Trubus.id—Lazimnya gula semut terbuat dari nira kelapa atau aren. Namun produsen olahan sorgum Muhammad Bayu Hermawan, S.H., M.H., membuat gula semut dari nira sorgum Sorghum bicolor.
Saban bulan ia memproduksi sekitar 2 ton gula semut. Padahal, semula kapasitas 500—600 kg per bulan. Menurut bayu tren permintaan gula sorgum bermerek Tambiyaku itu kian meningkat.
“Orang mulai mensubtitusi gula yang biasa dikonsumsi. Mereka mulai nyaman dan masuk ke taste gula sorgum kita,” kata Direktur eksekutif (chef executive officer, CEO PT Banua Tani Makmur Indonesia itu).
Selain gula semut, Bayu juga memproduksi gula cair sorgum. Ia memproduksi sekitar 1 ton gula cair sorgum saban bulan. Penjualan gula sorgum itu ke kedai kopi (coffee shop), toko makanan sehat, dan bakeri di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Surabaya (Jawa Timur), dan Denpasar (Bali).
Ia mematok harga gula semut Rp35.000 per kg dan gula cair Rp33.000 per liter. Penjualan secara business to business dan melalui loka pasar.
Untuk bahan baku ia bermitra dengan petani sorgum yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Bali. Petani memasok nira yang diolah dengan suhu maksimal 100oC. Harap mafhum nira sorgum tahan sehari dan jika diolah menjadi nektar sorgum tahan 2—3 hari.
Bayu juga memproduksi biji sorgum menjadi berbagai olahan seperti beras, tepung, dan kue. Kapasitas produksi 30 ton per bulan. Ia dapat memanfaatkan biji dan nira, karena menanam sorgum dwiguna seperti Bioguma 1 dan 3 serta sorgum Borneo.
Produsen lain, Lili Sutarli Suradilaga. Petani sekaligus Ketua Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi) itu mengolah gula cair dan kecap dari nira sorgum.
Setiap 1 kg gula cair berasal dari 10 kg nira atau rendemen 10%. Sementara 1 kg nira berasal dari 35 batang sorgum. Tanaman serealia itu dapat panen ganda gula dan biji.
