Tuesday, November 29, 2022

Para Jagoan Serap Karbondioksida

Rekomendasi

 

Soal kehebatan trembesi menyerap polutan itu dibuktikan Dr Ir Endes N Dahlan. Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu meriset 43 pohon yang acap dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan. Ia tertarik untuk meriset lantaran kian meningkatkan konsentrasi karbondioksida di atmosfer, 350 ppm. ‘Jika laju penambahan penggunaan bahan bakar minyak dan gas tak berubah, 60 tahun mendatang konsentrasi karbondioksida meningkat menjadi 550 ppm,’ katanya.

Padahal, setiap peningkatan 100 ppm karbondioksida menyebabkan melonjaknya suhu 1oC. Harap mafhum, gas yang memiliki berat jenis 1,5 kali lebih besar daripada udara itu menyerap gelombang panjang.

Karbondioksida juga bersifat asfiksian alias menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, seolah-olah oksigen di udara sangat rendah. Padahal, konsentrasi gas oksigen di udara tetap: 20,95%. Dalam jangka panjang, karbondioksida yang dihirup manusia mengakibatkan rendahnya kadar oksihemoglobin.

Dalam keadaan ideal, karbondioksida diserap oleh vegetasi di ruang terbuka hijau. Sayangnya, di berbagai daerah ruang terbuka hijau kian menyusut. Menyempitnya ruang terbuka hijau diiringi dengan melonjaknya emisi karbondioksida. Di Bogor, misalnya, emisi gas itu cenderung membubung. Pada 2000 emisi karbondioksida di daerah yang dulu sohor sebagai Kota Hujan itu hanya 4,35, lalu meningkat menjadi 4,60 pada 2001, bahkan 15,36 pada 2007.

Trembesi top

Membudidayakan pohon tertentu di daerah berpolutan, salah satu solusi. Pohon apa yang paling pas? Untuk menjawab pertanyaan itu, Endes N Dahlan selama 2 tahun sejak Maret 2005 meriset kemampuan beragam pohon menyerap karbondioksida. Doktor Ilmu Kehutanan alumnus Institut Pertanian Bogor itu mengambil sampel daun 2 kali. Pertama, sejam menjelang proses fotosintesis atau pukul 05.00 dan ketika proses fotosintesis itu berlangsung pada pukul 10.00. Saat sama, juga terjadi kepadatan lalulintas tertinggi.

Daun diambil dari 2 lokasi berbeda, Kebun Raya Bogor dan Hutan CIFOR (Center International Forestry Research), keduanya di Kotamadya Bogor yang kini mempunyai 3.506 angkutan kota. Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 26 Desember 1950, itu mengambil 30 gram daun-berbagai umur-dari pohon berdiameter 30-40 cm atau mempunyai ketinggian tajuk yang sama.

Ayah 4 anak itu lantas menuangkan 2 liter alkohol 70% dalam kantong plastik. Daun-daun itu direndam di dalamnya selama 15 menit. Perendaman bertujuan untuk menghentikan laju metabolisme daun. Suami Iyah R Yusliani itu lalu menjemur dan mengoven daun-daun pada suhu 70oC selama 2 hari. Daun keringkerontang itulah yang ia giling sampai halus. Endes kemudian mengayak sampel hingga memperoleh bobot 20 g dan menambahkan 20 ml asam klorida.

Mantan asisten peneliti Seameo Biotrop itu menghidrolisis larutan itu selama 2,5 jam. Larutan yang berubah warna dari kebiruan menjadi merah muda itu diberi 5 ml sengsulfat 5% dan 5 ml barium hidroksida 0,3 N. Larutan itu melarutkan protein. Dengan spektrometer, ia mengukur kadar karbohidrat pada setiap daun.

Dari data itulah pria 57 tahun itu mengkonversi kadar karbohidrat ke serapan karbondioksida. Dalam proses fotosintesis, gas itu diubah menjadi glukosa oleh tanaman (baca: Cara Pohon Serap Karbondioksida halaman 158). Hasilnya, trembesi alias munggur terbukti paling banyak menyerap karbondioksida. Dalam setahun, tanaman yang didatangkan Belanda dari Semenanjung Yucatan, Meksiko, 16.400 km di seberang Jakarta itu menyerap 28.488,39 kg karbondioksida (lihat tabel).

Pilih-pilih

Tanaman anggota famili Fabaceae itu layak ditanam di daerah berpolutan tinggi. Namun, harus dipertimbangkan area penanaman jauh dari gedung atau bangunan. Soalnya, akar pohon yang juga disebut raintree alias kihujan itu mampu menjebol bangunan. Saat ini ketika pemerintah mencanangkan Gerakan Menanam dan Merawat Sepuluh Juta Pohon, idealnya ada seleksi untuk memilih pohon yang tepat.

‘Dengan pohon yang tepat, mungkin bukan sepuluh juta pohon yang kita tanam, tapi cukup 500.000 pohon,’ ujar Endes. Ia mencontohkan di daerah berpolutan debu besi seperti Kotamadya Cilegon, Provinsi Banten -di sana terdapat pabrik baja PT Krakatau Steel-misalnya, pohon waru Hibiscus sp pilihan paling tepat. Anggota famili Malvaceae itu mampu menyerap 3 kg debu besi setahun. Jika bobot 1 kg besi sekepalan tangan, kerabat bunga sepatu itu menyerap 3 kepalan besi.

Sebaliknya, di wilayah yang kerap tergenang dan kita ingin air cepat surut, sengon- lah paling pas. Evaporasi Albizzia falcata itu sangat tinggi. ‘Jadi kita harus tahu tujuan menanam pohon,’ katanya. Namun, sayangnya itu tak diterapkan ketika gerakan penghijauan digulirkan.

Gerakan penghijauan semacam itu memang bukan baru sekarang dicanangkan. Provinsi Jakarta, umpamanya, sejak Gubernur Ali Sadikin (1966-1977) membuat kebijakan menghijaukan kota seluas 650 km2. Kemudian kebijakan Gubernur Wiyogo Atmodarminto (1987-1992) mengembalikan fungsi jalur hijau yang digerogoti perumahan dan perkampungan kumuh. Wiyogo mengatakan untuk mewujudkan lingkungan ideal, Jakarta harus punya ruang terbuka hijau 30% (23.750 ha).

Pada 1992 pemerintah juga meneken Keputusan Presiden No. 20/1992 untuk mengkampanyekan penghijauan. Kini, 15 tahun kemudian pemerintah mencanangkan program serupa. ‘Sudah seharusnya seluruh bangsa ke depan menyadari akan pentingnya kegiatan penanaman pohon atau tanaman lainnya sebagai sumber penunjang kehidupan,’ kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan hari Bumi 22 April 2006.

Pengamat lingkungan Lukas Adhyakso MSc PhD mengatakan program itu berdampak positif. ‘Menambah jumlah pohon berarti meningkatkan fungsi ekologi, misalnya kemampuan pohon menyerap air tanah dan mengurangi polutan,’ kata doktor Ilmu Hayat lulusan perguruan tinggi di Skotlandia itu.

Selain itu dampak sosial penghijauan juga sangat besar. Masyarakat perkotaan yang mengendarai sepeda motor atau berjalan kaki, misalnya, merasa lebih nyaman jika jalanan teduh oleh pohon. Tentu saja agar efektif, tidak sekadar menanam pohon. ‘Di Jakarta yang penduduk dan lalulintasnya padat, angsana tidak cocok sebagai penghijauan karena mudah tumbang,’ kata master Teknik Lingkungan itu. Singkat kata, tanamlah pohon sesuai peruntukannya. (Sardi Duryatmo)

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img