Dengan gunting, satu per satu batang kangkung dipotong. Kres, kres, kres. Berikutnya, jari lembutnya menarik dan mengangkat caisim di sebelah kangkung. Lumayan, hari itu ia mendapat 2 genggam sayur produksi sendiri.
Kebun Melia Muin itu begitu mungil. Trubus nyaris tak menyadari keberadaannya sewaktu berkunjung ke rumah di Taman Permata Buana, Jakarta Barat. Tanaman ditata di atas rak besi bertingkat 3 dan beratap fi ber itu diselimuti jaring plastik. Ia lebih berkesan sebagai ornamen halaman karena rangka rak dicat mirip besi tempa yang sedang tren.
Setelah net disibak, terlihat kangkung, caisim, pakcoy, dan cabai ditanam dalam 18 mangkuk plastik. Masing-masing mangkuk diletakkan dalam 18 corong yang saling dihubungkan oleh pipa PVC berukuran 1 inci. Jaringan itu dihubungkan lagi dengan drum berisi nutrisi yang diletakkan di bawah rak.
Untuk mengaktifkan sirkulasi air, alumnus jurusan Lansekap, Universitas Trisakti, itu menekan saklar yang dipasang di rak paling atas. Larutan hara di tong tersedot ke atas dan masuk ke corongcorong dan merendam wadah penanaman setinggi 5 cm. Tinggi perendaman dan lama perendaman diatur dengan memutar tombol lain. Setelah 5 menit, secara otomatis larutan surut dan masuk kembali ke tong. Lima menit kemudian, air kembali menggenangi pot. Itulah hidroponik sistem ebb and fl ow. Dengan sistem itu ibu 2 anak itu tak perlu mengaduk-aduk tanah dan mengangkat air untuk menyiram. “Hidroponik ini untuk senang-senang,” tutur wanita kelahiran Palembang itu.
Akuariumponik
Model hidroponik untuk hobi seperti itu banyak dijumpai di Parung Farm, Parung, Bogor. Di kebun hidroponik itu berbagai model dikembangkan. Selain ebb and flow, juga ada floating, NFT, dan substrat. Masing-masing sistem telah dimodifikasi agar berbentuk ringkas dan sederhana, tapi tetap fungsional dan berpenampilan menarik. Contoh, akuariumponik temuan Sudibyo Karsono. Teknik terbaru itu kombinasi ebb and fl ow dengan akuarium. Prinsip kerjanya, kotoran ikan dimanfaatkan sebagai sumber hara tanaman.
Akuarium berukuran 100 cm x 50 cm x 50 cm itu diisi 10 mujair berbagai ukuran yang berenang hilir mudik. Akuarium dilengkapi pompa penghasil gelembung oksigen dan filter. Yang membuatnya berbeda, ada 11 wadah—terbuat dari potongan botol minuman ringan—untuk menaruh pot di atas akuarium. Pakcoi dan bayam tumbuh baik dengan daun-daun yang lebar.
Prinsip kerja akuarium hidroponik itu ialah gelembung udara yang masuk ke air mendorong kotoran ikan di dasar akuarium ke pinggir. Kotoran itu kemudian melewati celah selebar 1 cm dan masuk ruang filter. Karena permukaan air di ruang filter lebih rendah daripada di akuarium, muncul tenaga yang mendorong kotoran naik dan melewati lapisan spons. Kotoran berpindah ke ruang fi lter kedua. Di sana, air diberi beberapa tetes effective microorganism. Tujuannya mempercepat penguraian kotoran ikan menjadi hara siap serap.
Bila pompa berdaya 100 watt diaktifkan dengan menekan saklar, larutan hara naik ke pot lewat jaringan pipa berukuran 1 inci. Air mengisi wadah dan merendam pot. Media tanaman segera menyerap nutrisi dari kotoran ikan. Setelah 30 detik, larutan hara keluar dari botol lewat lubang setinggi 5 cm dan masuk ke akuarium.
Air yang mengucur itu menyerap cukup oksigen sebelum masuk ke air. Gelembung oksigen mendorong kotoran ikan masuk ke ruang fi lter dengan proses sama seperti di atas. Aktivitas air dikontrol dengan timer.
Sebagai penemuan baru, akuariumponik itu masih memiliki banyak kelemahan. Sudibyo Karsono belum mengetahui populasi ikan dan volume kotoran yang mencukupi kebutuhan hara tanaman. Ia hanya memberi pakan buatan 2 kali sehari sebanyak 1 sendok makan. Pilih pakan yang tak melunturi air. Kandungan hara dari kotoran ikan juga belum diketahui jenisnya. Akibatnya, kesesuaian dengan tanaman masih tanda tanya.
Toh, sampai sejauh ini, Dibyo—panggilan akrabnya—tidak menemui masalah. Ukuran ikan terus bertambah. Dari semula berukuran 2 jari, setelah 1 bulan menjadi 3 jari. Pertumbuhan tanaman pun terlihat normal. Daun pakcoi tetap segar selebar telapak tangan. Penggemar elektronik itu berencana mengembangkan akuariumponiknya dengan sistem NFT.
Sederhana
Bila bingung dengan 2 teknik bertanam di atas, ada cara berhidroponik yang lebih sederhana. Ambil sebuah akuarium berbentuk bulat. Masukkan mesin pompa air berdaya rendah untuk menarik air naik. Isi dengan air hingga 3/4 bagian. Di atas akuarium letakkan pot tanaman dengan media arang. Tebar 1/2 sendok teh pupuk NPK. Aktifkan pompa dengan menekan saklar. Air yang naik ke atas membasahi media dan turun kembali ke akuarium. Demikian seterusnya. Hasilnya, cabai tumbuh dengan baik di akuarium.
Model lain, ebb dan fl ow tegak. Sistem itu terdiri atas sebuah drum plastik untuk menampung larutan pupuk. Di atasnya dipasang tiang pipa yang mengangkangi drum. Pipa PVC itu dibuat “bertangkai” dan disambung dengan corong untuk meletakkan tanaman. Di bagian atas tiang dipasang saklar untuk mengaktifkan sirkulasi air.
Ketika pompa menyedot air dan naik ke corong, tanaman pun terendam air. Ketinggian air rendaman diatur dengan memutar kran di tangkai. Lama perendaman diatur dengan timer. Model itu amat praktis dan ringan sehingga dapat dipindahkan ke tempat lain.
Selain model di atas, ebb and fl ow juga bisa dibuat bertingkat. Larutan hara yang naik dan merendam tanaman, mengucur keluar lalu ditangkap oleh pot tanaman yang lebih rendah. Di pot itu, air merendam media sejenak sebelum turun ke penampungan. (Syah Angkasa)
