Monday, August 15, 2022

Para Titisan Atlantik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Induk atlantik melahirkan tiga kentang baru: amabile, maglia, dan median yang tahan penyakit dan berproduksi menjulang.

Mulanya memang hanya bercak nekrotik di tepi dan ujung daun. Namun, pada akhirnya bercak-bercak nekrotik itu berkembang ke seluruh daun sebelum akhirnya tanaman mati. Ulah cendawan Phytophthora infestans itu salah satu pemicu produksi kentang anjlok sebagaimana pengalaman Kuswara, pekebun kentang atlantik di Desa Situsari, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.

Pada musim tanam 2012, pekebun itu hanya menuai 1.000 kg umbi per 700 m2. Jika dikalkulasi-kan angka itu setara 14 ton per ha. Padahal, lazimnya produksi atlantik bisa mencapai 15-20 ton per ha. Serangan penyakit bukan satu-satunya pemicu anjloknya produksi. Faktor lain yalni degenarasi bibit. Menurut Prof Dr Murdaningsih Haeruman K, guru besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, degenerasi genetika terjadi lantaran penanaman suatu varietas yang sama secara terus-menerus. “Karena secara genetika melemah, hama mudah menyerang,” ujarnya.

Tiga varietas

Untuk mengatasi masalah itu, perlu varietas-varietas unggul supaya keragaman genetika kentang terjaga. Balai Penelitian Tanaman Sayuran merilis tiga varietas unggul, yakni amabile, maglia, dan median. Lembaga itu melepas ketiganya setelah menguji coba di Desa Cikandang, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hasil uji memperlihatkan ketiga varietas itu hanya 10% terserang penyakit busuk daun, momok bagi pekebun pada umur 90 hari setelah tanam (hst).

“Atlantik sebagai kontrol pada 80 hari setelah tanam total terkena penyakit busuk daun,” ujar Ir Dias Sudiana, pekebun dan penangkar benih kentang setempat yang berpartisipasi saat pengujian ketiga varietas baru itu. Kehadiran amabile, maglia, dan median jawaban atas masalah pekebun kentang industri saat ini. Pekebun mengeluhkan merosotnya produktivitas atlantik.

Selain tahan terhadap serangan penyakit, produktivitas varietas-varietas baru itu juga tinggi. Produktivitas varietas maglia, misalnya, mencapai 26 ton per ha, sedangkan median dan amabile masing-masing 27 ton dan 28 ton per ha. Itu hampir dua kali lipat produktivitas atlantik yang hanya 15 ton. Selain itu varietas baru itu, terutama median, layak sebagai kentang industri.

Produsen keripik kentang di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Neni Solihah, menuturkan median memiliki tekstur renyah dan berwarna kuning terang setelah digoreng. Soal warna pasar menyukai warna tetap kuning. Itulah sebabnya diharapkan ketiganya mampu mengganti atlantik sebagai bahan baku kentang industri. Direktorat Jenderal Hortikultura Kemenetrian Pertanian pada 2010 memperlihatkan volume impor benih atlantik dari Kanada, Australia, dan Skotlandia mencapai 2.500 ton per pada 2009.

Induk atlantik

Sebelum meluncurkan ketiga varietas baru itu, Balitsa melepas kastanum pada 2011. Varietas unggul itu memiliki potensi produksi hingga 30 ton per hektar. Penampilannya khas berbatang hijau, permukaan daun halus hijau tua, serta warna kulit umbi kuning bertekstur halus. Pantas saat Jambore Hortikultura Nasional pada Juni 2012 kastanum didaulat menjadi pemenang pada lomba calon varietas kentang unggul baru.

Menurut Ir Kusmana, anggota tim pemulia kentang Balitsa, kastanum didorong dapat menjadi subtitusi atlantik di industri keripik kentang. Apalagi dari uji penggorengan, kastanum layak menjadi bahan baku kentang industri seperti industri keripik kentang. “Warna kuning terang dan tekstur renyah membuat kastanum disukai,” ujar Kusmana.

Kastanum merupakan silangan klon-klon unggul koleksi Balitsa hasil introduksi dari Center International Potato (CIP) di Peru, Amerika Tengah. Selain itu kastanum juga tahan terhadap penyakit busuk daun. Dari uji multilokasi di enam sentra memperlihatkan pada 64 hari setelah tanam hanya 30% terserang penyakit. Bandingkan dengan granola yang mencapai 60%.

Meski berprospek, setahun pascarilis kastanum dinilai masih belum stabil. “Produktivitas memang bagus, tapi hasil penggorengan seringkali kurang baik,” tutur Kusmana yang menduga hal itu terjadi karena tetua kastanum bukan berasal dari kentang industri sejati seperti atlantik. Tim pemulia Balitsa merakit varietas baru lain dengan cara menyilangkan atlantik sebagai tetua betina dan 3 klon introduksi dari CIP sebagai tetua jantan.

Persilangan dengan menyisipkan gen itulah melahirkan amabile, maglia, dan median. Ketiganya berumbi mirip atlantik dan mewarisi gen tahan hama dan penyakit. Menurut Murdaningsih pada penyisipan gen tetua jantan menjadi donor gen. Tingkat keberhasilan penyisipan itu mencapai 50%. “Supaya 100% harus dilakukan penyilangan balik,” ujar Murdaningsih. Persilanagan itu melahirkan amabile, maglia, dan median yang unggul. (Muhamad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Kentang atlantik rentan terserang penyakit.
  2. Industri keripik butuh kentang bertekstur renyah dan berwarna kuning setelah digoreng
  3. Ir. Kusmana: kastanum bagus tapi belum stabil
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img