Panen Ikan Juga Sayuran

Rekomendasi
Budikdamber menjadi alternatif praktis dan ekonomis memenuhi pangan harian keluarga. (Dok. Trubus)

Pilihan teknologi budidaya sayuran dan ikan di satu wadah, budikdamber dan akuaponik.

Media AKT memungkinkan budikdamber menanam beragam jenis tanaman. (Dok. Juli Nursandi, S.Pi, M.Si.)

Trubus — Halaman sempit, tetapi ingin memanen ikan dan sayuran sekaligus? Darmatasiah, S.P.K.P. mewujudkannya dengan budikdamber alias budidaya ikan dan sayuran di ember sejak April 2019. Tenaga pendamping lokal desa Kementerian Desa di Desa Semau, Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, menekuni budikdamber di pekarangan.

Ia membudidayakan lele dan patin di dasar ember serta bayam, kemangi, daun poko, genjer, seledri, selada, dan cabai. Saat ini ia memiliki 6 ember yang masing-masingnya berisi 50—100 ekor lele. Ia panen bertahap berdasarkan ukuran, sambil menyortir memisahkan ikan berdasarkan ukuran. Panen ikan pada umur 3 bulan. Adapun panen sayuran daun saat berumur 1 bulan. Dalam 3 bulan ia memanen sayuran sampai 6 kali.

Hemat biaya

Budikdamber atau budidaya ikan dan sayuran dalam ember sangat mudah dilakukan karena bahan-bahan yang dibutuhkan untuk merakit budikdamber mudah ditemui dan ekonomis. Ikan lele, patin, gabus, sepat, dan betok pas mengisi budikdamber. Ikan-ikan itu tahan terhadap kadar oksigen rendah dan tahan kualitas air buruk atau kekeruhan tinggi. Musababnya, budikdamber tidak menggunakan aerator, pompa, maupun filter.

Hampir semua tanaman konsumsi bisa ditanam pada sistem budikdamber. Periset budikdamber, Juli Nursandi, S.Pi, M.Si, memformulasikan media khusus AKT, terdiri atas arang, kain, dan tanah. Arang berfungsi menyerap racun dan penghantar air kepada tanaman, tanah untuk mendukung berbagai tanaman supaya bisa ditumbuhkan, dan kain sebagai penopang tanah tidak jatuh ke dalam air melewati lubang wadah tanam.

Pehobi bisa menambahkan pupuk pada media AKT bila nutrisi dalam air budikdamber masih kurang untuk jenis tanaman tertentu. Kepadatan benih lele dalam satu ember 60 liter mencapai 60—100 ekor berukuran benih 5—7 cm. Panen pada 2,5—3 bulan kemudian dengan produktivitas 3—6 kg. Populasi ikan selain lele, 15 ekor patin berukuran 100—120 gram, 20—40 betok atau sepat berukuran 30—50 gram, dan 10—15 ekor gabus berukuran 50—100 gram.

Panen ikan selain lele sekitar 5—8 bulan dengan produktivitas 2—3 kg. Oleh karena itu, Juli menganjurkan untuk memelihara ikan berukuran besar dan dipelihara sebagai kulkas hidup. Juli menyarankan pehobi menggunakan 10 wadah tanam yang dipasang mengelilingi pinggiran mulut ember berdiameter 50 cm dan tinggi 70—80 cm. Ember itu bervolume 60 liter air. Modal satu ember budikdamber Rp120.00—Rp150.000.

Akuaponik

Vertiminaponik, akuaponik cocok untuk pekarangan kecil berpadat tebar 150 ekor lele. (Dok. Dr. Yudi Sastro, S.P, M.S,)

Selain budikdamber, pehobi juga bisa memanen ikan sekaligus sayuran dengan mengadopsi akuaponik. Menurut Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Dr. Yudi Sastro, S.P., M.S, pertimbangan mengadopsi model-model akuaponik untuk rumah tangga adalah luasan lahan, sumber daya yang ada, biaya, dan tingkat pengetahuan berbudidaya akuaponik.

Namun, pada dasarnya konsep memadukan ikan dengan tanaman untuk semua model tetaplah sama. Yudi mengatakan, prinsip berbudidaya akuaponik supaya berhasil yaitu menjaga keseimbangan tiga ekosistem dalam akuaponik. Tiga ekosistem itu ialah ekosistem ikan dalam air, ekosistem sayuran di permukaan kolam, dan ekosistem mikrob di dalam air kolam—media hidup ikan dan sumber nutrisi tanaman.

Yudi menuturkan, Jumlah ikan harus menghasilkan hara yang cukup untuk tanaman di atasnya. Adapun mikrob yang terkandung mesti dalam jumlah yang cukup supaya mampu mengubah senyawa kompleks dari feses ikan ataupun sisa pakan menjadi unsur hara yang bisa terserap tanaman. Adapun jumlah tanaman juga harus cukup untuk menyerap semua senyawa hasil dekomposisi biologis atau konversi senyawa-senyawa kompleks oleh mikrob.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Dr. Yudi Sastro, S.P.., M.S. (Dok. Dr. Yudi Sastro, S.P, M.S.)

Akibatnya air yang mengalir melewati area perakaran tanaman menjadi bersih dan kaya oksigen sebelum kembali ke dalam air kolam tempat ikan. Keseimbangan tiga ekosistem itu dapat tergambar dari pertumbuhan tanaman yang subur dan ikan tumbuh dengan baik dan sehat. Jika ikan terlalu sedikit, tanaman kekurangan nutrisi. Sebaliknya bila tanaman terlalu sedikit maka terlalu banyak nutrisi yang akan menjadi racun bagi ikan.

Pakan untuk ikan juga dapat menjadi tolak ukur kebutuhan hara tumbuhan pada akuaponik. Sayuran dengan luasan 1 m2 dapat tercukupi kebutuhan haradari ikan yang diberi pakan setara 70—100 gram per hari. Sementara itu sayuran buah setara ikan yang diberi makan 100—150 gram per hari. Model-model akuaponik yang tidak memerlukan lahan luas dan listrik yaitu budikdamber.

Namun, jika memiliki pekarangan yang cukup luas, ingin menanam sayuran dan ikan lebih banyak, serta tidak masalah dengan tambahan biaya listrik, sistem akuaponik seperti rakit, vertiminaponik, dan wolkaponik dapat dibuat di rumah. Namun, menurut Yudi waktu budidaya tidak ditentukan dengan metode akuaponik yang dipilih tetapi dengan jenis tanaman dan ikan yang dibudidayakan.

Tanpa listrik

Alternatif akuaponik tanpa listrik, instalasi khusus, dan pompa yaitu model rakit apung. Periset di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor, Eri Setiadi, S.Si, M.Sc. mengatakan, sistem rakit berprinsip mengapungkan sayuran di permukaan kolam ukuran berapa pun. Batasan area penanaman yaitu 25% dari luas permukaan kolam ikan supaya sinar matahari tetap mampu masuk ke kolam dan nutrisi tanaman tercukupi.

Jenis tanaman yang bisa dibudidaya harus tahan air seperti kangkung, bayam, dan sayuran daun lainnya. Jenis ikan yang paling mudah dipelihara dengan model rakit adalah lele dan nila. Padat tebar ikan lele pada model akuaponik rakit satu ekor per dua liter air. Menurut Eri ikan nila dipelihara di ukuran kolam yang cukup besar yaitu minimal sekitar 1.500 liter air dengan padat tebar 150—200 ekor.

Tebar benih nila berukuran tidak seragam supaya dapat dipanen parsial. Namun, khusus lele harus menggunakan benih yang seragam untuk mencegah kanibalisme. Hal-hal yang diperlukan untuk membuat akuaponik model rakit yaitu kolam terpal berisi 1.000—1.500 liter air, pipa polivinil klorida (PVC) untuk mengapungkan wadah tanam, wadah tanam dari bahan apa pun yang dirangkaikan pada pipa PVC, media tanam arang, benih sayuran daun, bibit ikan, dan pakan ikan.

Akuaponik rakit tidak memerlukan listrik. (Dok. Eri Setiadi, S.Si, M.Sc.)

Kebutuhan modal sekitar Rp1.700.000 untuk satu kolam. Sistem akuaponik yang memerlukan listrik dan tidak memerlukan lahan luas yaitu wolkaponik yang merupakan gabungan dari wall gardening dengan akuaponik serta vertiminaponik atau vertikultur mina akuaponik. Keduanya memerlukan instalasi khusus seperti pipanisasi, pompa akuarium berdaya dorong 1,5 m, susunan wadah tanam, namun hemat tempat.

Kedua model akuaponik memerlukan 500 liter air budidaya yang diisi 150 ekor lele atau ikan-ikan air tawar lainnya yang tidak membutuhkan oksigen tinggi seperti bawal, patin, mujair, dan nila, wadah tanam berupa talang air, pipa PVC, atau rangkaian pot yang luas area penanamannya 4 m2. Menurut Yudi Sastro modal awal wolkaponik atau vertiminaponik sekitar Rp500.000.

Biaya operasional bisa ditekan dengan menggunakan bahan-bahan bekas, strategi penanaman benih sayuran yang padat tebar, melakukan pemanenan sayuran bertahap dengan memanen fase tanaman baby dan fase tanaman dewasa, menggunakan pola panen potong untuk kangkung dan bayam sehingga bisa dipanen mingguan, membudidayakan ikan nila dan mujair yang mudah berkembang biak, dan menggunakan pakan alami seperti azola dan larva lalat tentara hitam. (Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Kandang Bersih Tanpa Bau Dukung Produksi Susu Kambing

Kandang modern menjadi kunci keberhasilan Rahmat Bintang Ramadhan dalam menjaga kualitas susu kambing perah di Prabhu Farm, Sleman, Daerah...

More Articles Like This