Monday, November 28, 2022

Panen Hidup atau Setelah Mati?

Rekomendasi

Ia panen kemedangan setelah 2 tahun menginokulasi alias memasukkan mikroba ke dalam lubang di sekujur pohon gaharu. Mula-mula ia mengambil contoh kerikan. Jika terjadi perubahan warna jaringan pohon dari putih menjadi cokelat atau kehitaman, indikasi inokulasi berhasil. Setelah kerikan itu kering, lalu ia membakarnya. Aroma wangi menguar dari pembakaran. Itu pertanda kemedangan telah terbentuk sehingga ia dapat memanennya.

Basri memanen kemedangan di cabang pohon yang diinokukasi, bukan di batang utama. Tujuannya supaya ia tetap dapat memperoleh hasil sekaligus pohon bertahan lebih lama. Kelak ia dapat memanen ulang. Model begitu disebut panen berkala. Pekebun memanen berkala menyesuaikan dengan kebutuhan. Artinya ketika mendadak memerlukan uang, pekebun dapat memanen kemedangan.

Toh, pengepul bersedia membeli kemedangan meski bobot cuma sekilo. Harga kemedangan saat ini berkisar Rp400.000 – Rp600.000/kg tergantung mutu. Menurut Drs Yana Sumarna MSi, periset Pusat Penelitian Pengembangan Hasil Hutan, panen berkala juga dapat diterapkan pada batang utama.

Dengan menggunakan plat besi nirkarat yang disterilisasi dengan alkohol 70%, Basri mengerok lubang-lubang inokulan di batang utama. Jika kedalaman lubang inokulasi 5 cm, cukup 3 cm yang ia kerik. Selebihnya ia panen kemudian hari. Menurut Yana produksi per lubang inokulasi mencapai 5 gram kemedangan. Itu jika panen 1 – 2 tahun pascainokulasi. Pria kelahiran Ciamis, 3 September 1950, itu menyarankan hasil panenan disimpan di wadah tertutup. Tujuannya, agar keharuman terjaga, dan hasil kerikan tak tercecer.

Panen total

Cara panen lain dengan menebang pohon. Pekebun lazim menebang pohon gaharu setelah mendapati daun-daun kekuningan dan rontok. Ranting meranggas dan gampang patah. Kulit batang juga mudah terkelupas. Pohon tampak merana karena serangan mikroba yang diinokulasikan ke jaringan tanaman beberapa tahun sebelumnya. Itu tanda-tanda pohon siap panen setelah inokulasi berhasil. Menurut Yana, itu biasanya dicapai pada 3 – 4 tahun setelah inokulasi sehingga mutu kemedangan atau gubal lebih tinggi.

Tebanglah pohon gaharu dengan gergaji mesin atau alat potong lainnya kira-kira 10 – 15 cm di atas permukaan tanah. Abdulqadir Habib Musthofa, pekebun di Simpang Sipin Tiga, Jambi, yang memanen total langsung membuang ranting dan cabang. Batang kemudian dipotong-potong sepanjang 1 – 2 m, lalu dikering-anginkan beberapa minggu. Selanjutnya batang dipotong menjadi bagian-bagian lebih kecil mengikuti lubang-lubang inokulasi.

Menurut Yana akar sisa penebangan sebaiknya dibiarkan 3 – 5 bulan untuk mendeteksi kandungan resin atau gubal. Bagian mengandung resin tetap utuh, sebaliknya bagian tanpa resin bakal lapuk. Jika resin gaharu tak terbentuk di bagian akar, pohon akan mengeluarkan tunas dan dapat dimanfaatkan sebagai peremajaan gaharu yang ditebang.

Langkah terakhir setelah batang menjadi kepingan-kepingan, Abdulqadir memisahkan kemedangan berwarna cokelat atau gubal yang kehitaman dari bagian kayu yang putih. Pemisahan itu dengan jalan dikerok menggunakan pelat besi mengikuti bongkahan gubal. Kemedangan dan gubal ditempatkan di wadah berbeda. Sedangkan sisa kayu berupa serpihan-serpihan kecil masih dimanfaatkan sebagai bahan baku penyulingan minyak asiri. (Faiz Yajri/ Peliput: Karjono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img