Thursday, August 18, 2022

Obat Kanker Inspirasi dari Kera Ekor Panjang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di sanalah kawanan kera ekor panjang Macaca fascicularis berpesta pora. Pucuk menjadi santapan lezat bagi bangsa primata. Dari kebiasaan itulah lahir obat antikanker baru. Hasil riset menunjukkan daun puspa mengandung senyawa antikanker.

Puspa menyebar di berbagai daerah. Di Jawa Barat anggota famili Th eaceae itu disebut hurubatu atau hurumanuk; Sumatera Utara, simartolu. Meski dapat ditumbuh di dataran menengah, bunga cangkok—nama lainnya—lebih adaptif di ketinggian 1.300—1.600 m dpl. Di kawasan Puncak, Bogor, ia tumbuh di sekitar pertanaman teh. Ketika musim hujan, merah daunnya tampak mencolok. Tinggi pohon sekitar 3—4 m.

Daun iju—nama puspa di Jepang—yang tumbuh di hutan-hutan menjadi santapan kera. Oleh penulis dan peneliti lain dari Universitas Padjadjaran (Ahmad Muhtadi dan Rahman) daun puspa diuji secara in vitro. Bahan diekstraksi dengan pelarut metanol. Metanol itu kemudian diuapkan agar diperoleh ekstrak. Nah, untuk mengetahui efektivitas ekstrak dibuatlah percobaan dengan menginduksi sel dengan virus Epstein-Barr (EBV).

Antikanker

Sejatinya EBV merupakan virus herpes yang secara laten terinfeksi dalam B-limfosit manusia. Ia juga memicu beberapa jenis kanker. Hasilnya? Dengan konsentrasi 40 ÷g/ml, ekstrak daun puspa mempunyai daya hambat aktivasi virus 73%. Penambahan konsentrasi ternyata berbanding lurus dengan kemampuan daya hambat ekstrak. Buktinya ketika konsentrasi ditingkatkan menjadi 200 ÷g/ml, daya hambat aktivasi virus 100%. Artinya, virus dapat dimatikan akibat ekstrak sangat toksik.

Penulis juga melakukan uji lanjutan terhadap limfosit normal manusia secara in vitro. Sel limfosit yang digunakan dalam uji itu merupakan hasil isolasi dari darah pria dewasa sehat. Tujuan riset itu untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun puspa terhadap proliferasi limfosit. Proliferasi adalah pertumbuhan dan pertamambahan sel yang amat cepat tetapi dalam keadaan abnormal.

Limfosit normal mempunyai daya proliferasi tinggi seperti sel kanker. Bila ekstrak mampu menghambat proliferasi limfosit artinya juga ampuh menahan laju pertumbuhan sel kanker. Itu benar-benar terbukti dalam riset. Dengan konsentrasi 50 ÷g/ml, ekstrak daun puspa menghambat proliferasi sel kanker secara signifi kan. Artinya ekstrak daun Schima wallchii berefek toksik terhadap sel kanker.

Antimutasi

Suatu senyawa antikanker harus memenuhi syarat toksisitas selektif. Maksudnya senyawa itu harus membunuh sel kanker dan tidak banyak mengganggu sel normal. Dalam hal ini sel normal adalah sel limfosit manusia. Gangguan terhadap sel normal agaknya sulit dihindari. Soalnya, tak ada perbedaan kualitatif antara sel kanker dan sel normal. Senyawa antikanker menekan proliferasi sel dan menimbulkan toksisistas dengan menghambat pembelahan sel normal yang pertumbuhannya cepat.

Boleh jadi lantaran rutin mengkonsumsi daun puspa, kera ekor panjang tak terserang kanker. Riset tak hanya berhenti di situ. Penulis juga melakukan uji praklinis pada hewan percobaan. Harapannya efek obat terhadap mutasi dapat terungkap. Mutasi adalah perubahan tingkat gen atau kromosom sebagai pemicu karsinogenesis dan pembentukan sel kanker. Dalam riset itu penginduksi mutasi gen berupa siklofosfamida dengan konsentrasi 50 mg/kg.

Senyawa itu disuntikkan ke tubuh tikus. Hasilnya, ekstrak daun puspa ternyata menurunkan jumlah mikronukleus secara signifi kan. Mikronukleus merupakan hasil mutasi dari kromosom utuh yang rusak. Akibatnya ukurannya mengecil. Hasil uji bagai angin segar bagi masyarakat. Bukan apa-apa hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 3,4% kematian pada 1980 disebabkan kanker. Malahan pada 1992 angka itu meningkat menjadi 4,4%. Di Indonesia kanker pembunuh nomor 6.

Temuan itu jelas menggembirakan karena kian banyak alternatif jalan penyembuhan bagi pasien kanker. Kita patut berterimakasih kepada kera ekor panjang yang telah memberi ilham penemuan obat baru. Primata itu tak hanya piawai menari topeng dalam atraksi “Sarimin Pergi ke Pasar” sembari diiringi tetabuhan. Di habitatnya ia pun menunjukkan jalan kesembuhan. Terimakasih, kera ekor panjang. (Dr Anas Subarnas, dosen Farmakologi Universitas Padjadjaran)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img