Wednesday, August 10, 2022

Padi Unggul Baru

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Meski jumlah anakan padi IPB-35 sedikit, semua anakan produktif.
Meski jumlah anakan padi IPB-35 sedikit, semua anakan produktif.

Padi baru yang toleran kekurangan air, irit pupuk, dan produktif.

Purnatugas penyuluh pertanian di Lamongan, Jawa Timur, bukan berarti Andang Widiastuti menganggur. Ia membimbing petani untuk meningkatkan produksi padi. Pada Desember 2013, petani di Desa Cungkup, Jotosanur, Kabupaten Lamongan, menuai 5—6,3 ton gabah kering panen dari lahan 0,5 ha. Itu setara 10—12,6 ton per ha. Keruan saja kesuksesan petani binaan Andang menarik perhatian petani lain di Lamongan.

Musim tanam berikutnya, para petani itu mencoba menanam padi anjuran Andang di lahan sawah, ladang, dan bekas tambak. Hasilnya, penanaman di ladang menghasilkan produksi tertinggi, mencapai 12,6 ton per ha. Sementara produksi di lahan sawah dan tambak tidak sebanyak itu. Produktivitas padi di sana hanya di kisaran 6—7 ton per ha. Data Badan Pusat Statistik pada 2015 menunjukkan produktivitas padi Lamongan rata-rata 6,9 ton per ha.

Dr Ir Hajrial Aswidinnoor MSc, pemulia padfi IPB-35.
Dr Ir Hajrial Aswidinnoor MSc, pemulia padfi IPB-35.

Malai panjang
Padi fenomenal di Lamongan itu jenis baru, yakni IPB-3S. Nama varietas baru itu hasil pemuliaan Dr Ir Hajrial Aswidinnoor MSc, periset di Institut Pertanian Bogor. Menurut Hajrial IPB-3S hasil persilangan jenis fatmawati sebagai induk jantan dan galur unggul IPB6-d-10s-1-1-1 sebagai induk betina.

Fatmawati adalah padi yang baru dirilis Kementerian Pertanian pada 2003. Varietas itu menurunkan sifat malai lebat dan panjang. Namun, fatmawati memiliki beberapa jadi kelemahan, antara lain sulit dirontokkan oleh mesin, memiliki persentase hampa yang terbilang tinggi—mencapai 26%, dan cenderung menghasilkan beras yang buram kecokelatan. Sementara IPB-6 menurunkan sifat malai panjang dan berasnya lebih bersih.

Anakan produktif IPB-3S terbilang sedikit, hanya 7—12 batang. Bandingkan dengan ciherang mampu mengeluarkan 20 anakan. Meskipun demikian, semua anakan produktif menghasilkan bulir padi sehingga produktivitas per satuan lahan lebih tinggi. Sudah begitu, IPB-3S memiliki malai panjang yang dapat menghasilkan 300—350 bulir gabah per malai. Ukuran bulir lebih besar sehingga bobot per 1.000 bulir mencapai 28 gram.

Menurut Hajrial varietas yang dilepas pada Maret 2012 itu memang dirancang mempunyai malai panjang dan produktif. Andang menyatakan produksi gabah IPB-3S 1—2 ton per ha lebih tinggi daripada jenis lain. Produksi gabah kering panen IPB-3S mencapai 10—12,6 ton per ha. Selain IPB-3S, persilangan yang dilakukan Hajrial pada 2004 itu juga menghasilkan padi IPB-4S. Produktivitas IPB-4S lebih rendah, hanya 9,6—10,9 ton per ha.

Presiden Joko Widodo memanen padi IPB 3S dan 4S di Karawang, Jawa Barat.
Presiden Joko Widodo memanen padi IPB 3S dan 4S di Karawang, Jawa Barat.

Irit pupuk
Meskipun demikian, rendemen sosohnya mencapai 65%. Itu 2—3% lebih tinggi daripada IPB-3S. Andang menuturkan, itu karena sekam IPB-3S lebih tebal. Menurut Hajrial, tebalnya sekam itu membuat ukuran bulir gabah IPB-3S sedikit lebih besar daripada IPB-4S. IPB-3S dan IPB-4S terbilang padi yang tidak rewel. Menurut Andang, keduanya tergolong padi yang irit air.

Bahkan produktivitasnya meningkat di lahan gogo rancah. Pada masa vegetatif padi hanya memerlukan tanah yang macak-macak. Dalam tahap pengisian bulir, lahan cukup dialiri air sampai basah tanpa tergenang. Tidak hanya itu, Hajrial juga menyatakan bahwa kedua varietas itu hemat pupuk. Dari pengalaman petani bimbingan Andang, keperluan Urea hanya 50%. “Kelebihan asupan unsur N menyebabkan tanaman rebah,” kata Hajrial.

Ir Dwi Harjo Triyono pemulia padi kristal (KR-1).
Ir Dwi Harjo Triyono pemulia padi kristal (KR-1).

Namun Andang mengingatkan saat pengisian bulir, ketika tanaman berumur 45 hari setelah tanam, petani menambahkan pupuk dengan kandungan unsur sulfur dan kalium dan diberikan pupuk hayati pada umur 50 hari, 65 hari, dan 80 hari setelah tanam. Tujuannya agar bulir terisi sempurna dan batang padi juga tidak rebah. “Kekurangan unsur kalium dapat menyebabkan gabah hampa hingga 20%,” kata Andang.

Lantaran hanya menghasilkan sedikit anakan, jarak tanam kedua padi asal Bogor itu bisa lebih rapat. Menurut Dr Ir Sugiyanta MSi, ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, anjuran jarak tanam IPB-3S adalah 20 cm x 20 cm dengan jarak tanam legowo 20 cm x 40 cm x 15 cm untuk 2—3 bibit per lubang tanam atau 15 cm x 30 cm untuk 3—4 bibit per lubang.

Cara lain untuk mengatasi minimnya anakan adalah dengan menanam lebih banyak benih dalam lubang tanam. Hajrial menyarankan menanam 5 bibit per lubang tanam agar hasil yang didapat per satuan luas setara bahkan dapat mengungguli padi lain.

Menurut Andang petani sebaiknya mewaspadai cendawan, embun upas, dan wereng dari lahan yang berdekatan. Saat kemarau sundep dan beluk atau penggerek batang akan menjadi hama yang umum bagi padi. Untuk mengatasinya, Andang menyarankan penyemprotan pestisida kontak ketika olah tanah untuk mematikan penggerek batang dan hama lain di tanah.

Sebelum tanam, Sugiyanta menyarankan untuk mencelupkan akar padi ke dalam larutan probiotik. “Lakukan pengairan irigasi berselang, caranya alirkan air ke sawah hingga tergenang setinggi 5 cm lalu biarkan habis meresap lalu masukkan air kembali,” kata Sugiyanta. Keringkan sawah ketika memupuk dan 10 hari menjelang panen. Masa panen keduanya hampir sama, 114—118 hari setelah tanam.

“Rasa nasi IPB-4S lebih enak, pasalnya IPB-3S mengandung amilosa yang lebih sedikit dari IPB-4S ,” kata Andang. Menurut Hajrial, kedua padi itu cocok ditanam di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Perbandingan malai padi IPB 3S dan ciherang.
Perbandingan malai padi IPB 3S dan ciherang.

Padi kristal
Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Ir Dwi Harjo Triyono mengembangkan varietas padi lokal unggul sejak 2009. Pada petengahan 2012 dan akhir 2013, ia melepas 2 varietas padi yang diberi diberi nama kristal 1 dan 4—disingkat KR-1 dan KR-4. KR-4 memerlukan banyak air sehingga cocok untuk musim hujan. “Saat kemarau pun petani tetap bisa menanam KR-4, tetapi lahan harus mempunyai pengairan yang baik,” kata Dwi.

KR-4 mempunyai batang kokoh setinggi 90—100 cm dan dapat menghasilkan 40—50 anakan. Panjang malai mencapai 30 cm dan mampu mengeluarkan 200—300 bulir gabah. Meski menghasilkan banyak anakan dan bermalai panjang, KR-4 bisa ditanam rapat berjarak 30 cm x 30 cm, dan setiap 2—3 m diberikan jajar legowo. Batang kokoh dan kering membuat varietas itu tidak disukai tikus.

Sementara KR-1 agak rawan rebah sehingga lebih baik ditanam pada akhir musim hujan. “Dengan demikian pertumbuhan, pengisian bulir, sampai panen berlangsung pada awal musim kemarau,” kata Dwi. Tinggi batang KR-1 mencapai 110 cm dan mempunyai malai panjang. Jumlah anakan mencapai 20—30 dan panen di umur 100—110 hari. Padi kristal tahan serangan wereng.

Produktivitas padi KR-4 mencapai 12,7 ton per ha, sementara KR-1 lebih tinggi, mencapai 13,8 ton per ha. Berasnya bersih, lonjong dan berbutir besar dengan rasa nasi empuk dan pulen. KR-1 sudah ditanam di Blitar, Jawa Timur, sementara KR-4 ditanam di berbagai tempat antara lain Wates (Yogyakarta), dan Mojokerto serta Tuban (Jawa Timur). Keempat padi baru itu bisa diandalkan untuk mencapai swasembada beras yang dicanangkan pemerintah. (Muhammad Awaluddin)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img