Sunday, August 14, 2022

Panjang Jalan Hasilkan Antibulai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kisah pada Mei 1997 itu mungkin tak akan terulang. Sebab, sejak Februari 2007 pekebun jagung di Bogor, Jawa Barat, itu menggunakan varietas tahan bulai. Namanya SD-3 alias seleksi darmaga-3. Varietas itu hasil riset Dr Ir Fred Rumawas, pemulia jagung di Bogor, Jawa Barat. Nama itu mudah ditebak, tempat atau lokasi Fred menyeleksi jagung. Darmaga adalah sebuah desa di Kabupaten Bogor, tempat Fred tinggal dan mengajar di Institut Pertanian Bogor.

Pekebun-pekebun di Sumedang, Yogyakarta, Mojokerto, dan Sorong juga menggunakan varietas resisten bulai itu. Jagung mereka terbebas dari serangan Peronosclerospora maydis. Cendawan penyebab penyakit bulai itu acap menggagalkan panen pekebun. Jika serangan terjadi hingga hari ke-42, solusinya adalah mencabut tanaman anggota famili Gramineae itu.

Fred Rumawas, pensiunan dosen Institut Pertanian Bogor, memang bukan Bandung Bondowoso yang membuat 1.000 arca hanya dalam semalam. Untuk menciptakan varietas tahan bulai, doktor Pemuliaan Tanaman itu menghabiskan waktu hingga 9 tahun.

Enam jam

Menyilangkan jagung bukan hal gampang. Hambatan datang dari karakteristik Zea mays. Tanaman asal Meksiko Barat itu berumah ganda. Artinya, bunga jantan dan betina terpisah, tidak di satu bunga. Rangkaian bunga jantan di ujung batang; bunga betina, di ketiak daun ke-6 atau ke-8 dari bunga jantan. Bunga jagung juga tidak lengkap lantaran tiadanya petal dan sepal sehingga kerapkali disebut tanaman bersari silang.

Sudah begitu, serbuk sari alias bunga jantan jagung hanya mampu bertahan 6 jam. Bandingkan dengan serbuk sari anggrek yang bertahan hingga 3 bulan. Itulah sebabnya, Fred kerap di kebun percobaan pada pukul 06.00 supaya tak kehilangan momen itu. Doktor alumnus Purdue University, Amerika Serikat itu bertahan di kebun percobaan hingga pukul 13.00.

Di kebun percobaan seluas 1,5 ha, pemulia kelahiran Jakarta 28 Februari 1938 itu membungkus bunga jantan yang serbuk sarinya hampir rontok dengan kertas. Empat jam berselang, serbuk sari itu berjatuhan di kantong kertas. Dengan hati-hati, ia membuka kantong berisi serbuk sari. Pejantan itulah yang ia pertemukan dengan bunga betina.

Caranya dengan menggelontorkan serbuk sari itu persis di bunga betina. Namun, ketika musim hujan ia menggunakan kuas untuk mempertemukan bunga jantan dan betina. Untuk menghasilkan jagung antibulai ia menggunakan varietas SD-2 sebagai induk jantan dan hibrida lokal sebagai induk betina. SD-2 yang lahir pada 1987 hasil perkawinan hawaiian super sweet dengan baster kuning dan manado kuning.

Walau tongkol SD-2 lebih kecil, tetapi kemanisannya stabil, 10o briks. Rambut SD-2 berwarna putih, bukan seperti lazimnya yang merah. Itu atas permintaan istri Fred yang menginginkan jagung berambut putih. Alasannya rambut jagung yang putih tetap putih setelah direbus; rambut merah, berubah hitam. ‘Karena orang kita makan dengan mata,’ kata Fred.

Manis

Ahli pemuliaan itu lantas menyilangkan sesama hasil persilangan SD-2 dan hibrida lokal. Salah satu tetua jagung hibrida lokal itu IPB 4 dan DMR yang resisten bulai. Penyilangan itu hingga 3 generasi agar ia memperoleh varietas yang benar-benar tangguh menghadapi serangan bulai. Varietas baru itu diberi nama SD-3 yang dirilis setahun lalu.

Kini SD-3 banyak dibudidayakan pekebun di berbagai daerah. Ibrahim Rony Kusnadi, pekebun di Bogor, Jawa Barat, yang mengebunkan jagung SD-3 mengatakan varietas pendatang baru itu sangat bagus. ‘Jagung itu terbukti antibulai, sangat toleran atau mampu bertahan 6 hari, warna menarik, dan enak di lidah,’ kata Rony.

Jagung manis biasanya harus dipanen tepat waktu agar kemanisannya bertahan. Namun, panen jagung SD-3 dapat ditunda hingga 6 hari tanpa menurunkan kadar kemanisan. Rony yang puluhan tahun mengebunkan jagung, kini menanam ulang SD-3 pada musim peralihan. Biasanya serangan bulai mengganas saat itu.

Saat ini Fred juga tengah mempersiapkan SD-4 yang juga antibulai. Itu hasil persilangan antara SD-3 dengan galur jagung antibulai dan jagung ketan. Hasilnya: manis, tahan lama, dan lebih mengkilap. Pria yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, Spanyol, dan Jerman itu tengah ‘mengutak-atik’ agar rambut SD-4 yang kini merah berubah menjadi putih. Diperkirakan, setahun mendatang benih SD-4 tersedia di pasaran.

Kehadiran jagung-jagung antibulai itu memang diharapkan banyak pekebun. Sebab, cendawan Peronosclerospora maydis -penyebab bulai-menyerang jagung tanpa pandang bulu. Jagung hasil pemuliaan Fred Rumawas tak hanya kokoh menghadapi serangan bulai, tetapi juga berproduksi menjulang: 9 ton per ha. (Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img