Friday, May 24, 2024

PCO Satu Botol Dua Kekuatan

Rekomendasi
- Advertisement -

Sosok baru bernama Pandanus Cocos Oil (PCO) itu sudah diteliti Puslit Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Buah merah memang menjadi buah bibir di berbagai tempat. Minyak buah merah yang dikemas dalam botol telah merebak ke seluruh penjuru nusantara. Kepopuleran itu kini dialami virgin coconut oil. Minyak perawan itu sekarang diproduksi secara di banyak tempat. Ia diyakini sebagai suplemen yang membantu proses penyembuhan berbagai penyakit seperti diabetes dan kelainan fungsi tiroid.

Buah merah kaya zat antioksidan seperti tokoferol dan betakaroten. Sementara VCO melimpah asam lemak jenuh rantai sedang, Medium Chain Fatty Acid (MCFA), seperti asam kaprilat, asam kaprat, dan asam laurat.

Kombinasi ketiganya identik dengan kandungan air susu ibu (ASI). Kombinasi buah merah dan VCO diharapkan mampu menguatkan masing-masing suplemen itu. Meski demikian di mata para ahli penggabungan itu tetap patut diwaspadai. Banyak yang belum terungkap secara medis mengenai keamanan penggunaan Pandanus Cocos Oil itu. Inilah pendapat 4 pakar yang dihubungi Trubus.

1. Profesor Dr Sumali Wiryowidagdo,
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Farmasi Universitas Indonesia

Dahulu ada paradigma boleh mencampur berbagai tanaman yang mempunyai khasiat sama, sehingga dihasilkan herbal baru dengan khasiat lebih tinggi. Namun, kini itu dinilai tidak efi sien dan berlebihan. “Jika satu tanaman mempunyai khasiat untuk penyakit tertentu, kenapa tidak digunakan satu saja,” papar Sumali. Meski diketahui memiliki khasiat sama, sebenarnya tanaman mempunyai mekanisme kerja tersendiri.

Pada buah merah, asam lemak tak jenuh dan antioksidan cukup menonjol. Pada VCO asam laurat tampak sangat bagus. Namun, penggabungan kedua bahan itu bisa menyebabkan salah satu komponen penting dari salah satu bahan itu tertutup. “Itulah risiko dari penggabungan dua macam bahan, meski bisa saja dalam mekanisme tampak bersinergi,” ujar ketua Pusat Studi Obat dan Bahan Alami Universitas Indonesia itu.

Lebih lanjut Sumali menegaskan pencampuran itu tidak memberi nilai tambah. Demikian pula dari variasi obat tidak menguntungkan. “Karena ada orang yang hanya cocok memakai VCO, tapi tidak dengan buah merah. Begitu pula sebaliknya,” tutur Sumali. Ia pun menyarankan agar tidak gegabah memakai obat yang tidak diketahui manfaat sebenarnya. Jangan keduanya diminum sekaligus. “Satu saja harus hat i -hat i . K a l aupun d i g a bu ng k an h a r u s melalui uji praklinis dan klinis dahulu,” tuturnya.

2. Profesor Dr Muhilal, ahli gizi di Bogor

“Kandungan nutrisi dan mineral PCO saya rasa cukup,” ujar periset di Puslitbang Gizi, Bogor, itu saat Trubus menyodorkan data-data kandungan nutrisi dan mineral PCO (baca: Paduan VCO & Buah Merah. halaman: 10-15). Buah merah cukup mengandung antioksidan. Sedangkan VCO memiliki asam lemak jenuh lengkap. “Terutama asam kaprilat, asam kaprat, dan asam laurat yang merupakan Medium Chain Trigliserida. Asam lemak itu yang bagus bagi tubuh,” ujar Muhilal.

Doktor biokimia dari Univesity of Liverpool pada 1992 itu menilai kandungan serat pada PCO sebesar 0,08% setara 8 mg termasuk rendah. Pada manusia, konsumsi serat yang dianjurkan berkisar 25—30 mg/hari. “Kadar Vitamin C juga rendah hanya 0,02227 mg,” ujar Muhilal. Normalnya asupan Vitamin C di tubuh mencapai angka 90 mg/hari.

“Tokoferol sebagai antioksidan juga cukup,” papar Muhilal. Setidaknya dalam 1 sendok makan PCO mengandung 25,86 mg tokoferol. “Jumlah ini sedikit lebih banyak dari kebutuhan manusia yang mencapai 20 mg. Namun dalam jumlah besar tokoferol tidak masalah dikonsumsi. Berdasarkan UL (up to limit) yang dikeluarkan Amerika dan Kanada, konsumsi hingga 1.000 mg tokoferol tidak menimbulkan efek samping,” ujarnya.

3. Dr Pingkan Aditiawati, ahli mikrobiologi
Institut Teknologi Bandung

“Sangat sulit membandingkan VCO dan buah merah,” ujar Pingkan. Di satu sisi minyak buah merah baik sebagai antioksidan pada kadar tertentu. Namun, pada dosis terlalu tinggi bisa bersifat toksik. Ginjal dan hati bisa terganggu. Berbeda dengan VCO yang bisa memperbaiki metabolisme tubuh. “Bila metabolisme tubuh rendah, VCO akan memperbaiki. Sebaliknya bila metabolisme tubuh terlalu tinggi, ia akan menstabilkan,” ujarnya.

Menurut dosen mikrobiologi ITB itu, kombinasi keduanya seperti yang dilakukan oleh Puslit Bioteknologi LIPI sangat dimungkinkan. “Keduanya bisa saling mengisi. Namun, berapa dosis tepat sesuai kebutuhan tubuh perlu diketahui. Bagian ini yang paling sulit karena membutuhkan waktu lama,” paparnya. Agar tidak menimbulkan efek samping, sebaiknya penggunaan kombinasi buah merah dan VCO harus hati-hati.

4. Dr Made Artika, kepala
Laboratorium Penelitian d an Pengemb a n g an Lembaga Eijkman, Jakarta

Menurut Made Artika, penggabungan buah merah dan VCO masih perlu kajian lebih dalam. “Kemungkinan keduanya bisa bekerja sinergis,” ujar alumnus doktor biologi molekuler dari Monash University di Australia itu menunjuk hasil uji kromatogram HPLC PCO. Indikasi itu tampak munculnya garis-garis menanjak pada aneka uji pencampuran VCO dan minyak buah merah yang dilakukan Puslit Bioteknologi LIPI.

Meski demikian molekul apa saja yang benarbenar bekerja aktif, dosen biokimia di Institut Pertanian Bogor belum bisa menduga. “Itulah sebabnya saya kira perlu penelitian lebih lanjut mengenai molekul yang sebenarnya sangat berperan,” papar alumnus pascasarjana Bioteknologi University of New South Wales di Australia itu. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Panen Cuan dari Berbisnis Domba Menjelang Hari Raya Idul Adha

Trubus.id—Peternak asal Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, Mohammad Huda Khairon dapat menjual 4.000 domba menjelang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img