Saturday, December 3, 2022

Panen Cabai Organik

Rekomendasi

Petani sukses membudidayakan cabai tanpa pupuk dan pestisida sintetis.

Pythium, thrips, kutu kebul, dan kutu persik hanya beberapa dari puluhan organisme pengganggu cabai. Mereka merongrong cabai Capsicum annuum sejak di persemaian hingga panen. Meski banyak musuh, menanam cabai organik—tanpa pestisida—sebuah keniscayaan. Herdian Satrya di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, membuktikannya. Ia menanam cabai tanpa sekali pun menyemprotkan pestisida.

Cabai merah keriting hidup sentosa meskipun tanpa perlindungan pestisida.

Herdian membudidayakan 2.000 tanaman di lahan 3.000 m² pada Juni 2018. Alumnus Agroteknologi, Universitas Padjadjaran, itu menuai 450 kg pada panen kedelapan. Produktivitas rata-rata 225 gram per tanaman. Produktivitas itu relatif rendah dengan sistem budidaya konvensional. Namun, Herdian menghemat biaya produksi karena tidak menyemprotkan pestisida.

Hormon tumbuh

Menurut ahli budidaya cabai, Ir. Rudy Purwadi, biaya pestisida mencapai Rp8.500.000 per hektare untuk sekali siklus budidaya. Meski tanpa pestisida Herdian mampu memanen cabai berkualitas. Sebanyak 70% dari keseluruhan hasil panen termasuk dalam kelas A dan B. Kelas A berupa buah cabai bersosok lurus dan panjang, dan kelas B berpostur agak bengkok.

Adapun kelas C adalah cabai dengan ukuran kecil dan mengerut. Ia menjual cabai itu Rp50.000 per kg untuk kelas A dan B, sedangkan kelas C mengikuti harga pasar. Selama masa budidaya yang berlangsung sejak pertengahan 2018 itu, Herdian menargetkan lebih dari separuh panen masuk dalam grade A. Ia optimis dengan perawatan yang tepat tanaman tetap mampu berbuah lebat walaupun hidup tanpa perlindungan pestisida.

Sortasi hasil panen.

Kunci keberhasilan Herdian menanam cabai organik adalah pemanfaatan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman alias Plant Growth Promoting Rhizobacteria. Mikroorganisme itu hidup berkoloni di sekitar akar tanaman sehingga mampu memacu pertumbuhan dan meningkatkan ketahanan tanaman. Penelitian Ika Cartika dan rekan dari program studi Agroteknologi, Universitas Majalengka, membuktikan pemberian Trichoderma spp. berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga, jumlah buah per tanaman, dan bobot buah cabai merah keriting.

Menurut Ika pemberian Trichoderma spp berdosis 200 ml per tanaman. Trichoderma spp berperan menguraikan bahan organik tanah sehingga mudah diserap tanaman. Hasilnya tanaman tumbuh dan berkembang optimal. Selain itu Herdian juga menambahkan guano sejak awal masa tanam. “Tanaman menjadi kian kuat sehingga tahan gempuran hama seperti trips dan kutu daun,” katanya.

Hampir 70% dari hasil panen di kebun Herdian masuk ke dalam grade A dan B.

Hasil penelitian Irwan Adi Putra dan rekan dari Departemen Agroteknologi, Universitas Riau, menunjukkan. pemberian pupuk guano dan abu serbuk gergaji malahan mampu mempercepat pertumbuhan tanaman cabai di lahan gambut. Peningkatan tinggi tanaman bertambah seriring dengan pemberian pupuk guano. Pemberian 300 kg per ha dan 30 ton abu serbuk gergaji efektif mempercepat tinggi tanaman, pembungaan, dan umur panen cabai merah keriting di lahan gambut.

Pasar

Herdian menuturkan, ancaman yang masih menjadi kendala yakni lalat buah. “Posisi kebun yang berlokasi dekat dengan tanaman buah membuat rawan lalat buah,” katanya. Untuk mengatasi serangan lalat buah ia membuat perangkap berupa feromon di kebun. Dengan perlakuan budidaya tanpa pestisida itu ia menuai 400 kg cabai dari 1.000 tanaman pada petikan keempat. Atau setara 400 gram per tanaman.

Herdian Satrya di Bogor, Jawa Barat, mengebunkan cabai nirpestisida.

Volume panen memang masih kurang memuaskan sebab produksi cabai keriting rata-rata 800 gram per tanaman. “Penanaman perdana ini boleh dibilang percobaan,” katanya. Ia ingin membuktikan bahwa penanaman cabai tanpa pestisida pun bisa dilakukan. Herdian menuturkan pestisida dianggap cara paling efektif untuk menjaga tanaman. Sayangnya, pemakaian pestisida sering kali kurang bijaksana sehingga yang terjadi justru ledakan hama dan penyakit.

Organisme pengganggu tanaman itu lambat laun kebal terhadap bahan kimia. Selain itu, penggunaan pestisida juga berpengaruh kurang baik pada cabai yang dikonsumsi. Herdian menjatuhkan pilihan pada cabai keriting lantaran mudah diserap pasar. Ia menjual hasil panen langsung ke konsumen. Harga jual cabai grade A dan B Rp50.000 per kg atau Rp5.000/100 gram, sedangkan grade C dibanderol mengikuti harga pasar. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img