Wednesday, August 10, 2022

Olala, Phalaenopsis Biru!

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Phalaenopsis ungu kebiruan, hasil rekayasa pewarnaanImpian terbesar para penyilang dan pencinta anggrek bulan: memiliki phalaenopsis biru. Saat ini baru bisa didapat dengan perlakuan pascapanen.

 

Phalaenopsis berwarna tidak biasa dianggap sebagai salah satu bentuk fesyenHamparan phalaenopsis di sebuah rak budidaya di nurseri Van Geest (VG) Orchids di Ne De Lier, Belanda, itu benar-benar memanjakan mata. Ratusan anggrek bulan dalam pot berdiameter 8 cm dengan tangkai bunga kira-kira sejengkal memamerkan bunga mungil berwarna ungu kebiruan.

Sementara di rak lain, belasan phalaenopsis berbunga lebih besar dan tangkai bunga lebih panjang juga memamerkan warna tak kalah fantastis: biru tua terang. Anggrek bulan berwarna biru? Itulah salah satu persembahan terbaru dari nurseri Van Geest Orchids.

Berkat kehadiran si biru, nurseri milik Cor van Geest itu menyabet penghargaan bergengsi dalam ajang Flora Holland Award pada Mei 2011. Di ajang itu royal blue-nama si biru-menang dalam kategori Konsep. Para juri menilai si bangsawan biru begitu menarik.

Warna-warni

Pemain senior anggrek di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Amay, mengatakan, “Saya sudah dapat informasinya sekitar tiga bulan yang lalu.” Sosok sang rembulan biru baru Amay lihat di dunia maya. Hingga kini importir anggrek dari Taiwan itu masih mencari-cari sumber anggrek bulan biru itu. Sebab beberapa kali Amay menerima permintaan dari konsumen supaya ia memasukkan anggrek bulan biru itu ke tanahair.

Harap mafhum phalaenopsis biru impian para hobiis. “Selama ini tidak ada phalaenopsis berwarna biru. Kalau ini jenis baru, pasti pasar heboh,” ujar Amay. Frankie Handoyo, pemain senior anggrek di Jakarta, sepakat. “Di kalangan pehobi anggrek, memiliki anggrek warna biru merupakan idaman. Begitu juga dalam penjurian kontes anggrek. Cattleya atau vanda berwarna benar-benar biru misalnya akan mendapatkan score tinggi,” tutur Frankie.

Si biru di nurseri VG Orchids lahir dari hasil rekayasa pascapanen. Cor van Geest mengambil tanaman dewasa yang berbunga dengan minimal tiga bunga mekar. Lalu di titik tertentu ia menyuntikan larutan khusus sehingga bunga menjadi biru. Warna biru bertahan selama bunga masih hidup-sekitar 3 bulan.

Inovasi itu mampu mendongkrak harga phalaenopsis dari semula 5-6 euro atau Rp60.000-Rp72.000 per pot menjadi 8-9 euro setara Rp96.000-Rp108.000 per pot. Selain warna biru, Cor juga membuat phalaenopsis hijau, jingga, dan merah muda. “Jumlah yang diperlakukan masih sedikit kira-kira 2% dari total produksi,” tutur Cor. Sebab pasarnya masih terbatas hanya di kota besar yang menganggap itu bagian dari fesyen. Sementara hobiis di kota kecil atau pedesaan lebih menyukai yang natural.

Hak paten

Sayang, Cor menolak menjelaskan teknik menghasilkan dan duduk perkara phalaenopsis menjadi biru. Menurut Jac Niessen, periset di Wageningen University & Research Centre dalam surat eletroniknya kepada wartawan Trubus, Rosy Nur Apriyanti, saat ini teknik pewarnaan pada phalenopsis itu dipatenkan oleh nurseri VG Orchids. Oleh karena itu informasi detail tentang teknik itu tidak bisa disebarluaskan.

Periset di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian di Cimanggu, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Suyanti Satuhu BSc, menduga teknik pewarnaan pada anggrek bulan pot itu mirip dengan pewarnaan pada bunga potong. Hanya saja pada bunga potong pewarnaan dilakukan dengan teknik perendaman. Suyanti melakukan riset pewarnaan pada bunga sedap malam sejak 1990-an.

Dengan teknik pewarnaan, sedap malam yang melulu putih bersalin warna menjadi merah, biru, kuning, hijau, atau ungu. “Waktu hasil riset ini pertama kali dipamerkan pada pameran IPTEK pada 1996, banyak yang berkomentar ini hasil kloning atau varietas baru, ya?” kata periset yang kini mendalami pengolahan makanan sehat itu.

Menurut Suyanti pada prinsipnya teknik pewarnaan bisa dilakukan pada semua bunga potong, terutama yang berbatang lembut seperti sedap malam, krisan, dan gladiol. Uji coba mula-mula dilakukan pada bunga sedap malam sebab sedap malam hanya punya satu warna, putih. Untuk menghasilkan warna lain melalui teknologi pemuliaan butuh waktu lama.

Suyanti menerapkan teknik pewarnaan dengan merendam bunga selama minimal 15 menit dalam larutan pewarna. Ia membuat larutan itu dengan mengencerkan bahan pewarna makanan yang bisa ditemui di pasar dengan konsentrasi tertentu. Hasil riset Suyanti menunjukkan penggunaan pewarna tekstil tidak menghasilkan perubahan warna bunga.

Pewarna makanan berwarna biru menunjukkan respon tercepat. “Biasanya dalam 15 menit warna biru sudah terserap bunga. Pun merah dan hijau,” kata Suyanti. Sementara untuk warna kuning butuh perendaman selama satu malam. Kondisi bunga juga menentukan keberhasilan pewarnaan. Misal pada bunga yang jenuh air, pewarnaan lebih lama, pada bunga tidak jenuh air sebaliknya.

Oleh karena itu bunga yang baru petik dari lapang biasanya lebih responsif terhadap pewarnaan: cukup 15 menit direndam warna bunga sudah berubah. “Kalau bunga sudah mengalami perendalam misal selama penyimpanan di pasar bunga maka proses pewarnaan menjadi 2 jam,” tutur Suyanti.

Untuk menyiasatinya bisa dengan cara mengeringanginkan dulu bunga potong selama 1 jam sehingga kadar air dalam tanaman berkurang. Teknik pewarnaan serupa bisa diterapkan untuk menghasilkan bunga mawar bianglala, dalam satu mahkota ada beragam warna. (baca Rosa Bianglala Trubus edisi Agustus 2011 halaman 44)

Sistem penguapan

Menurut ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MS, pada prinsipnya proses pewarnaan memanfaatkan sistem transpirasi tanaman. Secara harfiah transpirasi merupakan proses hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan, terutama dari daun; selain batang, bunga, dan buah. Transpirasi terjadi ketika tumbuhan membuka stomata untuk mengambil karbondioksida dari udara untuk proses fotosintesis.

Penguapan menyebabkan air dalam pembuluh xilem-berasal dari penyerapan oleh pembuluh akar-tertarik ke atas. Proses itulah yang dimanfaatkan oleh Cor untuk mewarnai anggrek bulan. Oleh karena itu proses memasukkan cairan dari luar tidak bisa dipaksakan. “Harus disesuaikan dengan proses transpirasi dan kapasitas tampung air tanaman,” kata Edhi.

Jika proses injeksi dengan paksaan, berisiko jaringan tanaman rusak sehingga menjadi busuk. “Jadi proses pemberian warna hanya sebagai stimuli saja, selanjutnya tergantung proses transpirasi tanaman,” tutur ahli perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan itu.

Edhi menduga untuk dapat memberikan dosis dan konsentrasi cairan pewarna yang tepat, Cor terlebih dahulu menghitung laju transpirasi yaitu jumlah uap air yang dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu dan kapasitas tampung air dalam tanaman. Secara umum minimal 20% air yang diambil oleh akar tanaman dikeluarkan lagi ke udara sebagai uap air.

Setelah mendapat data itu, barulah Cor mengolah cairan mengandung zat pewarna. Ia lalu menyuntikkan cairan itu ke jaringan pembuluh tanaman. Secara otomatis cairan akan tertarik ke atas karena ada proses transpirasi di bunga. Pemilik nurseri seluas 12 ha itu juga diduga merekayasa lingkungan ketika perlakuan pewarnaan dilakukan.

Misal dengan memberikan suhu, cahaya, dan angin tambahan. “Penambahan faktor-faktor itu membuat proses transpirasi berjalan dengan lebih cepat. Dengan demikian proses naiknya zat warna ke bunga juga lebih cepat,” kata Edhi. Menurut ahli hormon itu teknik pewarnaan juga pernah ditemukan pada caladium warna merah dari Thailand.

Potensi biru

Menurut Cor warna bunga biru bertahan selama bunga segar. Namun zat pewarna hanya mengisi sel-sel yang sudah tumbuh optimal dan tidak ikut terduplikasi pada saat pertumbuhan sel. Oleh karena itu pada bunga yang masih kuncup saat pewarnaan, saat mekar warna bunga bisa jadi kembali ke warna asli. Apalagi pada tangkai-tangkai bunga yang dihasilkan berikutnya.

Dengan karakter seperti itu Frankie menduga di tanahair si biru lebih cocok dipasarkan sebagai bunga potong atau elemen dekorasi ruangan. “Penata ruang bisa menggunakan bunga dengan warna sesuai selera atau tema dekorasi,” kata Frankie. Sementara bagi pehobi anggrek pot phalaenopsis biru hasil rekayasa pascapanen menjadi kurang greget. Sebab umumnya mereka menginginkan koleksi yang permanen seperti yang didapat dari hasil hibridisasi atau rekayasa genetik.

“Menghasilkan phalaenopsis biru impian para penyilang,” tutur Ir Rizal Djaafarer, penyilang di Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Menurut Rizal secara genetis bulan biru bisa didapat dengan melakukan persilangan antara Phalaenopsis violacea ‘blue’ dan Doritis pulcherrima ‘blue’. Si biru pertama spesies asli Indonesia, tapi sangat jarang ditemukan. Sementara doritis asal Thailand. Sayang violacea koleksi Rizal mati sehingga hingga kini ia masih gagal mendapatkan rembulan biru. Dengan rekayasa genetik perubahan warna bunga yang kontras dengan warna aslinya memang dimungkinkan. Paula Eloma dari Institute of Biotechnology, University of Helsinki, Finlandia, dan Timothy Holton dari sebuah perusaahaan rekayasa gen di Victoria, Australia, mengungkap pewarnaan bunga dapat dilakukan dengan metode penyisipan DNA menggunakan agrobakterium sebagai media transformasi.

Agrobakterium biasa ditemukan pada penyakit kanker batang tanaman. “Dalam kasus ini gen penyebab kanker batang diganti dengan warna pigmen tanaman yang diinginkan,” papar Paula dan Timothy dalam laporan risetnya yang diterbitkan pada 1993. Sayangnya metode itu hanya bisa dilakukan pada tanaman yang bisa diinfeksi oleh agrobakterium. Untuk sementara teknik ala nurseri VG bisa dicoba. (Evy Syariefa/Peliput: Pranawita Karina)

Keterangan Foto :

  1. Phalaenopsis berwarna tidak biasa dianggap sebagai salah satu bentuk fesyen
  2. Phalaenopsis ungu kebiruan, hasil rekayasa pewarnaan
  3. Mawar bianglala, juga dihasilkan dari teknik pewarnaan
  4. Sedap malam, bunga potong pertama di Indonesia yang “berubah” warna karena rekayasa pascapanen
  5. Dengan teknik pewarnaan, warna bunga bisa direkayasa
  6. Suyanti Satuhu, BSc teknik pewarnaan pada bunga potong menggunakan pewarna makanan
  7. Pewarnaan pada hortensia dilakukan dengan merekayasa pH media tanam. Angka pH tinggi alias kondisi basa membuat bunga berwarna biru, pH rendah bunga jadi merah
  8. Teknik pewarnaan bisa dilakukan pada semua jenis tanaman, terutama yang berbatang lembut seperti krisan
  9. Ir Edhi Sandra MS, teknik pewarnaan memanfaatkan proses transpirasi tanaman
  10. Cor van Geest, pemilik royal blue
  11. Warna buatan juga ditemukan pada caladium
Previous articleDaun Segar Lagi
Next articleSelamat Tinggal Daun Muda
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img