Monday, August 15, 2022

Pacu Produksi dengan Jaring 3 Tingkat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Peningkatan populasi itu bisa terjadi bila kolom kosong yang selama ini tidak pernah ditempati kerapu dapat dimanfaatkan. Caranya dengan menambahkan rak-rak jaring yang disusun vertikal hingga berjarak 1,5 m di bawah permukaan air. Model pemanfaatan ‘lahan’ seperti itu sebenarnya sudah diterapkan di berbagai komoditas perikanan. Contohnya, sistem rumah susun udang galah dan lobster air tawar. Prinsipnya sama, meningkatkan populasi di lahan terbatas.

Metode itu sukses saat diadopsi untuk pembesaran kerapu di perairan Teluk Hurun, Desa Hanura, Kecamatan Padangcermin, Lampung Selatan, Juni – Desember 2005. Sebanyak 1.605 kerapu macan berukuran 75 – 100 g/ekor dibagi ke dalam 3 kelompok dan ditebar pada 1 unit KJA. ‘Kelompok pertama dibesarkan secara konvensional. Sisanya dalam jaring bertingkat dua dan tiga,’ kata Sunaryat SP, peneliti BBPBL.

Tingkatkan SR

Jaring bertingkat itu dibuat khusus. Rangkanya dari pipa PVC yang dibentuk bujur sangkar. Pipa PVC berdiameter 3,125 cm dipilih karena tahan lama, ringan, dan praktis dibongkar-pasang. Kerangka paling bawah berukuran 2,9 m x 2,9 m. Tingkat kedua dan ketiga lebih kecil ukurannya, 1,8 m x 1,8 m. Setiap jarak 20 cm, Sunaryat melubangi PVC itu agar air dapat masuk mengisi ruas-ruas pipa dan menenggelamkan jaring.

Bahan jaring dipilih polyetilen dengan kerapatan 1,5 inci sebagai dasar rak kedua dan ketiga. Celah selebar 1 m di antara jaring KJA dan rak cukup agar kerapu leluasa bergerak naik-turun ke permukaan air saat diberi pakan. Jarak antartingkat 50 cm. Jarak itu dianggap optimal untuk menciptakan kesan gelap bagi ikan demersal yang suka bersembunyi di celah-celah karang. ‘Toh kerapu tak banyak bergerak,’ kata Sunaryat. Jaring bertingkat itu ditenggelamkan dalam KJA sesaat sebelum bibit ditebar.

Pakan berupa kombinasi 46 – 47% pelet dan 53 – 54% ikan rucah ditebar dua kali sehari selama tiga bulan pertama. Tiga bulan berikutnya, interval menjadi sehari sekali. Pemberian pakan dilakukan hati-hati, sedikit demi sedikit, agar tidak ada sisa yang mengendap di dasar jaring. ‘Penebaran pakan dihentikan bila tak ada lagi kerapu naik ke permukaan untuk menyambar pakan,’ ujar alumnus Sekolah Tinggi Pertanian Surya Dharma, Lampung, itu. Pakan mengendap berbahaya karena mengundang ikan buntal masuk merusak jaring, bahkan melukai kerapu.

Agar sirkulasi air terjaga penggantian jaring dilakukan sebulan sekali. Maklum saja mata jaring sering tertutup oleh teritip, sehingga menghambat sirkulasi air. ‘Pergantian jaring penting agar kebutuhan oksigen terlarut terjaga,’ katanya. Kerapu perlu kadar oksigen di atas 5 ppm, nitrit kurang dari 0,05 ppm, dan amonia di bawah 0,02 ppm. Itu dapat dipenuhi bila sirkulasi air lancar. Selagi jaring diganti, kerangka jaring bertingkat ikut diangkat untuk dibersihkan.

Hasil panen setelah 6 bulan pemeliharaan menunjukkan pertumbuhan kerapu di jaring bertingkat sangat baik. Pertambahan panjang rata-rata mencapai 2,69 cm/hari; konvensional 2,16 cm/hari. Bobot rata-rata tertinggi terlihat pada kerapu di jaring 3 tingkat sebesar 495,53 g selama 6 bulan pemeliharaan; konvensional 392,90 g/ekor. Hebatnya lagi, angka kelulusan hidup (SR) di KJA yang menggunakan jaring 3 tingkat mencapai 93,08%; konvensional 87,10%. Ukuran panen juga seragam 600 g/ekor.

Turunkan stres

Di KJA tradisional, sebagian kerapu macan memang tak mendapat tempat di dasar sehingga bergerombol di sudut-sudut jaring. ‘Ikan yang bergerombol di pojok itu rentan stres,’ kata Pengawas Perikanan Ahli Muda itu. Maklum, saat ombak tinggi datang ikan perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mempertahankan posisi agar tidak terombang-ambing.

Itu diamini Prof Asikin Djamali, peneliti kerapu di Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI di Jakarta Utara. Menurut Asikin budidaya kerapu berhasil bila kondisi lingkungan KJA terkontrol. ‘Yang utama parameter lingkungan aslinya terpenuhi,’ ujarnya. Tak kalah penting, kerapu hidup di perairan karang yang tenang. Ikan demersal itu menjadi mudah stres bila terus-menerus dihantam gelombang besar.

Kerapu memang ikan sensitif. Epinephelus fuscoguttatus itu stres terutama bila kondisi perairan berubah-ubah. Jika tingkat stres terlalu tinggi, energi tidak hanya digunakan untuk pertumbuhan tetapi juga untuk pemulihan. Nafsu makan pun menurun. ‘Itu menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat,’ kata Sunaryat.

Jaring bertingkat menurunkan tingkat stres lantaran dasar jaring yang dapat dihuni kerapu semakin luas. Kondisi air di dasar jaring lebih tenang dibanding di sudut-sudut jaring yang mudah terempas ombak. Hasil panen otomatis seragam lantaran seluruh kerapu mendapat ruang cukup di bagian dasar jaring.

Penempatan jaring bertingkat membantu konstruksi KJA tetap kokoh dan tak mudah berubah bentuk meski datang ombak tinggi. Suasana di bagian dalam jaring pun lebih gelap dan kerapu aman. Itu mengakomodasi kebutuhan sebagai ikan karnivora yang bersembunyi di celah-celah karang. ‘Pengamatan di lapangan menunjukkan 60% kerapu menghuni tingkat terbawah, paling gelap, semakin ke atas semakin sedikit,’ kata Sunaryat.

Murah

Penemuan itu tentu membawa angin segar bagi peternak. Maklum saja, kerapu belum benar-benar sukses dibudidayakan. SR-nya terbilang rendah, 60%. Bila kondisi cuaca dan perairan tidak menentu, tingkat kematian bisa jauh lebih tinggi. ‘Selama ini budidaya kerapu hanya memasrahkan hasil panen pada kemurahan alam,’ ujar Bangun Sitepu, peternak di Tanjungputus, Lampung. Menurutnya sekecil apa pun teknologi yang dapat menekan SR sangat bermanfaat bagi peternak.

‘Lagipula harga pembuatan satu unit jaring bertingkat tergolong murah Rp750.000,’ ujar Sunaryat. Menariknya, penggunaan jaring bertingkat itu juga membantu peternak menekan biaya produksi. Bila memelihara 550 kerapu butuh 2 jaring berukuran 3 m x 3 m x 3 m, kini cukup satu saja. ‘Efektivitas jaring bertingkat mencapai 200,30% dibanding tradisional,’ ujar pria yang dianugerahi best paper in finfish session di Indonesian Aquaculture 2007.

Penelitian lanjutan dilakukan Sunaryat pada 2007. Hasilnya, padat tebar hingga 750 ekor/jaring lebih ekonomis dibandingkan padat tebar 550 – 650 ekor per jaring. ‘Meski SR lebih rendah, total volume panen dan laba lebih tinggi,’ kata Sunaryat. (Andretha Helmina)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img