Monday, November 28, 2022

Padi-padi Harapan Masa Depan

Rekomendasi

Yoyo pantas puas. Panen padi 10,2 ton menjanjikan pendapatan Rp 20,1-juta alias ada penambahan Rp3-juta ketika gabahnya dijual Rp2.000/kg. Lonjakan tersebut memang harus ditempuh dengan keberanian. Pasalnya harga benih padi hibrida arize Rp40.000/kg. Itu setara dengan modal Rp600.000/ha. Padahal, biasanya ia cuma membutuhkan modal Rp105.000/ha kalau menggunakan benih biasa yang cuma Rp7.000/kg. ‘Kalau dirawat intensif, pasti jumlahnya lebih tinggi lagi,’ kata ayah 2 putri itu meyakinkan. Yoyo membuktikan, benih padi yang dipakainya gersang sekali, cuma 115 hari, lebih cepat 5 hari daripada biasa.

Yang juga merasakan keuntungan menanam padi hibrida adalah Salim, petani padi di Desa Tegalkoneng, Kecamatan Subang, Karawang. Musim panen Februari lalu ia menuai 20 ton dari 2 ha lahan sawah. Itu meningkat 2 kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya ketika menggunakan jenis padi biasa. Peningkatan keuntungannya mencapai Rp16-juta saat harga gabah Rp2.700/kg. ‘Yang bertambah hanya biaya benih saja, biaya produksi tetap sama,’ kata Salim.

Produksi benih

Tak seperti padi sawah biasa, padi hibrida dapat ditanam di berbagai wilayah di Indonesia. ‘Potensi panen sama, baik di musim hujan maupun kemarau,’ kata Sidi Asmono, manajer Bayer Bio Crop Science Indonesia. Padi sawah produktivitasnya bervariasi tergantung musim, 6-7 ton per ha di musim hujan, sedangkan di musim kemarau hanya 5-6 ton. Kelebihan lainnya, padi ini lebih baik dari sisi potensi hasil dan toleran terhadap penyakit hawar daun bakteri.

Menurut Ir S Tarigan MM, dari Sang Hyang Seri, produsen padi hibrida SL-8-SHS, harga benih padi hibrida saat ini memang masih tergolong mahal lantaran masih impor. Namun, 2-3 tahun ke depan petani bisa berharap mendapatkan benih dari dalam negeri dengan harga murah. Dengan begitu modal tak perlu besar, tapi keuntungan berlipat. Hal itu tak berlebihan, sebab kini Sang Hyang Seri tengah mengembangkan bibit di lahan seluas 8 ha di Sukamandi, Jawa Barat, dan 6 ha di Sidrap, Sulawesi Selatan. Jumlah itu akan diperluas hingga 6.400 ha pada awal tahun ini.

PT Bayer Crop Science pun giat memproduksi padi hibrida. ‘Saat ini produks i kami 30 ton/tahun. Lima tahun ke depan akan ditingkatkan menjadi 1.000 ton/tahun,’ kata Sidi Asmono. Sedangkan Sumber Alam Sutera (SAS) sedang meriset di Trimurjo, Lampung Tengah pada lahan seluas 3 hektar. Itu berarti benih-benih padi hibrida akan semakin banyak beredar di Indonesia. Bukan hanya Bayer Crop Science, Sang Hyang Seri, dan Sumber Alam Sutera yang andil dalam maraknya produsen benih hibrida di nusantara, tapi juga ada 31 jenis padi hibrida yang telah dilepaskan oleh Departemen Pertanian. Inilah beberapa jenis padi hibrida itu.

Bernas rokan

Rokan hasil produksi Balai Penelitian Padi pada 2002 yang dilisensi oleh Sumber Alam Sutra, sehingga kini bernama bernas rokan. Potensi hasil mencapai 8,85 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,24 ton/ha. Benih induknya berasal dari lokal IR58025A dan BR827-35. Tinggi tanaman 98 cm. Panen umur 113 hari. Jumlah gabah per malai 190 butir. Gabah berbulu dengan kerampingan lonjong berwarna kuning bersih. Bobot 1.000 butir 26 g. Tekstur nasi pulen berkadar amilosa 22,8%, protein 10,94%, dan karbohidrat 66,86%. Bernas rokan tahan wereng cokelat biotipe 2 dan 3 serta hawar daun bakteri strain III dan IV. Bernas rokan lebih cocok ditanam di lahan sawah irigasi.

Bernas super

Bernas super diintroduksi dari China merupakan keturunan pertama F1 dari persilangan antara CMS II-32-A dengan restorer mian hui 725 dari golongan indica. Umur tanaman mencapai 111 hari dengan tinggi tanaman 108-113 cm dan anakan produktif 13-14 batang. Bentuk gabah pendek dan bulat dengan warna kuning. Di bagian ujung berwarna ungu. Jumlah gabah per malai 208 butir. Bobot 1.000 butir mencapai 30,29 gram. Kadar amilosa 23,50%, Protein 8,49% dan karbohidratnya 69,95%. Bernas super berpotensi hasil 12,01 ton/ha dengan rata-rata hasil 8,82 ton/ha.

Bernas prima

Sama seperti bernas rokan dan bernas super, Bernas prima juga dilisensi oleh PT Sumber Alam Sutera. Karakteristik bernas prima antara lain potensi hasilnya tinggi 12,02 ton/ha, dengan rata-rata hasil 8,82 ton/ha Umurnya sangat genjah 107-109 hari. Tinggi tanaman 97-114 cm dengan anakan produktif sebanyak 13-15 batang. Jumlah gabah per malai 205 butir. Bentuk gabah panjang dan sedikit tebal. Bobot 1.000 butir mencapai 31,71 g. Kadar amilosanya 25,35%, proteinnya 8,84%, dengan tekstur nasi agak pulen,

Mapan 05

Penelitian menunjukkan mapan 05 berproduksi rata-rata 11 ton/ha. Dipanen pada umur 113-115 hari. Mapan diproduksi oleh PT Primasid Andalan Utama. Mapan 05 tahan WBC biotipe-2 dan agak tahan HDB strain IV, VIII, serta virus tungro. Tekstur nasi pulen berkadar amilosa rendah hanya 22-23%, dengan bobot 1.000 butir gabah 26-27 g. jenis ini telah diuji coba selama 3 tahun di Metro, Lampung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Tabanan, Bali, Klaten, Boyolali, Jawa Tengah, dan Malang, Blitar, Jawa Timur.

Mapan 02

Padi hibrida mapan 02 berproduksi rata-rata 13 ton/ha karena anakan produktifnya banyak. Mapan 02 dipanen pada umur 114-116 hari setelah penanaman. Bobot gabah 1.000 butir, 26-27 g. Tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa rendah, hanya 22-24%. Ia tahan terhadap virus tungro, tetapi rentan terhadap WBC biotipe 2 dan 3 serta agak rentan terhadap HDB strain IV, VIII. Sama seperti mapan 05, varietas mapan 02 telah diuji di berbagai daerah di Indonesia. (Vina Fitriani/Peliput: Lani Marliani & Nesia Artdiyasa).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img