Monday, July 15, 2024

Panen Udang di Teras Rumah

Rekomendasi
- Advertisement -

Masyarakat perkotaan kini dapat beternak udang vannamei di teras rumah. Tommy Soeharto membuktikannya sukses.

Kolam budidaya udang air payau milik Tommy Soeharto di bilangan
Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Trubus — Menteng, Jakarta Pusat, menjadi kota taman pertama di Indonesia yang dibangun pada zaman Belanda. Di area prestisius itulah Tommy Soeharto—sapaan akrab Hutomo Mandala Putra—beternak udang vannamei. Ia mengembangkan satwa Crustaceae itu di teras rumahnya. Padahal, lazimnya tambak udang vannamei berada 50—100 m dari pantai.

Jarak rumah Tommy ke laut sekitar 10 kilometer. Tommy memelihara satwa air anggota famili Penaeidae itu sejak Januari 2018. “Budidaya udang tidak harus di pantai dan itu menjadi nilai tambah jika diterapkan di masyarakat,” kata putra bungsu Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, itu.

Revolusi udang

Meski jauh dari pantai Tommy membudidayakan whiteleg shrimp—sebutan udang vannamei di Inggris—dalam air payau. Ia memanfaatkan vannamei di kolam bulat berkerangka besi dan berlapis terpal. Biaya pembuatan kolam kurang dari Rp10 juta. Tommy memerlukan 3 m³ air laut ketika benur datang pada Januari 2018. Saat itu air bersalinitas sekitar 32 ppm. Ia memperoleh air laut dari toko penyedia akurium air laut di Jakarta.

Berselang sebulan, ia memasukkan sekitar 200 liter air tawar ke dalam bak bulat setiap 3 hari. Setelah penambahan air tawar, maka salinitas menjadi hanya belasan ppm ketika panen. Tommy menebar 25.000 benur ukuran PL 8 di kolam terpal berdiameter 3 m pada Januari 2018. Artinya jika tinggi air 1 m terdapat sekitar 3.500 udang introduksi itu per m³. Padahal lazimnya padat tebar hanya 100—200 udang per m³.

Sebaiknya kolam vannamei diberi penaung untuk menghindari pH turun drastis. (Dok. Trubus)

Padat tebar tinggi lantaran ia ingin mengetahui kapasitas maksimal kolam. Pria 56 tahun itu mengandalkan dua alat pemberi pakan otomatis. Pemberian pakan setiap 6 jam. Pakan berupa pelet khusus udang. Setiap hari, pemberian pakan mencapai 12,5 kg jika bobot udang 20 gram. Jumlah pakan meningkat seiring pertambahan bobot udang. Tommy melengkapi bak bulat dengan 20 aerator sebagai pemasok oksigen. Kolam juga beratap sehingga terhindar dari sinar matahari langsung dan hujan.

Dengan begitu salinitas air dan pH relatif terjaga. Berselang 3 bulan, Tommy memanen lebih dari 100 kg udang asal daerah subtropis pantai barat Amerika itu. Sebetulnya ia menargetkan panen 300 kg vannamei. Target gagal tercapai karena populasi udang sangat banyak. Tommy mengonsumsi sendiri udang hasil panen perdana itu.

Bobot seekor udang hasil panen beragam, yang terbesar berbobot sekitar 10 gram per ekor. Bobot 10 gram itu sama dengan bobot udang vannamei hasil budidaya di tambak. Cita rasanya pun lezat. Tommy menikmati vannamei dari teras rumahnya. Meski tidak memenuhi target, “Budidaya udang itu layak dilanjutkan dan populasi udang harus diturunkan,” kata pria kelahiran Jakarta itu. Apalagi vannamei juga bernilai ekonomis tinggi. Selain itu peternak mudah mendapat benur karena banyak penjualnya.

Alat pemberi pakan otomatis bekerja setiap 6 jam.

Peternak pun mudah menjual hasil panen. Ia menghitung peternak bisa balik modal setelah panen 3 siklus atau setahun. Beternak vannamei di teras rumah merupakan revolusi budidaya yang amat besar. Sebab, lokasi budidaya di teras, bukan tambak. Kedua salinitas lebih rendah, dari semula 20—30 ppm menjadi hanya kurang dari 20 ppm. Bahkan kini juga berkembang budidaya vannamei air tawar bersalinitas 0 ppm di Lamongan, Jawa Timur.

Produktif

Tommy berencana membudidayakan10.000 satwa kerabat udang windu Penaeus monodon itu lagi pada Desember 2018. Dosen Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si, mengatakan budidaya vannamei di depan rumah bukan hal baru.

Teknik budidaya vannamei seperti Tommy pun lazim dilakukan. Meski begitu, “Budidaya vannamei di kota yang bukan pesisir jarang, tapi lazim dilakukan di kota-kota pesisir,” kata Sinung. Lebih lanjut ia menuturkan masyarakat perkotaan bisa menduplikasi teknik budidaya udang vannamei ala Tommy. Menurut peneliti udang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujungbatee, Nanggroe Aceh Darussalam, Ibnu Sahidhir M.Sc., masyarakat bisa memelihara vannamei sebagai tambahan penghasilan.

Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto membudidayakan vannamei di halaman depan
rumah.

Skala ekonomisnya 2 kolam seluas masing-masing 35 m² seperti teknik bak terpal vannamei (batervan) di Situbondo (Baca Besarkan Udang di Kolam Terpal, Trubus edisi Agustus 2018, halaman 30—31). Batervan juga sangat memungkinkan diterapkan di perkotaan seperti Jakarta dan Depok, Jawa Barat. “Di perumahan yang lahannya tidak luas mungkin kolam bervolume 10 m³ pun bisa. Namun, keuntungan terbatas,” kata Ibnu.

Ia menganjurkan sebaiknya peternak menebar 2.500 benur untuk kolam bervolume 7 m³ seperti kepunyaan Tommy. Dengan kata lain 400 udang per m³. Perhitungan Ibnu dengan padat tebar segitu peternak bisa mendapatkan 10 kg udang per m³ dengan cara panen parsial. Produktivitas itu lebih tinggi dibandingkan dengan tambak berpadat tebar sama yang hanya menghasilkan 2 kg per m³.

Dengan menggunakan teknik itu peternak di perkotaan bisa panen setiap pekan. Ibnu mengatakan kelebihan budidaya di lahan kecil antara lain mudah menangani limbah dan mengontrol kualitas air. “Risiko budidaya udang ala Tommy tidak begitu tinggi karena airnya payau,” kata alumnus Department of Aquaculture, National Taiwan Ocean University, itu.

Dosen Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si.

Jika ingin mendapatkan hasil maksimal di lahan sempit, peternak mesti memelihara satwa air yang kali pertama diidentifikasi pada 1931 itu dengan teknologi bioflok atau kombinasi bioflok dan resirkulasi. Ibnu tengah meneliti sistem kombinasi bioflok dan resirkulasi sehingga belum diketahui hasilnya.

Pilihan lain peternak berlahan terbatas adalah beternak lele. Alasannya produktivitas lele 10 kali lipat udang. Peternak bisa memanen 100 kg lele per m³, sedangkan di luasan sama hanya diperoleh maksimal 10 kg udang. Menurut Ibnu secara teknis tidak ada masalah membudidayakan udang vannamei jauh dari laut. Budidaya vannamei bisa dalam air laut atau garam sintetis. Namun hanya peternak bermodal besar yang bisa menggunakan garam sintetis karena berharga relatif mahal.

Saat ini pengembangan vannamei positif karena sekitar 70% masyarakat membudidayakan organisme pemakan segala alias omnivora itu. Sebelumnya udang windu menghuni tambak hingga 80%. Sinung juga sepakat tren budidaya udang makin menggeliat. “Udang komoditas paling unggul saat ini karena fluktuasi harga tidak terlalu tinggi dan marginnya juga tinggi,” kata Sinung. Alasannya antara lain karena banyak pembeli yang mencari udang. Jika masyarakat baru beternak udang saat ini pun hasil panen pasti terserap pasar.

Toleran

Peneliti udang di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee, Nanggroe Aceh Darussalam, Ibnu Sahidhir M.Sc. (Dok. Ibnu Sahidhir)

Vannamei lebih banyak dibudidayakan lantaran memiliki beberapa keunggulan seperti bisa dipelihara pada kepadatan tinggi hingga 1.000 ekor per m³(Baca Udang Produktivitas Tinggi halaman 16—19). Sementara windu maksimal hanya 20 ekor/m³. Itu karena perilaku ruaya—migrasi untuk berkembang biak—satwa air yang kali pertama diidentifikasi ahli zoologi invertebrata asal Amerika Serikat, Pearl Lee Boone, itu yang vertikal dan horizontal, sedangkan windu horizontal saja. Segmen pasar satwa kerabat udang putih atlantik Litopenaeus setiferus itu pun lebih banyak ketimbang windu. Vannamei berukuran paling kecil 100 atau berbobot 10 g pun laku dijual.

Namun, konsumen enggan membeli windu berukuran sama karena dagingnya sangat sedikit bahkan hampir tidak ada daging. Harap mafhum windu berkarapas tebal. Kelebihan lainnya yakni vannamei lebih toleran fluktuasi kualitas air seperti perubahan suhu dan pH. Bisa dibilang windu lebih sensitif dan vannamei lebih bandel. Kini memelihara satwa kerabat udang jerbung Fenneropenaeus merguiensis itu di perkotaan bukan masalah. Dengan teknik tertentu masyarakat urban pun bisa memanen vannamei di pekarangan rumah.

Waspada Limbah

Menurut dosen Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si, air payau bekas budidaya udang di perkotaan seperti Jakarta berpotensi merusak kualitas air tanah. Musababnya garam dalam air payau yang terakumulasi bisa merembes ke dalam tanah sehingga terjadi intrusi. Jadi hindari membuang air payau bekas budidaya udang ke tanah.

Hindari membuang air payau bekas budidaya udang di perkotaan ke tanah karena berpotensi merusak kualitas air tanah. (Dok. Trubus)

Mengalirkan air payau ke pembuangan komunal seperti selokan juga bukan pilihan tepat. Air dalam selokan mengalir ke sungai. Jika peternak rutin membuang air payau melalui selokan maka lama-kelamaan sungai pun tercemar. Bagaimana solusinya? “Jika bisa kondisikan air dalam kolam menjadi tawar atau setidaknya air menjadi semitawar bersalinitas 2—5 ppm. Caranya dengan penambahan air tawar secara berkala saat budidaya. Intinya air payau itu dinetralkan sebelum dibuang,” kata Sinung.

Air payau menjadi tawar atau semitawar relatif aman bagi lingkungan. Lebih lanjut ia mengatakan sebetulnya budidaya vannamei air tawar sudah berjalan seperti di Lamongan dan Tuban, keduanya di Jawa Timur (Baca Beralih ke Air Tawar, Trubus edisi Maret 2015, halaman 92—93). Budidaya vannamei di air tawar di kota relatif lebih aman karena air bekas budidaya tidak mencemari lingkungan.

Meski begitu ada teknik tertentu agar budidaya vannamei air tawar berhasil. Kali pertama gunakan air laut agar benur mudah beradaptasi. Lalu tambahkan air tawar secara berkala hingga ketika panen salinitas air 2—5 ppm. Sinung menyarankan masyarakat menggunakan tokolan (benih udang berumur sekitar 2 pekan) atau PL 30 ketika membudidayakan udang di air tawar. Dengan begitu udang yang hidup mencapai 90%. Istimewanya lagi peternak memanen udang 2 bulan pascatebar. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img