Friday, August 12, 2022

Pasang-Surut Bisnis Benih

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jumlah pendapatan itu lebih besar ketimbang menjual kacang panjang untuk konsumsi. Dari lahan 3.000 m2, ia menuai 3 ton kacang panjang segar. Dengan harga jual Rp1.000/kg, pekebun di Watugandang, Kecamatan Prambon, Nganjuk, Jawa Timur, itu hanya meraup omzet Rp3-juta per musim tanam atau Rp750.000 per bulan. Untuk memproduksi benih, perempuan 50 tahun itu tak perlu mengeluarkan biaya pembelian benih. Benih diperoleh dari PT Riawan Tani, produsen benih di Blitar, Jawa Timur.

Sejak 1983, Komsatun bekerja sama dengan PT Riawan Tani. Pembayaran benih dipotong dari hasil panen. Misalnya, pekebun yang mengambil benih 5 kg, saat panen menghasilkan 20 kg benih. Nah, pembayaran kepada pekebun mitra hanya 15 kg. Selain itu, penanganan pascapanen kacang panjang untuk benih tak memerlukan banyak tenaga kerja. Sebab, penanganannya lebih mudah.

Kacang panjang cukup dibiarkan tua, panen, lalu dikeringkan. Benih pun siap disetor ke Riawan Tani. Bandingkan dengan proses produksi kacang panjang segar yang membutuhkan tenaga kerja lebih banyak sebagai pencuci, pengikat, dan penimbang. Oleh Riawan Tani, benih-benih dari pekebun mitra itu diuji daya kecambahnya. Penguji mengambil sampel sejumlah benih. Sampel itu kemudian disemai di wadah bermedia lembap.

Setelah 4 hari, jumlah benih yang berkecambah dihitung. Bila yang berkecambah lebih dari 70%, para pekebun mitra menerima pembayaran. Bila kurang, benih kembali disortir lalu diuji ulang hingga daya kecambah mencapai 70%. Begitulah cara produsen benih menjaga kualitas. Tujuannya agar kelak ketika benih disemaikan di lahan, pekebun tak kecewa.

Pasar meluas

Ketertarikan Komsatun memproduksi benih lantaran ajakan Sartono, pemilik PT Riawan Tani. Kini tak hanya Komsatun yang menikmati laba dari produksi benih. Sekitar 10 orang pekebun mitra lain, turut bergabung dan membentuk kelompok tani dengan total luas lahan yang dikelola mencapai 30 ha. Lahan itu tersebar di Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Kediri. Selain kacang panjang, komoditas benih lain yang dihasilkan mereka adalah jagung dan terung.

Bertambahnya pekebun mitra itu seiring dengan meningkatnya permintaan benih yang mengalir ke Riawan Tani. Menurut Pujianto, penyelia PT Riawan Tani, sejak 2002 permintaan benih sayuran terus menanjak 5-10% setiap tahun. Itu lantaran pengguna benih produksi Riawan Tani meningkat setelah memperluas pasar hingga Sumatera. ‘Mulanya hanya di Jawa dan Bali. Tahun depan, kami akan menembus pasar Kalimantan dan Sulawesi,’ katanya.

Yang juga merasakan naiknya permintaan benih adalah PT Agrobas Seed, produsen di Kediri, Jawa Timur. Menurut Anang Tri Nuryanto dari Agrobas Seed, benih kacang panjang dan mentimun paling banyak diminta. Sebagai gambaran, permintaan benih kacang panjang biji merah dan putih dengan rasio 50% : 50% (dalam satu kemasan terdapat masing-masing 50% benih kacang panjang merah dan putih) mencapai 5 ton dalam 2 bulan.

Bandingkan dengan 2 tahun lalu yang serapannya ‘cuma’ 15 ton per tahun. Dari penjualan benih kacang panjang 50% : 50% saja, perusahaan itu meraup omzet Rp165-juta dalam 2 bulan. Padahal, selain kacang panjang 50% : 50%, Agrobas juga menyediakan kacang panjang 30% : 70%, dan kacang panjang benih hitam. Anang menuturkan, serapan pasar umumnya di Jawa Timur, Jawa Tengah bagian timur (Cepu, Blora, Solo), dan Bali (Klungkung, Gianyar).

Meningkat

Dua tahun terakhir, permintaan benih lokal memang melambung. Menurut Sartono, peningkatan itu antara lain karena adanya kebijakan pemerintah tentang benih impor yang harus diperbanyak di Indonesia setahun setelah impor. Kebijakan itu membawa berkah bagi para produsen benih lokal. Riawan Tani, misalnya, penjualannya meningkat dari tahun ke tahun, terutama pada kurun 1998-2000.

Ketika itu tingkat penjualan benih sayuran melonjak tajam. Sayang, Pujianto tak ingat seberapa besar jumlah kenaikannya. ‘Pada saat itu perusahaan kami sedang jaya-jayanya,’ kenang Pujianto. Saat itu tingginya penjualan benih dipicu oleh meroketnya nilai tukar mata uang dolar akibat hantaman krisis moneter. Dampaknya para importir enggan mendatangkan benih ke tanahair lantaran harga impor melambung sehingga pekebun sayuran berpaling pada benih-benih lokal.

Pada 2001, kondisi perekonomian mulai membaik. Nilai tukar dolar terhadap rupiah menurun. Namun, kondisi itu justru memperburuk penjualan benih. Benih-benih impor kembali membanjiri pasar tanahair. ‘Saat itu pendapatan kami anjlok menjadi 30% dari total pendapatan tahun sebelumnya,’ ujar Pujianto. Untuk meningkatkan pendapatan, ‘Kami memperluas pasar,’ tambahnya.

Bisnis benih yang pasang-surut memang tak dapat dipungkiri. Produsen benih seperti PT Seminis Vegetable Seed Indonesia pun turut merasakan ombang-ambing usaha benih. Menurut Ir Agus Setiyono, sales manager Indonesia-Malaysia Seminis, permintaan benih sayuran pada 2004-2006 meningkat rata-rata 10-20%. Pada 2006, omzet penjualan benih mencapai Rp350-miliar per tahun. Namun, pada triwulan pertama 2007, penjualan benih justru merosot 30% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Agus menduga, menurunnya penjualan dipicu beberapa faktor. Enam bulan terakhir, para pekebun cabai mengeluhkan serangan hama dan penyakit sehingga panen mereka anjlok. Akibatnya, mereka tak memiliki modal untuk membeli benih pada masa tanam berikutnya. Meski biaya pembelian benih hanya menyerap 30% dari total biaya produksi, tetapi berpengaruh besar bagi para pekebun. Mereka berpaling pada komoditas lain yang minim risiko. ‘Produsen benih pun turut merasakan dampaknya,’ katanya.

Dipengaruhi alam

Benih cabai bagi PT Inkoseed, produsen benih di Bandung, Jawa Barat, justru menjadi andalan meraup laba. Dari kelima komoditas-cabai, tomat, melon, sawi, dan lobak-benih cabai yang paling banyak diminta para pekebun. Sejak 2004-2005, rata-rata penjualan anggota famili Solanaceae itu mencapai 350 kg per tahun setara 100 ha bila kebutuhan benih 3,5 kg per ha. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang komoditas lain yang rata-rata penjualannya kurang dari 100 kg per tahun. Menurut Dadi, rendahnya penjualan benih tomat lantaran berbagai kendala.

Salah satunya adalah produktivitas benih. Pasalnya, jumlah biji pada tomat sangat sedikit. ‘Dari satu buah tomat, biji yang lulus seleksi hanya 10 biji,’ kata Dadi. Bandingkan dengan cabai yang bisa mencapai puluhan biji. Selain itu, nilai ekonomis cabai lebih tinggi ketimbang tomat. Dadi menuturkan, pada harga cabai terendah Rp2.500- Rp3.000 per kg, para pekebun masih bisa kembali modal. Sedangkan tomat, pada saat harga anjlok hingga titik terendah yaitu Rp500 per kg, para pekebun rugi besar lantaran rata-rata biaya produksi tomat minimal Rp1.000 per kg.

Namun, kondisi alam yang tak bisa diprediksi mempengaruhi fluktuasi permintaan benih. Itu dirasakan betul oleh PT Inkoseed, produsen benih di Bandung, Jawa Barat. Ir Dadi Rasmada-general manager Inkoseed-menuturkan, sepanjang 2006 penjualan benih merosot hingga 30% dari tahun sebelumnya. ‘Kemarau 2006 lebih panjang sehingga banyak pekebun enggan menanam,’ kata Dadi. Dadi berharap pendapatan bakal melimpah pada Agustus 2006, awal musim hujan. Pada saat itu para pekebun mulai bercocok tanam.

‘Penjualan pada awal musim hujan mencapai 70% dari total penjualan setahun,’ kata ayah 5 anak itu. Namun, hingga penghujung November, hujan yang dinanti tak juga tiba. Baru pada Desember hujan mengguyur seantero Nusantara. Datangnya hujan ternyata tak juga mendongkrak penjualan benih. Dadi menduga, para pekebun enggan menanam karena takut mengambil risiko lantaran musim yang tak menentu. Akibatnya, penjualan benih Inkoseed merosot tajam.

Meski didera berbagai kendala, toh tak menyurutkan para produsen benih untuk terus melangkah. ‘Selama masih ada pekebun, permintaan benih masih terus mengalir. Oleh sebab itu, pertanian Indonesia mesti terus berkembang,’ kata Agustinus Mulyono Herlambang, direktur PT Multi Global Agrindo, produsen benih lokal di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. (Imam Wiguna/Peliput: A. Arie Raharjo, Kiki Rizkika, Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img