 bulir per malai atau total jenderal 9,5 ton gabah kering giling (GKG) per ha. Itu lonjakan yang luar biasa. Fatmawati, varietas lain yang dikenal berbulir terbanyak hanya memiliki 300 butir per malai. Varietas bunda, 400 bulir per malai.

 

Saat beras nilam sari ditanak, rasanya enak dan pulen. “Sayang persentase gabah hampa masih amat tinggi, mencapai 25%,” kata Fadoli. Toh dengan jumlah bulir spektakuler, masih tersisa 500-600 butir yang masih bernas. Kelemahan lainnya butir gabah nilam sari relatif besar sehingga banyak yang pecah saat digiling.

Berbeda

Prof Dr Ir Iswandi Anas, ketua program teknologi SRI (System of Rice Intensification) Indonesia, belum pernah menemukan padi seproduktif itu. “Jika benar produktiviatasnya tinggi, sesuatu yang sangat baik bagi petani,” tutur guru besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor, itu.

Dr Sarlan Abdurrahman, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, menuturkan selama ini malai terbanyak dihasilkan oleh padi fatmawati. Ia juga belum pernah mendengar tentang nilam sari di Pasuruan itu. “Pada padi bulir banyak memang butiran hampanya tinggi,” kata Sarlan.

Nilam sari juga disematkan pada padi hasil silangan Ngadiman Masmudin, pemulia padi di Lakbok, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Penyilang padi sejak 2003 itu sudah menghasilkan lebih dari 50 silangan. Salah satu di antaranya diberi nama nilam sari.

Menurutnya, nilam sari memang sudah beredar di Jawa Timur. Namun, ia tidak bisa memastikan apakah nilam sari di sawah Fadoli benar hasil silangannya. Sebab menurut Ngadiman, nilam sari silangannya “hanya” menghasilkan 225 bulir per malai atau 8,5 ton GKG per ha. Angka itu sejatinya relatif tinggi karena produktivitas nasional rata-rata hanya 3-4,5 ton GKG per ha.

Kelebihannya masa panen cepat, 85 hari. Rasanya pun enak, pulen dengan aroma harum. Menurut Sarlan, satu varietas yang sama jumlah bulirnya tidak akan meningkat sangat banyak karena terkait dengan sifat genetik dari induknya. Jadi kemungkinan kedua nilam sari di atas merupakan 2 jenis yang berbeda.

Asal Ciamis

Itu diperkuat oleh informasi dari Sudamanto, petani di Tuban, Jawa Timur. Menurutnya, nilam sari jenis padi lokal setempat yang dikembangkan oleh CSR sebuah perusahaan produsen rokok. Selain nilam sari, di sana juga dikembangkan varietas MSP (Mari Sejahterakan Petani) oleh sebuah partai politik. MSP malah sudah ditanam secara luas di 20 provinsi. Keistimewaan sama, bulir padi di atas 500. Malainya memang lebih panjang dari padi umum sehingga bulir bisa lebih banyak.

Nilam sari Ciamis dihasilkan dari persilangan padi jero-padi lokal-sebagai jantan dengan ngaos rinjani sebagai  induk betina. Padi jero punya kelebihan bermalai panjang dengan produktivitas 180-200 bulir per malai. Sayang umur panennya mencapai 6-7 bulan sehingga petani enggan menanam.

Ngadiman memperbaiki sifat itu dengan mengawinkan padi jero dengan ngaos rinjani yang berumur panen cepat, yakni 3 bulan. Ngaos rinjani juga merupakan padi silangan Ngadiman.  Hasil persilangan itu melahirkan nilam sari yang bermalai panjang dan cepat panen.

Selain nilam sari, Ngadiman menghasilkan: ngaos lestari, sri ayu, ngaos sriatun, putra lakbok, temon sari, ambar sari, sri kuning, sari wangi, dan kembar siam. Varietas terakhir ini cukup unik karena dari 1 butir, lahir 2 tunas, sehingga produktivitas tentu jadi berlipat.

Optimal karena SRI

Padi-padi varietas baru itu berproduksi optimal bila ditanam dengan metode SRI (lihat ilustrasi). Itu dipadukan dengan pemupukan dengan nutrisi organik berbahan mikroorganisme lokal (MOL) yang diberikan lewat daun dengan pengenceran 15 kali. Petani memberikan MOL berbahan dasar tulang ikan, limbah buah-buahan, atau rebung bambu.

Pemberiannya saat penyiangan ke-1-4, fase primordial, dan saat pengisian bulir. Dosis sebanyak 10 l/ha per perlakuan yang diaplikasikan pada pagi hari sebelum matahari terbit atau sore hari. Hasil perlakuan itu berujung pada produktivitas 225 bulir per malai atau 8,5 ton GKG per ha padi nilam sari, di Ciamis. (Syah Angkasa)

Keterangan Foto :

  1. Batang kekar, umur genjah, dan anakan banyak
  2. Ngaos rinjani, salah satu indukan nilam sari

 

 

 

Previous articleJack Jadi Bakpao
Next articleBukan Cuma Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img