Wednesday, August 10, 2022

Panen Tabulampot Jambu Air di Joglo

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Toh, pemandangan di sebuah kebun di kawasan Joglo, Jakarta Barat, seperti menguapkan semua rasa letih. Di sana deretan tabulampot jambu air berbuah lebat memanjakan mata.

Trubus melihat sesosok king rose apple setinggi 2 m disarati buah berwarna merah muda. Dahandahannya sebagian merunduk karena keberatan buah. Maklum sedompol bisa berisi 10 jambu air berukuran lebih besar dari bola tenis. Siapa pun yang melihat pasti tergiur untuk memetiknya. “Waktu masih pentil saya hitung ada 500 buah,” kata Yanto, pengelola kebun. Sayang, setengah dari jumlah itu rontok karena hujan.

Yang tak kalah menarik, tabulampot jambu air berbentuk seperti lonceng panjang berwarna merah gelap. Warna merah tua buah terlihat mencolok di antara hijaunya daun, mirip seperti lonceng natal menghias pohon cemara. Saat berbuah serempak, dompolan Syzygium aqueum yang masih tanpa nama itu nyaris menutup seluruh tajuk. Rose apple dengan daun langsing itu pun rajin berbuah.

3 in 1

Bukan tanpa alasan bila kebun seluas 1.000 m2 itu dipenuhi tabulampot jambu air. Maklum, Edy Chandra—sang pemilik—memang penggemar berat anggota famili Myrtaceae itu. Selain king rose yang mendominasi kebun, Trubus melihat tabulampot jambu irung petruk. Jambu air asal Yogyakarta itu berbentuk panjang dan lonjong seperti hidung Petruk—salah seorang Punakawan dalam cerita pewayangan. (baca: Trubus edisi Juli 2003) Warna buah merah mengkilap seperti gincu para wanita. Pantas bila sedang disarati buah, tabulampot seperti terang menyala.

Tak melulu yang berbuah merah, Edy Chandra pun mengoleksi tabulampot jambu air tsunami. Warna buah hijau pekat saat muda; saat matang berubah hijau pucat. Meski penampilan tidak seatraktif kerabat jamblang berbuah merah, tapi tsunami jadi favorit. Maklum sejak muda, buah manis dan daging padat. Lagipula semburat merah masih bisa dinikmati dari pucuk daun berwarna merah kecokelatan. Nama tsunami diabadikan lantaran pohon induk di Banda Aceh tersapu bencana gelombang pasang itu.

Di kebun sama juga dikoleksi tabulampot 3 in 1. Maksudnya 3 jenis jambu air dibuahkan di 1 pohon. Yang tengah berbuah serempak, tabulampot 3 in 1 apel putih, cincalo merah, dan lilin hijau. “Jambu air, termasuk yang 3 in 1, gampang kok dibuahkan berbarengan,” lanjut ayah 5 anak itu. Salah satu kunci utamanya ternyata sangat sederhana: pemilik mesti rajin merompes tunastunas daun muda.

Muncul di batang

Itulah yang dilakukan Yanto. Saat jambu air mulai memasuki masa berbuah—biasanya umur 1 tahun setelah turun dari cangkokan—pria paruh baya itu melakukan seleksi daun. Dari setiap tangkai hanya disisakan 6 helai alias 3 pasang daun. Daun yang tersisa dipotes satu per satu dengan tangan sampai tangkainya terlepas dari batang. Tujuannya agar buah muncul dibekas potesan daun, bukan di ujung dahan. Buah di ujung dahan tidak disukai lantaran biasanya berukuran kecil dan jumlahnya sedikit.

Dalam waktu 1 minggu, dari setiap bekas potesan daun itu muncul tunastunas baru. Calon daun baru itulah yang mesti dirompesi. Lakukan berulangulang—biasanya frekuensi setiap 1 minggu. Nantinya setelah 2—3 kali perompesan, yang muncul bukan lagi tunas tapi calon bunga.

Selain perompesan tunas, media, pemupukan, dan penyiraman faktor penting. Yanto memilih media campuran sekam mentah, sekam bakar, tanah merah, dan pupuk kandang dengan perbandingan seimbang. Sekam dipilih supaya media tetap gembur. Tanah merah relatif miskin hara tapi tidak mudah menggumpal dan mengikat air.

“Kekurangan hara diatasi dengan pemupukan,” ujar Yanto. Sebelum pot diisi media, ditambahkan sekam mentah setinggi 10—15 cm di bagian dasar. Itu supaya tanah tidak ikut terbuang ketika penyiraman.

Setiap 3 bulan sebanyak 2 kg pupuk kandang asal kotoran sapi dibenamkan. Pada kurun waktu sama, mulai dilakukan pemangkasan pembentukan tajuk. Tidak ada aturan khusus, yang penting bentuk tajuk membulat. Mulai umur tanaman 1 tahun, NPK berkomposisi seimbang diberikan setiap 2 minggu. Sebanyak 2 sendok makan ditaburkan di atas media, lalu langsung disiram agar tidak menguap. Pupuk daun boleh saja diberikan dengan frekuensi sama.

Pemupukan itu dihentikan ketika calon bunga mulai muncul. Sebagai gantinya 1 cc per liter Atonik dan 1 cc per liter minyak ikan diguyurkan ke media. Frekuensi pemberian sebulan sekali sampai buah dipetik. Selama proses berbunga hingga menjadi buah, tanaman tidak boleh kekeringan. Penyiraman dilakukan setiap hari. Dengan perlakuan itu kebun Joglo pun “panen” tabulampot jambu air. (Evy Syariefa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img