Friday, December 2, 2022

Pasar Swalayan Bernama Benara

Rekomendasi

Semburan butir-butir air serempak memancar dari mulut sprinkler yang dipasang di ujung ratusan pipa setinggi 1 m. Serta-merta ribuan tanaman dalam polibag yang dijejerkan rapi dalam blok-blok terpisah basah. Begitulah cara nurseri Benara menyiram 500 jenis tanaman yang dibudidayakan di lahan seluas 28 ha. Tanpa penyiraman secara mekanis, dipastikan butuh berhari-hari untuk membasahi seluruh nurseri.

Jalan selebar kira-kira 6 m membentang lurus dari arah pintu gerbang. Di sebelah kanan jalan berderet polibag berwarna putih atau hitam berisi berbagai tanaman hias. Di barisan paling depan terlihat beragam soka Ixora chinensis, zodia Evodia suaveolens, kembang sepatu Hibiscus rosasinensis, ceguk Quisqualis indica, hingga sambang darah variegata Excoercaria bicolor. Sebuah plang berwarna hijau bertuliskan ‘sales area’. Itulah etalase tanaman produksi nurseri di tepian Kali Tarum itu.

Konsumen yang tertarik untuk membeli boleh juga ‘mengobok-obok’ hingga ke sudut kebun. Mereka tak bakalan tersesat lantaran nurseri itu ditata rapi dalam blok-blok yang dipisahkan oleh jalan-jalan setapak. Setiap blok diisi tanaman berbeda. Blok A yang terletak di dekat loading area melulu untuk tanaman yang lamban tumbuh seperti palem-paleman. Sementara di blok B ada tanaman-tanaman semak daun dan perdu berbunga.

Bila yang dicari tanaman hias daun untuk indoor maka yang dituju adalah greenhouse. Pada setiap polibag terlihat gambar sebatang cemara. Ikon khas Benara itulah yang dilihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di luar negeri.

Maldive

Pasar ekspor memang salah satu pasar tujuan PT Benar Flora Utama-pengelola nurseri Benara. Bila sekali waktu Anda sempat duduk-duduk di sebuah kafe di salah satu negara Eropa, lihatlah siapa tahu ada topiari berbentuk bola. ‘Itu topiari khas Benara,’ tutur James R Lumbanradja, general manager PT Benar Flora Utama. Topiari sejenis juga bakal ditemukan di negara-negara Amerika Latin, Kuwait, Dubai, dan Maldive-sekadar menyebut contoh negara pengimpor. Selain topiari para pelanggan mengimpor tanaman untuk lansekap.

Yang paling gres proyek lansekap untuk spa-spa di Maldive. Negara pulau itu memang tengah getol-getolnya mempercantik diri. Salah satunya dengan membuat taman-taman tropis di halaman spa-spa yang berlokasi di tepi pantai. ‘Dari sekitar 18 spa ada 6-8 spa yang lansekapnya menggunakan tanaman asal Benara,’ ujar James.

Bukan tanpa alasan Benara membidik pasar ekspor. Di mancanegara, tanaman tropis-jenis-jenis tertentu-jadi tanaman eksklusif. Sebut saja sikas Cycas revoluta, palem bismarckia Bismarckia nobilis, palem botol Hyophorbe lagenicaulis, palem waregu Raphis excelca, dan palem kuning Chrysalidocarpus lutescens. Setiap tahun, kontainer-kontainer 20 feet keluar dari Benara menuju mancanegara.

Pucuk merah

Di dalam negeri, perancang taman, pedagang, dan hobiis jadi pasar incaran. Waktu Trubus datang pada akhir Mei 2008 ada 2 pedagang asal Subang yang tengah berbelanja. Mereka leluasa memilih-milih sendiri tanaman penutup tanah-groundcover-untuk dijual kembali. Hampir berbarengan dengan mereka meluncur masuk sepeda motor yang dikendarai calon pembeli dari Purwakarta.

Lokasi Benara yang sedikit ‘mojok’ tidak mengurungkan niat mereka untuk bolakbalik membeli tanaman. Maklum kebun yang berafi liasi dengan sebuah nurseri di Australia itu bak pasar swalayan tanaman hias. Hanya dengan datang ke 1 lokasi, pelanggan bisa membeli beragam tanaman.

Namun, primadona penjualan adalah pucuk merah Syzygium oleina. Kerabat jambu air itu punya penampilan cantik. Daun mudanya berwarna merah terang, kontras dengan daun tua yang hijau. Sosok kompak dan gampang tumbuh. Pantas anggota famili Myrtaceae itu banyak dipakai sebagai tanaman penghijauan dan lansekap.

Hampir semua tanaman di Benara memang bisa dijadikan tanaman lansekap. Maklum pada awal berdirinya pada 1995, Benara juga merupakan perusahaan lansekap. Taman di sekitar rumah kaca di Menteng, Jakarta Pusat, salah satu yang memanfaatkan tanaman asal Benara.

Inovasi

Belakangan Benara juga mengincar pasar ritel. Di saat tren tanaman hias meluruk hingga hobiis di kota-kota kecil, keputusan itu bak gayung bersambut. Tak jarang sekelompok ibu-ibu datang ke nurseri untuk berbelanja.

Namun, kebesaran nama Benara tak didapat dengan mudah. Pada 2002 serangan kumbang gajah yang kerap mengintai kelapa menyerbu. Dalam sekejap ribuan palem berbagai ukuran siap ekspor mati. Membaca keinginan pasar pun jadi batu sandungan. Benara sempat mengoleksi cukup banyak yucca, shrubs, dan agave. Tujuannya untuk membidik pasar lansekap bertema taman kering. Apa lacur, prediksi tren mengarah pada taman kering tidak terbukti. Penjualan tanaman-tanaman itu mandek.

Toh, Benara tak surut langkah. Berbagai inovasi dilakukan untuk mengembangkan pasar. Dari 1.000 jenis tanaman, 500 jenis dipertahankan. Seleksi berdasarkan kebutuhan pasar. Pemasaran lewat dunia maya kian dipacu. Harapannya akan lebih banyak polibag-polibag bergambarkan sebatang cemara menyebar di tanahair dan mancanegara. (Evy Syariefa/Peliput: Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img