Ruang pertemuan Edelweis 2 di Wisma Hijau pagi itu terasa hidup. Bukan hanya karena obrolan yang mengalir, tetapi juga karena pertemuan tersebut mempertemukan dua generasi dengan latar berbeda, Meski begitu keduanya memiliki kegelisahan yang sama yaitu bagaimana kerja-kerja sosial bisa terus relevan, berdampak, dan berkelanjutan. Itulah yang mengantar rombongan Peace Generation berkunjung ke Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) pada 19—20 Januari 2026.
Kunjungan itu merupakan bagian dari agenda rapat awal tahun Peace Generation. Mereka sengaja datang untuk belajar langsung dari organisasi yang telah lebih dari 50 tahun bergelut dalam pemberdayaan masyarakat. Peace Generation, yang kini tengah bertransformasi menjadi social enterprise berbasis media kreatif dan gim edukatif, ingin melihat bagaimana nilai, visi, dan misi sebuah organisasi dapat dijalankan secara konsisten dalam praktik sehari-hari.
Dalam pertemuan itu, Peace Generation disambut oleh jajaran pengelola YBTS, termasuk Bambang Ismawan. Beberapa pimpinan unit usaha seperti Pengelolaan Pengetahuan Trubus (PPT) yang diwakili Rudi Hartono juga berpartisipasi pada pertemuan itu. Pertemuan diawali dengan pengenalan singkat, lalu berlanjut dengan diskusi, tanya jawab, hingga penelusuran unit-unit yang ada di lingkungan Bina Swadaya termasuk PPT.
Nilai-nilai
Sekretaris EksekutifYBTS, Emilia Setyowati, membuka pertemuan dengan menjelaskan filosofi dasar Bina Swadaya. Ia menegaskan bahwa sejak awal, Bina Swadaya dibangun dengan semangat kemandirian yang tumbuh bersama masyarakat. Prinsip yang terus dipegang hingga kini adalah memberi ruang bagi unit dan komunitas untuk berkembang sesuai kapasitasnya.
“Apa yang bisa dikerjakan di bawah, jangan diambil alih oleh yang di atas. Itu prinsip subsidiaritas,” ujar Bambang. Ia menyebut bahwa Bina Swadaya sejak awal tidak dirancang sebagai lembaga yang serba mengatur, melainkan sebagai ruang belajar bersama. Ibarat membangun kapal sambil berlayar, yang menggambarkan proses panjang yang tidak selalu rapi, tetapi terus bergerak.
Nilai lain yang berulang kali disampaikan adalah mandiri dalam kebersamaan. Menurut Bambang, kemandirian bukan berarti berjalan sendiri, melainkan tumbuh bersama dengan tetap memegang nilai dan tujuan bersama. Dalam perjalanan panjang itu, ia juga menekankan pentingnya apa yang ia sebut sebagai kesabaran revolusioner. “Perubahan itu tidak instan. Tapi bukan berarti diam. Kita sabar, tapi terus bergerak,” tutur Bambang.
Pandangan itu menarik perhatian tim Peace Generation. Mereka melihat bagaimana nilai tidak berhenti sebagai jargon, tetapi benar-benar dihidupi dalam pengelolaan organisasi, termasuk dalam unit-unit usaha dan penerbitan seperti Trubus.
Rudi melanjutkan dengan menceritakan bagaimana Trubus dan unit-unit lain di Bina Swadaya menjaga keseimbangan antara idealisme dan keberlanjutan. Menurut Rudi, kerja sosial harus tetap berpijak pada realitas. Profesionalisme menjadi keharusan agar misi sosial bisa terus berjalan.
Dalam konteks itu, keberagaman justru dipandang sebagai kekuatan. “Perbedaan itu adalah pelangi, berbeda-beda tapi indah dipandang mata,” ujar Rudi. Kalimat itu menjadi penanda bahwa Bina Swadaya membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk generasi muda dengan pendekatan baru.
Kolaborasi
Peace Generation sendiri datang dengan banyak pertanyaan. Mereka ingin tahu bagaimana Bina Swadaya menanamkan nilai organisasi kepada staf lintas generasi, bagaimana menjaga konsistensi visi di tengah perubahan zaman, serta bagaimana mengelola unit usaha tanpa meninggalkan misi sosial.
Chairman of PeaceGeneration Indonesia, Irfan Amalee, mengungkapkan kesan mereka setelah mengikuti diskusi dan berkeliling unit usaha YBTS. “Kami mendapatkan bukan hanya inspirasi, tetapi banyak hal yang mungkin secara praktis bisa dikolaborasikan,” ujar Irfan. Bagi mereka, kunjungan ITU tidak berhenti pada cerita sukses, tetapi membuka gambaran nyata tentang peluang kerja bersama.
Diskusi kemudian mengerucut pada kemungkinan kolaborasi di masa mendatang. Peace Generation menawarkan keahlian mereka di bidang media kreatif, gamification, dan pengembangan modul edukasi. Sementara Bina Swadaya dan Trubus memiliki kekuatan pada jaringan lapangan, pengalaman pendampingan masyarakat, serta kanal publikasi yang telah mapan.
Kedua pihak melihat peluang kerja sama dalam penyusunan modul pelatihan, penyelenggaraan kegiatan bersama, penulisan dan publikasi konten, hingga penyusunan proposal proyek yang menggabungkan pendekatan kreatif dengan pengalaman lapangan. Harapannya, kolaborasi tersebut tidak hanya berdampak pada organisasi, tetapi juga menjangkau masyarakat lebih luas.
Bagi Peace Generation, YBTS memberi contoh nyata bagaimana organisasi bisa bertahan puluhan tahun tanpa kehilangan ruh. Sementara bagi YBTS, kehadiran Peace Generation membawa energi baru dan perspektif segar tentang cara-cara kreatif menjangkau generasi muda.
Pertemuan itu pun ditutup dengan kesepahaman bahwa kolaborasi tidak harus terburu-buru, tetapi perlu dirancang dengan matang. Seperti nilai yang sejak awal dipegang Bina Swadaya, proses adalah bagian penting dari perubahan. Dari ruang pertemuan sederhana itulah, benih kerja sama mulai ditanam, dengan harapan dapat tumbuh menjadi kolaborasi yang memberi manfaat nyata di masa depan.
