Friday, December 2, 2022

Panen Padi Sehektar 160 Menit

Rekomendasi

TB Dede Gunawan perlu 160 menit untuk merontokkan 7,8 ton padi ciherang hasil panen di lahan 1 ha.

 

Waktu perontokan padi itu terbilang cepat. Bandingkan dengan petani yang merontokkan padi secara manual, perlu 8 jam. Celakanya, cara tradisional itu justru mengurangi hasil panen. Sebab, banyak gabah yang terlempar ke luar lokasi perontokkan. “Tingkat kehilangan hasil saat perontokkan padi tergolong besar, mencapai 13-15%,” kata peneliti pascapanen di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat, Ir Bram Kusbiantoro MS.

Kerja Dede Gunawan, petani di Desa Kutagandok, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, itu efisien dan menekan tingkat kehilangan karena menggunakan mesin perontok. Di dalam mesin terdapat silinder perontok sepanjang 98 cm berbahan besi yang posisinya melintang. Silinder yang berputar searah jarum jam itu memiliki 52 gigi perontok sepanjang 10 cm, berbahan besi yang diperkuat dengan mur.

Gabah bersih

Gunawan tinggal memasukkan malai padi melalui pintu pemasukan berukuran 29 cm x 19 cm. “Pilih malai padi yang berukuran 40-45 cm untuk hasil maksimal,” kata Gunawan. Padi akan berputar-putar di dalam ruang perontok, tergesek, terpukul, dan terbawa oleh gigi perontok. Butiran padi yang rontok akan jatuh melalui saringan perontok dan menuju ayakan berlubang.

Di sini butiran padi, potongan jerami, dan kotoran yang lolos dari saringan perontok akan terpisah berkat bantuan embusan angin dari kipas angin di bagian bawah mesin. Benda yang lebih besar daripada butiran padi terpisah melalui ayakan. Butir-butir padi jatuh dan tertampung di pintu pengeluaran padi bernas. Butiran hampa atau benda-benda ringan lainnya terbuang melalui pintu pengeluaran kotoran ringan.

Itulah sebabnya, Gunawan hanya menuai padi bernas. Gabah tanpa isi terbuang. Jerami yang dihasilkan terdorong oleh pelat pendorong yang terletak pada silinder perontok yang tak terpasang gigi perontok ke pintu pengeluaran jerami. Mesin bensin  berkekuatan 5,5-6,5 tenaga kuda itu memiliki kapasitas 1-1,2 ton per jam. Kehilangan hasil berkisar  1-2%. Kehilangan hasil karena cara konvensional mencapai 20%. Kehilangan hasil bukan semata-mata karena proses perontokkan, tetapi karena gabah rontok saat pemotongan dan malai tercecer saat pengumpulan padi.

Gunawan memanfaatkan mesin perontok itu sejak empat tahun silam. Semula ia penasaran melihat mesin perontok berukuran 80 cm x 60 cm dengan tinggi 60 cm teronggok di rumah mertua. Di desa itu terdapat total 10 mesin serupa yang menganggur. Masyarakat setempat mendapat bantuan pemerintah berupa mesin perontok. Sayang, meski baru setahun para petani enggan menggunakannya lagi gara-gara gabah kosong bercampur dengan yang bernas.

Selain itu, gabah pun banyak yang terbuang karena masih menempel di jerami,” kata Gunawan. Akibatnya, hasil panen masih rendah, 5 ton per ha. Padahal, pemerintah menyumbangkan mesin perontok padi itu untuk menekan tingkat kehilangan hasil. Selain kualitas hasil rendah, petani sulit memindahkan mesin perontok padi berbahan besi dan berbobot 200 kg.

Modifikasi

Gunawan bekerjasama dengan beberapa rekan, mekanik, untuk memodifikasi mesin perontok padi. Ia mengubah ukuran mesin menjadi lebih besar, panjang 120 cm, lebar 57 cm, dan tinggi 65-85 cm. Itu untuk mempercepat kerja mesin. Lemparan jerami menjadi lebih jauh, 3-4 meter, semula 1-1,5 meter. Dengan begitu jerami tidak menumpuk di dekat mesin. Untuk meningkatkan kualitas gabah, ayah 3 anak itu juga meningkatkan diameter penurunan padi.

“Dengan begitu gabah bernas akan terpisah dengan gabah kosong,” ujar alumnus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu. Setiap melakukan perbaikan, ia selalu menguji kerja mesin. Dari 3 kali uji coba selama setahun, akhirnya Gunawan berhasil membuat mesin perontok padi yang bekerja optimal. Menurut perekayasa alat dan mesin pertanian dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Ir Puji Widodo MSi, alat perontok padi sangat membantu pekerjaan petani.

“Menggunakan alat perontok padi meningkatkan penghasilan petani karena produktivitas panen optimal. Alat itu juga mengurangi kehilangan hasil dan memperoleh mutu hasil gabah yang baik,” katanya. Selain waktu lebih singkat dan mutu gabah meningkat, penggunaan mesin perontok padi juga menghemat tenaga kerja. “Satu mesin dioperasikan oleh dua orang. Satu memasukkan padi dan yang lain menampung hasil gabah,” kata Gunawan.

Ia menuturkan untuk lahan sehektar idealnya ada 2 mesin perontok. Itu memudahkan pekerja sehingga perontokan menjadi lebih singkat. Artinya, cukup 4 tenaga kerja per hektar. Bandingkan jika petani merontokkan padi secara manual, gebotan-rak perontok yang terbuat dari bambu atau kayu dengan empat kaki berdiri di atas tanah-membutuhkan 8 tenaga kerja per ha.

”Menggunakan perontok padi lebih efisien dan efektif dibandingan dengan cara manual. Hanya saja harga awal pembelian relatif mahal,” ujar pria kelahiran Karawang itu. Mesin perontok padi hasil modifikasi Gunawan berharga Rp10-juta per unit. “Biaya investasi mesin (perontok padi, red) akan tertutup pada panen berikutnya,” kata Salman Alfarizi, petani di Dusun Cibadar 1, Desa Ciptamargi, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, yang menggunakan perontok padi sejak 2 tahun silam. (Riefza Vebriansyah)

 

Keterangan Foto :

  1. Per hektar sawah membutuhkan 2 alat perontok padi
  2. Mesin perontok padi marak digunakan di Karawang sejak 2008
  3. TB Dede Gunawan, pelopor penggunaan alat perontok padi di Karawang
  4. Mesin perontok memaksimalkan hasil panen padi hampir 100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img