Thursday, December 8, 2022

Para Kampiun di Waterloo

Rekomendasi

Dua kali datang, dua kali menang.

Ra chinee pandok (RCN) milik pehobi di Jakarta, Zulkarnain, itu memang luar biasa. Pada kontes di Pameran Flora dan Fauna, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, (1 Juli 2012) adenium itu meraih gelar best in show. Sebelumnya pada kontes adenium nasional di Bekasi, Jawa Barat, akhir April 2012, ia juga meraih gelar serupa. “RCN kuat di semua kriteria penilaian terutama kematangan,” ujar juri dari Surabaya, Jawa Timur, Agustinus.

Bukti karakter RCN itu kuat, adalah hadirnya bunga. Sebab, bunga RCN spesifik dan berbeda dengan bunga adenium dari jenis lain. Itu sebabnya penampilannya kali ini lebih bagus dibandingkan saat kontes di Bekasi. Pujian juga terlontar dari ketua dewan juri, Gunariyanto, “Tanaman terlihat lebih siap kontes dibandingkan peserta lain, misalnya tidak adanya alat bantu seperti kawat.”

Ra chinee pandok itu memang pantas menjadi jawara. Pasalnya, sang empunya, Zulkarnain dari Nurseri Nurma Bonsai mempersiapkan penampilan klangenannya 2 bulan sebelum kontes. Setiap hari Zulkarnain memutar posisi tanaman agar semua sisi terkena sinar matahari. Ia pun memberikan hara berupa pupuk daun, akar, dan bunga. “Supaya saat kontes performa tanaman maksimal,” tutur Zulkarnain.

Ia juga memangkas dan membentuk percabangan tanaman gurun itu agar terlihat elok dan proporsional. “Nah, dua hari sebelum kontes cukup lakukan pemolesan menggunakan katalis dan sikat gigi halus. Kebersihan dan kesesuaian pot tanaman juga harus diperhatikan. Adenium pun siap kontes,” tutur Zulkarnain. Hasilnya, ra chinee pandok mendapat gelar terbaik setelah mengalahkan 9 pesaingnya.

Kematangan

Pesaing terberatnya adalah adenium koleksi Daun Putih dari Bekasi, Jawa Barat. Juara satu di kelas arabicum besar itu sempat digadang-gadang sebagai best in show. Sayang, kehadiran kawat yang melingkar di percabangan mengurangi nilai dari kriteria penampilan dan kematangan. “Itu tanda tanaman belum cukup matang untuk ikut kontes. Padahal penampilannya tak kalah elok dengan peraih best in show,” ujar Agustinus.

Kontes yang mengusung tema “Mendorong Kebangkitan Adenium dan Tanaman Hias Indonesia” itu diikuti oleh 202 peserta dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. “Saat tren tanaman hias lesu, jumlah itu sudah luar biasa,” kata Dr Solikin M Juhro, ketua Himpunan Petani dan Pencinta Adenium (HPPA). “Kami juga ingin agar gairah para petani dalam merawat dan menanam adenium tetap konsisten,” tutur HM Lukman F Rais, ketua kontes.

Adenium peserta kontes di Lapangan Banteng yang dahulu disebut Waterloo-plein itu sama dengan kontes lain. “Kondisi tanaman semakin matang, terutama adenium dari kelas gaya bonsai. Itu terlihat dari banyaknya adenium yang mendapat pita merah (predikat baik sekali, red),” ujar Gunariyanto. Lihatlah adenium obesum koleksi Soeroso Soemopawiro, pehobi di Pondokindah, Jakarta Selatan, marak bunga berwarna putih.

Pantas bila para juri mendaulat tanaman gurun itu sebagai jawara kelas bunga kompak. “Bunga tak hanya banyak, tetapi juga rata memenuhi seluruh tajuk. Kondisi itu sulit tercapai sebab pemilik harus berpengalaman. Tingkat keberhasilan membungakan biasanya hanya 75% dengan persiapan minimal 1,5 bulan sebelum kontes,” papar Agustinus.

Rahasia Soeroso membungakan ialah, “Tanaman harus memperoleh sinar matahari cukup. Berikan media porous yang mengandung pasir. Setelah itu lakukan penyiraman setiap hari. Pangkas juga daun dan cabang, sepekan pascapemangkasan berikan pupuk daun setiap 2 pekan sekali. Tanaman pun siap berbunga,” tutur pemilik Oasis Nursery itu.

Variegata

Sepekan setelah kontes adenium, Banteng Sansevieria Club (BSC) menyelenggarakan kontes sansevieria dengan total peserta 190 tanaman dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Wonosobo, Temanggung, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan. “Walaupun jumlah peserta berkurang dibandingkan tahun 2011 (200-an peserta, red) tetapi kualitas tanaman kian meningkat, terutama di kategori utama. Tanaman terlihat semakin matang,” ujar Taufik, juri dari Tangerang.

Seiring meningkatnya animo masyarakat terhadap tanaman variegata, panitia tak tanggung-tanggung membuka hingga 5 kelas sekaligus. “Semua ukuran variegata ada. Yang teramai di kelas variegata madya,” ujar Taufik. Kecantikan lidah naga belang memang tak ada matinya. Sansevieria ‘Uganda Silver’ koleksi Depok Sansevieria Community (Desacom), misalnya, meraih peringkat pertama di kelas variegata round leaf utama. “Walau warna tak terlalu ngejreng, corak striata bagus. Lagi pula tanaman itu langka,” tutur Taufik.

“Bila ada sansevieria yang sama-sama menarik, faktor kelangkaan memang menjadi salah satu pertimbangan,” ujar Ahmad Hari, juri dari Surabaya. Komunitas baru itu juga meraih jawara pada 3 kelas variegata lain, flat leaf utama, flat leaf madya, dan round leaf madya. Di kategori utama kelas round leaf tunggal sansevieria “Doris Pfennig” koleksi Edi Sebayang, kolektor di Tangerang, Provinsi Banten, berhasil meraih takhta tertinggi. “Tanaman sudah mencapai puncak performance,” ujar Taufik.

Menurut juri asal Surabaya, Sapto Nugroho, penampilan Sansevieria pfisteri di posisi kedua sebenarnya sama elok, tapi dari segi komposisi dan kematangan doris menang mutlak. “Sansevieria jenis doris pfennig berukuran besar jarang dijumpai di pasaran. Lagipula pertumbuhan tanaman konsisten karena tidak ditemui masa stres,” kata Ahmad Hari. Wajar bila ketiga juri memuji kelihaian sang empunya karena mampu menjaga penampilan tanaman tetap prima.

Penampilan tak kalah elok di kategori utama juga dijumpai pada kelas flat leaf tunggal dan majemuk. Sansevieria silver blue koleksi H Shohifin tampak memukau. “Susunan daun roset dengan ‘irama’ enak dipandang. Sejatinya jenis itu pertumbuhannya agak ngelancir ke atas,” tutur Taufik. Pesaingnya ialah dua hibrida cantik koleksi Soeyatno Subekti asal Temanggung, Jawa Tengah.

Gatot Purwoko

Ajang Flora dan Fauna kian ramai kala Perhimpunan Aglaonema Indonesia (PAGI) menyelenggarakan lomba adu cantik aglaonema pada 15 Juli 2012. “Kontes kali ini untuk mengenang mendiang Capt. Gatot Purwoko, seorang tokoh aglaonema Indonesia,” tutur juri asal Jakarta dan anggota PAGI, Rishal M Luthan. Gatot Purwoko meninggal dunia dalam musibah pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Kabupaten Bogor.

Sekitar 40 aglaonema asal Jakarta, Bogor, dan Tangerang, ikut menyemarakkan kontes yang memperebutkan Gatot Purwoko Award. Kontes terbagi dalam dua kelas, juvenil dan tunggal. Di kelas juvenil hot lady koleksi Choky Simanjuntak asal Jakarta Timur berhasil mendapat peringkat pertama mengalahkan 17 aglaonema lain. “Warna merah hot lady mendominasi dan susunan daunnya juga utuh,” kata Moes Mustadir, juri dari Sulawesi Selatan.

Sementara juara kedua dan ketiga adalah aglaonema lipstik pink koleksi Indri Greg Hambali (Bogor) dan big leaf milik Nurseri Ayu dari Jakarta. Sri rejeki yang masuk kelas juvenil, yaitu aglaonema yang memiliki 10 daun terbuka dengan daun ke-11 masih menggulung. Sementara di kelas tunggal-aglaonema yang memiliki lebih dari 11 daun-little lemon milik Henry Biantoro, hobiis di Cilandak, Jakarta Selatan, meraih posisi teratas.

Ketiga juri-Rishal M Luthan, Moes Mustadir, dan Faries Al Haji (Qatar) juga menobatkan little lemon sebagai best performance aglaonema. “Amazing, daunnya bisa mencapai 25 helai. Padahal, little lemon termasuk kategori sulit dirawat,” tutur Rishal. Menurut Mustadir warnanya juga sangat maksimal (putih gading). Kontes adu cantik aglaonema itu ditutup dengan penyerahan tropi kepada keluarga almarhum Gatot Purwoko.

Santigi

Nun di Cirebon, Jawa Barat, Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Cirebon menyelenggarakan kontes dan ekshibisi bertajuk “Geliat Bonsai Cirebon 2012”. Kontes yang diikuti 228 peserta dari berbagai kota seperti Jakarta, Jawa Barat (Bekasi, Karawang, Subang, Tasikmalaya), Jawa Tengah (Brebes, Kendal, Kudus), Yogyakarta, dan Jawa Timur (Surabaya, Sumenep), itu berlangsung meriah.

Kontes yang berlangsung di kompleks Angkatan Laut Dewa Ruci, Cirebon, itu mempertandingkan tiga kelas yaitu prospek, regional, dan madya. Ketua PPBI cabang Cirebon, Adi Bima, mengatakan bahwa juri memilih tiga tanaman terbaik di setiap kelas. Di kelas regional, para juri-H Sarno Kosasih (Semarang), Wahyudin Sambas (Bandung), Murgyo Winarno (Yogyakarta), dan A Tjahyo Karyono G (Tuban)-menempatkan bonsai cemara udang sebagai juara pertama.

Bonsai koleksi Kidi dari Jakarta itu mengalahkan 56 peserta lain. “Prospek ke depan bagus. Itu sebabnya ia mendapat empat pita merah predikat sangat baik,” tutur ketua dewan juri, Maya Rusmayadi. Sementara di kelas madya, kelima juri-M Umar HS (Surabaya), Supriyanto (Ponorogo), Antonius (Malang), Rully FP (Depok), dan Asep Yayat (Tasikmalaya) terpaksa melakukan pemungutan suara karena nilai dua bonsai sama.

Hasil voting menunjukkan bahwa bonsai santigi koleksi Safrudin dari Majalengka lebih unggul. Tiga dari lima juri memilih bonsai santigi; dua juri memilih bonsai serut milik Iman Harisman asal Kuningan. “Konsep konvensional (klasik) mengantarkannya jadi juara, walaupun dari segi realitas alam serut lebih unggul karena tanpa kawat,” ujar Rusmayadi. Semua tanaman pun bergaya untuk menjadi jawara. (Tri Istianingsih)

 

Foto-Foto :

  1. Best in show kontes adenium, ra chinee pandok tampil maksimal dan matang
  2. Juara 1 bunga kompak, bunga merata memenuhi tajuk
  3. Kampiun adenium bonggol emas, sebaran warna emas tegas
  4. Doris pfennig, jawara utama round leaf tunggal, sansevieria sudah mencapai puncak  performance
  5. Juara utama variegata kelas flat leaf, variegata ngejreng dan tegas
  6. Uganda silver, juara 1 utama flat leaf, susunan daun roset
  7. Para pemilik aglaonema juara dan anggota PAGI dalam “Gatot Purwoko Award”
  8. Hot lady, juara 1 kategori juvenil, warna merah mendominasi dengan susunan daun utuh
  9. Lipstik pink, aglaonema baru juara 2 kategori juvenil
  10. Best performance kontes aglaonema, tanaman apik dengan warna putih gading maksimal
  11. Juara 1 madya, santigi bergaya konvensional (klasik)
  12. Juara 1 regional, bakalan bagus untuk bonsai

Adenium Jawara Lapangan Banteng

Kelas

Pemilik/Asal

Total Nilai

RCN Besar

Zulkarnainn (Nurma Bonsai)*/Jakarta

83,92

RCN Kecil

Gunawan (ASP)/Tangerang

82,75

Arabicum Besar

Daun Putih/Bekasi

83,83

Arabicum Kecil

Gunawan (Daun Putih) /Bekasi

82,42

Thai Soco Besar

M Fatah /Bekasi

81,50

Thai Soco Kecil

Fatih (Daun Putih) /Bekasi

81,75

Gaya Bonsai Besar

Hazida/Bekasi

82,00

Gaya Bonsai Kecil

Oasis Sentul Nursery/Jakarta

82,08

Mame

Pandi Baskoro/Tangerang

81,92

Free Style

M Fatah/Bekasi

81,75

Total Performance

M Fatah/Bekasi

82,00

Bunga Kompak

Oasis Sentul Nursery/jakarta

82,32

Unik Alami

Angguan/Jakarta

82,52

Unik Kreasi

M Fatah/Bekasi

82,12

Kristata

Tora/Bekasi

82,00

Bonggol Emas

M Fatah/Bekasi

81,92

Prospek

Tora/Bekasi

82,00

Best in Show Khusus

Angguan/Jakarta

82,52

Keterangan: *Best in show

Lidah Naga Terelok Lapangan Banteng

Kategori

Kelas

Pemilik/Asal

Nilai

Utama

Round Leaf Majemuk

TSC/Tangerang

186

Round Leaf Tunggal

TSC/Tangerang

186

Flat Leaf Tunggal Majemuk

H Shohifin/Temanggung

185

Madya

Round Leaf Tunggal

Budi (MSC)/Jakarta

177

Prospek

Round Leaf Tunggal

Andrew/Jakarta

181

Flat Leaf Tunggal

Anka Siau/Banjarmasin

177

Variegata

Flat Leaf Utama

Desacom/Depok

194

Flat Leaf Madya

Desacom/Depok

189

Round Leaf Utama

Desacom/Depok

200

Round Leaf Madya

Desacom/Depok

196

Small

TSC/Tangerang

191

Mini Size

 

Karisma Sanse/Jakarta

178

Aglaonema Terbaik “Gatot Purwoko Award”

Kategori

Juara

Jenis Tanaman

Pemilik

Nilai

Tunggal

1

Little Lemon

Henry Biantoro/Jakarta

89,42

 

2

Adelia

Indri Greg Hambali/Bogor

87,25

 

3

Big Mama

Yendi Septifiyandi/Jakarta

85,58

Juvenil

1

Hot Lady

Choky Simanjuntak/Jakarta

87,42

 

2

Lipstik Pink

Indri Greg Hambali/Bogor

86,00

 

3

Big Leaf

Ayu nurseri/Jakarta

82,67

“The Best” Bonsai di Kota Udang

Kategori

Juara

Jenis Tanaman

Pemilik/Asal

Ukuran

Madya

1

Santigi

Safrudin/Majalengka

Besar

2

Serut

Iman Harisman/Kuningan

Sedang

3

Sakura

Purwo/Cirebon

Besar

Regional

1

Cemara Udang

Kidi/Jakarta

Besar

2

Sancang

H. Apip/Tasikmalaya

Sedang

3

Santigi

H. Karim/Kendal

Sedang

Prospek

1

Cemara udang

Purwo/Cirebon

Sedang

2

Asam Saraf

Waslim/Cirebon

Sedang

3

Mirten

Wawan/Cirebon

Kecil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img