Saturday, August 13, 2022

Pelangi van Papua nan Eksotis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

“Durian pelangi Papua, layak dikembangkan menjadi durian unggul Indonesia,” kata Menteri Pertanian SuswonoLima keunggulan ini ada dalam satu durian: warna daging buah laksana pelangi, daging tebal mencapai 2 cm, produktivitas hingga 500 buah per musim, dalam setahun pohon berbuah dua kali, dan berbunga sempurna sehingga bisa menyerbuk sendiri. Maukah Anda ia ada di kebun?

 

Penantian selama 1,5 tahun untuk merasakan kelezatan durian pelangi itu terbayar lunas saat Trubus terbang ke Papua Barat pada pertengahan April 2012. Durian dengan warna daging buah atraktif itu memberikan sensasi luar biasa: rasa manis, tekstur lembut, lengket di langit-langit, dan tebal. “Enak sekali. Layak dikembangkan menjadi durian unggul Indonesia,” kata Menteri Pertanian Dr Ir Suswono saat mencicipi buah kiriman Trubus.

Warna daging buah durian dari pohon di kebun Sunarto di Manokwari, Provinsi Papua Barat, itu memang benar-benar berbeda: paduan kuning, merah muda ke merah tua, dan sedikit kehijauan di ujung pongge. Durian Durio zibethinus lazimnya berdaging putih, krem, atau kuning tembaga.

Pantas ketika pertama kali mendapat kiriman foto durian itu dari seorang kenalan di Papua Barat, pakar buah, Dr Mohamad Reza Tirtawinata, langsung menunjukkan kepada Trubus. “Ini penemuan yang bagus. Warna daging durian seperti ini langka, sama seperti pada salak sidempuan,” kata doktor alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Kami pun penasaran untuk menjajal rasanya. Sayang, ketika foto dikirim, musim panen sudah berlalu. Musim berikut sang pelangi mogok berbuah.

Cantik luar dalam

Kesempatan emas itu datang pada pertengahan April 2012. Sunarto mengabarkan durian pelangi tengah berbuah. Ada 100 buah yang belum jatuh, tapi segera berjatuhan, maksimal hingga sepekan ke depan. Demi mengejar buah impian itu, sehari pascakepastian buah masih tersedia, Trubus terbang ke provinsi di Indonesia timur itu. Dari Bandara Rendani, Manokwari, perjalanan berlanjut dengan mobil sewaan menuju lokasi durian pelangi berjarak 70 km dari bandara.

Pelangi tumbuh bongsor, tingginya mencapai 25 m dengan diameter batang bawah 2,5  pelukan orang dewasaPara mania durian tengah menikmati durian pelangiSelama perjalanan banyak melewati hutan kecil, sungai, dan kebun kelapa sawit yang relatif sepi. Di kanan dan kiri jalan terutama memasuki Distrik Amban dan Prafi pucuk-pucuk pohon durian yang bertajuk runcing mendominasi. Manokwari memang salah satu sentra durian di Papua.

Mentari masih memancarkan sinar hangatnya ketika mobil carteran itu tiba di halaman rumah Sunarto. Di teras depan teronggok 6 durian yang belum dibersihkan dari dedaunan dan tanah yang menempel. Bisa ditebak, itu pasti durian baru jatuh tadi malam dan pagi hari. “Masih ada belasan lagi kok, jangan khawatir ngga kenyang,” kata Sunarto sambil menunjuk durian dalam gerobak di samping rumah.

Pria berusia 42 tahun itu menuturkan ada 25 buah yang jatuh sejak kemarin hingga Trubus datang siang itu. “Ini sedikit karena panenan terakhir. Kalau sedang puncaknya, semalam bisa jatuh sampai 70 buah,”  kata Sunarto. Tanpa banyak bicara, pria yang ikut bertransmigrasi dari Cilacap, Jawa Tengah, ke Papua bersama orangtua pada 1982, itu membuka sebuah yang ada di dekatnya. Bobot durian itu kira-kira 1,3 kg dengan bentuk agak kecil di pangkal dan membulat di bagian ujung.

Setelah buah terbelah, wow… terlihat warna daging buah yang sangat cantik: bergradasi merah, kuning tembaga, dan semburat kehijauan di sudut pongge. Paduan warna itu yang membuat Karim Aristides, kolektor tanaman buah-buahan unggul yang “menemukan” durian itu menamakan durian pelangi. Saking cantiknya warna daging buah, timbul perasaan sayang ketika akan mencomot pongge-pongge itu dari juring. Rasanya? Inilah kesempurnaan durian pelangi, warna bukan sekadar pemikat, tapi juga cerminan rasa yang dimiliki.

Durian pelangi berbuah 2 kali setahunManokwari salah satu sentra durian di PapuaDengan aroma karamel menusuk hidung, pongge-pongge pelangi yang montok itu memberi cita rasa manis legit dan sedikit pahit di ujung lidah. Tekstur dagingnya pun lembut, tapi terasa lengket bagai nasi ketan. “Ini cocok untuk kebanyakan konsumen durian di Indonesia yang tidak menyukai rasa terlalu pahit,” tutur Karim saat Trubus jumpai di Jayapura, Provinsi Papua.  Pantaslah Musriyanto, warga Manokwari, sanggup menghabiskan 2 buah durian pelangi. “Saya tidak terlalu senang makan durian, paling banter 1-2 juring karena gampang pusing. Tapi makan durian pelangi bisa habis banyak,” tuturnya.

Menolak beli

Meski bijinya tidak kempes, durian pelangi mempunyai bagian yang dapat dikonsumsi atau edible portion 33-38%. Artinya, dari 1 buah durian, sekitar 38% merupakan daging yang bisa dimakan. Itu karena ketebalan daging pelangi di bagian tengah pongge mencapai 1,6-2 cm. Standar porsi konsumsi untuk durian unggul nasional yang dikeluarkan Kementerian Pertanian minimal 20%. Memang dibanding durian mou san king asal Malaysia dan monthong, porsi konsumsi durian pelangi lebih rendah. Porsi konsumsi kedua durian berbiji kempes itu lebih dari 42%.

Selain warna dan rasa memukau, daya simpan pelangi juga layak diacungi jempol. Durian jatuhan dari ketinggian 15-25 m, tahan simpan 4 hari tanpa pecah kulit. Trubus membawa durian berkulit tipis tapi elastis itu ke penginapan. Hingga malam ke-4, kondisi kulit durian tetap utuh.  Kalaupun terlihat retak di bagian ujung buah, hanya menyerupai garis tidak lebih dari 1,5 cm dan dangkal. “Mungkin bisa tahan sampai 5 hari kalau buah tidak terpaksa dibuka karena bapak harus meninggalkan hotel,” kata Herman, periset di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kabupaten Manokwari yang bertandang ke hotel.

Pada hari keempat jatuh daging buah memang melembek, tapi masih enak dimakan. Rasa dan aromanya tidak banyak berubah; rasa manis bahkan sensasi pahit di ujung hilang. Durian lain yang Trubus bawa dari Amban, salah satu sentra durian terbesar dan tertua di Manokwari, hanya tahan simpan 2 hari. Kulit buah menganga, daging buah menjadi lembek dan pahit.

Kendati istimewa, durian pelangi hanya dilihat sebelah mata. “Jangankan menjadi rebutan mania durian, banyak orang tidak mau membeli,” kata Wagyo, pedagang pengumpul di Manokwari.  Suatu waktu seorang pelanggannya malah kabur ketika ditawari pelangi. Sebab, bagi mereka warna merah identik mengandung racun. Oleh karena itu setiap kali menjajakan durian pelangi Wagyo mengorbankan 2-3 buah per hari untuk tester.

Durian di Papua dikenal dengan nama mentega, susu-berdasarkan warna-dan gajah-ukurannya besarDi sebuah lapak di area pertokoan Jalan Merdeka, Manokwari, Trubus menunjukkan foto durian pelangi kepada seorang pedagang pengumpul dari Amban. “Oh, warnanya merah,” katanya tanpa ekspresi. Pantaslah bila Sunarto hanya bisa menjual durian istimewa itu Rp7.000 per buah berbobot 2-2,5 kg. Harga yang berukuran sedang berbobot 1,5-1,2 kg, Rp5.000, bobot sekitar 1 kg, Rp4.000 per buah. “Bahkan kalau sedang panen raya, dijual dengan harga lebih murah pun susah laku,” kata ayah 3 anak itu. Padahal, harga durian lain Rp5.000-Rp15.000 per buah di tingkat pekebun.

Durian baru

Pelangi diabaikan karena konsumen lebih mementingkan ukuran buah. Di pasaran dikenal hanya 3 jenis durian: mentega, susu, dan gajah. Disebut mentega bila warna daging buah kuning tua hingga kuning tembaga; susu untuk durian berdaging putih sampai kuning. Adapun durian gajah jika berbobot di atas 3 kg per buah. Di antara itu, durian mentega paling diminati.

Maka mafhum jika Sunarto tidak pernah merawat sang bianglala. Jangankan memupuk dan menyemprotkan antihama, menyiram pun tidak pernah. Bahkan, dua tahun terakhir setiap musim panen tiba, ia hanya sesekali menunggui buah yang jatuh pohon. Selebihnya, durian jatuhan itu dibiarkan diambil oleh orang-orang yang kebetulan lewat. “Habis tidak mempunyai nilai ekonomis tinggi, mau berbuah sedikit atau banyak, tidak ada urusan,” kata Sunarto yang bercocok tanam sayuran, padi, dan kakao.

Kini perhatian Sunarto pada durian pelangi berbalik 180 derajat. Itu setelah Sunarto kedatangan Karim Aristides pada dua tahun silam yang mendapat kabar bila di Manokwari ada durian aneh berdaging merah. “Ini benar-benar unggul,” kata pengusaha yang hobi tanaman buah dan kerap melakukan eksplorasi ke berbagai daerah itu. Selain warna menarik, rasa enak, porsi konsumsi tinggi, tahan simpan, pelangi berbuah dua kali setahun (November-Desember dan April-Mei), mampu menyerbuk sendiri, dan produktivitas tinggi. Produktivitas per musim rata-rata 600 buah, bahkan pernah mencapai 900 buah.

Melihat penampilan fisik pelangi, Mohamad Reza menduga pelangi hasil persilangan antara zibethinus dengan graveolens. Yang disebut terakhir merupakan satu-satunya durian berdaging merah. Warna merah itulah yang diwariskan anggang pada pelangi. Rasa pelangi juga mirip zibethinus yang manis legit. Pun aroma wanginya.

Sebelumnya durian merah juga ditemukan di Bulungan, Kalimantan Timur, dan Banyuwangi, Jawa Timur. Yang disebut pertama berdaging merah solid. Sementara warna durian asal Banyuwangi beragam: merah, semburat merah, dan merah muda. Kesamaannya, produktivitas kedua durian itu tinggi, minimal 400 buah per musim. Eko Mulyanto SP dari Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi menduga tingginya produktivitas si merah lantaran berumah satu, lazimnya berumah dua. “Dengan begitu betina durian merah tak memerlukan jantan dari pohon lain,” katanya. Perihal muasal durian berumah satu Eko belum menemukan penyebabnya.

Untuk memastikan identitas sang bianglala, Karim bekerja sama dengan periset durian di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropik (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso SP MSc, mengirim sampel DNA asal daun ke sebuah lembaga riset di Korea Selatan. Hasil riset genetika yang diterima Jarot pada April 2012 menunjukkan pelangi berkerabat dengan zibethinus, graveolens, dan D. dulcis (baca: Akibat Perjumpaan Sekerabat, hal. 18-19).

Pohon durian pelangi di kediaman Sunarto satu-satunya yang ditemukan di Manokwari.  Pohonnya berada di tengah-tengah kebun kakao berjarak 200 m dari rumah Sunarto dan jauh dari pohon-pohon durian lain. Di kebun 1 ha itu durian pelangi hanya “ditemani” 2 pohon durian lainnya yang sama-sama berumur 27 tahun. Namun, pertumbuhan 2 pohon durian lainnya tidak normal karena sakit. Pelangi tumbuh bongsor, tingginya mencapai 25 m dengan diameter batang bawah 2,5 pelukan orang dewasa. Pada ketinggian 1 m di atas permukaan tanah, batang bercabang dua yang besarnya masing-masing seperut kerbau.

Pohon sisa

Pohon durian pelangi sudah ada sejak Sunarto membeli kebun pada 2000. Dahulu kebun itu milik Narto-bukan Sunarto, yang kemudian menjual kepada Suparlan pada 1985. Suparlan menanam 81 bibit durian berjarak tanam 9 m x 9 m. “Bibitnya setinggi 30 cm berasal dari biji yang disemai sendiri oleh Suparlan,” kata Samiarjo, ayah Sunarto yang ketika itu ikut merawat kebun.  Suparlan diduga mendapatkan bibit dari Amban karena waktu itu di sanalah sentra penanaman dan penjualan durian.

Beberapa tahun kemudian, Samiarjo yang mendapat kekuasaan penuh untuk mengelola kebun menumpangsarikan dengan kakao. Tanaman perkebunan itu tengah menanjak harganya. Samiarjo pula yang menebangi pohon durian-tanpa sepengetahuan Suparlan yang tidak sekali pun menengok kebunnya-karena melihat pertumbuhan pohon kakao terganggu. “Dari 81 disisakan 5 pohon,” tutur kakek 82 tahun itu.

Dua dari lima pohon durian itu mati terkena sambaran api saat membakar sampah.Tinggallah 3 pohon yang tumbuh membesar, satu pohon belajar berbuah pada umur 13 tahun; 2 pohon lagi belum. Ada 4 buah yang berhasil dipanen dalam waktu tidak bersamaan karena menunggu jatuh dari pohon. Dua butir yang jatuh lebih dahulu diberikan kepada Suparlan, sedangkan 2 lagi dimakan oleh Sunarto dan keluarga. “Saya kaget melihat warna dagingnya yang merah. Hampir-hampir saja durian itu saya buang karena khawatir beracun. Ternyata rasanya jauh lebih enak daripada durian yang pernah saya makan,” ungkap pria yang ikut bertransmigrasi ketika berumur       12 tahun itu. Buah dari dua pohon lainnya bercita rasa hambar.

Reza menduga pelangi merupakan keturunan kedua hasil silangan zibethinus dengan graveolens. “Kemungkinan ratusan tahun silam ada yang membawa biji durian anggang dari Kalimantan ke Papua. Di sana biji itu, yang disebut turunan pertama, tumbuh besar. Dari  pohon-pohon durian anggang itu diduga terjadi persilangan dengan zibethinus sehingga menghasilkan turunan kedua,” kata Reza. Pohon durian turunan kedua itulah yang saat ini banyak ditemui di Papua.

Asal-muasal sang pelangi boleh jadi masih misteri. Namun, dengan segudang kelebihan bianglala itu layak dikembangkan. “Sangat layak dikebunkan,” kata Jarot soal peluang pengembangan durian pelangi. Memang keandalannya belum teruji di luar Papua karena kini baru menyebar dalam bentuk bibit yang baru siap tanam pada akhir tahun. Anda mau mencoba menjadi yang pertama dengan menanam sang bianglala di kebun koleksi? (Karjono/Peliput: Tri Istianingsih dan Rosy Nur Aprianti)

 

Keterangan Foto :

  1. “Durian pelangi Papua, layak dikembangkan menjadi durian unggul Indonesia,” kata Menteri Pertanian Suswono
  2. Pelangi tumbuh bongsor, tingginya mencapai 25 m dengan diameter batang bawah 2,5  pelukan orang dewasa
  3. Para mania durian tengah menikmati durian pelangi
  4. Durian pelangi berbuah 2 kali setahun
  5. Manokwari salah satu sentra durian di Papua
  6. Durian di Papua dikenal dengan nama mentega, susu-berdasarkan warna-dan gajah-ukurannya besar

———————————————————————————————————————————————————————————

“Hasil uji asam deoksiribonukleat (DNA) di Korea Selatan, durian pelangi memiliki kekerabatan dekat dengan durian, anggang, dan lahong,” kata peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso SP MSc

———————————————————————————————————————————————————————————

Helm Penyelamat

Hindarilah berada di bawah pohon durian berbuah lebat yang mulai matang, pada pukul 19.00-23.00 dan pukul 05.00-09.00. Sebab, pada jam-jam itulah frekuensi durian jatuh sangat tinggi. Biarkan dahulu durian itu berserakan, jangan langsung dipungut. Namun, untuk jaga-jaga sebaiknya pakai helm meski di luar jam “sibuk” jatuhnya durian.***

———————————————————————————————————————————————————————————

Ekstrak Warna

Para pembatik tradisional memanfaatkan kulit durian sebagai bahan ekstraksi. Mereka membakar kulit durian hingga menjadi abu lalu mencampur dengan kesumba. Air saringan larutan keduanya digunakan untuk mengekstrasi zat warna di dalam bunga.***

———————————————————————————————————————————————————————————

Antisembelit

Sembelit akibat kurang konsumsi serat sangat menyiksa. Untuk mengatasi sembelit, penduduk asli Manokwari cukup memblender kulit durian, kemudian membalurkannya di perut. Sembelit yang sudah mendera 6-7 hari pun langsung hilang.***

———————————————————————————————————————————————————————————

Denda Rp100-Juta

Durian katiman menjadi legendaris di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, karena berukuran raksasa. Diameter katirman 25-30 cm, panjang 40 cm, dan bobot 7-8 kg. Dalam satu juring rata-rata  hanya ada 2 pongge. Daging buah sangat tebal melebihi durian monthong. Warnanya putih berasa pahit. Sayang, sejak 2 tahun lalu tanaman berumur 30-an tahun itu mogok berbuah, gara-gara Katiman, sang pemilik pohon memotong habis cabang besar yang mengarah ke jalan.

Katiman melakukan itu lantaran khawatir buahnya menimpa penduduk asli Papua yang kerap lalu lalang. Kebiasaan mereka ketika jalan selalu beriringan lebih dari 5 orang, sehingga peluang tertimpa durian jatuhan relatif besar. “Habislah harta kita kalau durian sampai menimpa mereka,” kata Sunarto, menantu Katiman. Musababnya, tidak cukup sekadar membiayai perawatan rumahsakit, mereka juga menuntut ganti rugi demikian tinggi. “Bisa sampai Rp100-juta,” tambah Sunarto.

Oleh karena itu sebelum malapetaka menimpa, para pemilik pohon durian berusaha mencegah dengan memotong cabang atau bahkan tidak menanam durian sama sekali di dekat jalan besar. Apalagi risiko durian katiman jauh lebih besar karena berbobot jumbo. “Menanam durian dengan buah kecil pun masyarakat transmigran butuh pertimbangan matang,” tutur Sunarto. Beruntung hingga sekarang belum pernah ada kejadian warga tertimpa buah durian.***

———————————————————————————————————————————————————————————

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img