Monday, August 8, 2022

Oase di Tengah Rimba Beton

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Maklum, itu kawasan industri yang identik dengan truk, hingar-bingar suara mesin, dan debu. Rasa penat pupus seketika saat menyaksikan kebun mangga seluas 3 ha nan asri. Ia bagai oase di tengah rimba beton.

Kebun di belakang pabrik tekstil di bilangan Muhammad Toha, Bandung, itu menyerupai miniatur Taman Mini Indonesia Indah. Begitu memasuki gerbang setinggi 2 m tampak kolam koi seluas 3.000 m2. Di pinggir kolam sebuah perahu kayuh berbentuk bebek berlabuh.

Setelah melewati aviari dan taman kaktus—3 m dari pintu gerbang —terlihat deretan pohon mangga setinggi 2,5 m tertata apik. Total populasi 250 pohon dari 10 varietas mengisi lahan seluas 3 ha. Arumanis mendominasi hampir 60%, sisanya gedong gincu, manalagi, golek, dan indramayu.

Mangifera indica itu ditanam di atas guludan selebar 80cm yang dipisahkan parit sedalam 30 cm. Di setiap ujung parit terdapat pintu air untuk memasukan air dari kolam koi berkedalaman 1,75 m.

Kerdil

Buku dan pengalaman melancong ke luar negeri jadi panduan ayah 3 anak itu menata dan merawat kebun. Saat berkunjung ke kebun anggur di Amerika, penggemar olahraga tenis itu menyaksikan Vitis vinefera tumbuh pendek lantaran rajin dipangkas. Cara itu lantas diterapkan pada mangga.

Tak heran jika sosok pohon kerdil meski berumur lebih dari 8 tahun. Tajuk rimbun dan padat. Dahan besar dan kokoh menjuntai hampir menyentuh tanah. Di ujung ranting, buah hijau mengkilap bergelantungan.

Meski sibuk sebagai direktur di perusahaan tekstil, hampir setiap sore usai jam kerja, mengendarai Mercy hitam Sulaeman menyambangi kebun. Tak segan-segan turun langsung mengobati tanaman sakit, memangkas ranting tidak produktif, atau sekadar mengecek kesehatan tanaman.

Tak melulu mangga ada di sana. Durian, sirsak, pamelo, dan nangka tumbuh baik di kebun berjarak 10 km dari pusat kota Bandung itu. Suasana asri membuat Trubus tidak merasa berada di tengah kepungan pabrik. Saat panen hasilnya disantap di rumah peristirahatan di tengah kebun. Sayang, kebun itu tidak dibuka untuk wisata umum.

Kebun digusur

Kegemaran mengoleksi tanaman buah alasan pencinta tanaman itu membuka kebun. Awalnya ia menanam 4.000 batang jeruk siam di belakang pabrik yang dibangun pada 1985. Sayang, 10 tahun kemudian kebun itu dikorbankan karena perluasan pabrik.

Tak terperi perasaan Sulaeman kala menyaksikan buldozer menggusur pohon-pohon siem itu. Selama 3 bulan ia tidak mau melihat lahan bekas kebun jeruk. Untuk mengobati kesedihan Sulaeman membeli tanah kosong di belakang pabrik seluas 3 ha dan ditanami mangga.

Lima tahun berselang arumanis dan gedong gincu berbuah. Agar penampilan prima, buah dibungkus. “Senang banget melihat tanaman berbuah,” celetuk pria berusia 54 tahun itu. Modal besar yang dibenamkan terbayar begitu melihat tanaman berbuah.

Bila musim berbuah, saatnya pesta mangga untuk seluruh karyawan pabrik. Puluhan bakul berisi aneka jenis mangga hasil panen diletakkan di setiap pintu masuk pabrik. “Rasanya manis, segar, dan tidak berserat. Beda dengan yang ada di pasar,” ujar Koking, staf pabrik ketika mencicipi arumanis. Sosoknya pun besar, bobot mencapai 700 g per buah. (Bertha Hapsari)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img