Friday, December 2, 2022

Pelopor Ekspor Bulan Taiwan

Rekomendasi

 

Bersetelan baju olahraga bergaris biru dongker, abu-abu, dan putih, Li Shih Hua memeriksa bibit phalaenopsis dalam botol yang terletak di kiri pintu masuk greenhouse. Sesekali tangan kanannya mengangkat botol tersebut sembari mengecek kondisi akar. Lalu langkahnya dilanjutkan ke deretan anggrek yang tengah memamerkan bunga di atas rak besi setinggi 75 cm beralaskan asbes.

Puas meninjau kebun seluas 1 ha di Madao, Tainan, Taiwan, alumnus Business Administration, Taichung University, itu menyambangi ruangan yang berada tepat di samping kantornya. Di sana sekitar 3 pegawai sedang mengeluarkan bibit anggrek dari pot. Lalu membersihkannya dari media sphagnum moss. Phalaenopsis itu siap dikirim ke pelanggan di Jepang, Korea, Amerika, Singapura, dan Indonesia. Pada 2006, Li berhasil menangguk omzet sekitar US$60-juta.

Dua puluh tujuh tahun silam, jangan harap melihat Li di nurseri. Waktu itu ia sedang sibuk-sibuknya jadi agen promosi alat-alat pertanian di perusahaan tempat bekerja. Sebuah profesi yang dilakoni selama 10 tahun. Pekerjaan itu pula yang membuka mata Li untuk mencari usaha sendiri. ‘Waktu itu, klien saya dari Jepang mengatakan kalau sebenarnya Taiwan berpotensi mengembangkan phalaenopsis. Iklimnya cocok dan biaya produksinya lebih murah dibandingkan Jepang,’ kisah ayah 3 anak itu.

Di Formosa, anggrek bulan memang bukan tanaman baru. Waktu itu sudah banyak hobiis dan penyilang. ‘Namun, belum ada yang berpikir untuk menjadikannya sebagai bisnis ekspor,’ ujar general manager Shih Hua Orchids. Ketika itu, merawat phalaenopsis hanya sebagai hobi. Naluri bisnisnya mendorong Li menerjuni dunia anggrek. Li memilih phalaenopsis lantaran Taiwan memiliki jenis anggrek bulan lebih banyak daripada negara lain. Pantas, Sekitar 17-18 tahun lalu Taiwan disebut sebagai kingdom of phalaenopsis.

Sarjana Administrasi Bisnis ini semula tak tahu dunia anggrek bulan. Namun, ia belajar tanpa henti, seperti pasar swalayan 7 Eleven yang buka 24 jam tujuh hari sepekan. Hasilnya ia menjadi penganggrek papan atas. Setidaknya 140 hibrida hasil silangannya terdaftar di Royal Horticulture Society, Inggris.

Guru dari Jepang

Bermodalkan tabungan dan pinjaman dari bank senilai NT3-juta, dengan kurs sekarang setara Rp840-juta, Li membangun laboratorium, greenhouse, dan kebun seluas 1.000 m2. Li tak perlu susah payah mendapatkan modal dari bank, karena perusahaan tempat ia bekerja menjamin semuanya. Selama 6 bulan Li bekerja di 2 tempat. Tiga hari di kantor dan sisanya, 4 hari dihabiskan di kebun. Sepulang kantor, koordinator operasi di Taiwan Orchid Grower Association itu telaten mempelajari anggrek.

Berpuluh buku tentang anggrek ia lahap setiap hari. ‘Saya belajar seperti 7 eleven 11,’ katanya. Perusahaan ritel itu buka 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tak ada waktu luang untuk bersantai. ‘Mungkin kalau waktu itu belum menikah, tak akan ada yang mau sama saya karena lebih memilih belajar anggrek,’ ujarnya sambil tersenyum. Bukti keseriusan Li, ia sampai memanggil guru dari Jepang untuk mengajari merawat anggrek selama 2 tahun. Pada hari Li bekerja, kebun anggrek dirawat ayah dan saudaranya.

Li pun menjalin kontrak kerja dengan rekan dari Jepang. Selama 4 tahun, Li hanya bisa menjual anggrek ke negeri Sakura. Itulah ekspor pertama phalaenopsis Taiwan. Yang diekspor, seedling dan tanaman remaja belum berbunga.

Supaya lebih dikenal di dunia internasional, Li menyertakan label nurseri pada setiap anggrek yang dikirim ke Jepang. Keuntungannya, siapa pun pembelinya jadi tahu anggrek itu hasil budidaya di Taiwan. Usaha itu pun berbuah hasil. Kurang dari 4 tahun, Li kebanjiran order dari negara lain.

Setahun merawat phalenopsis, Li mulai menyilangkan. Buah tak jadi dan corak jenis baru jelek, kegagalan yang lazim. Namun, ia pantang menyerah. Kerja kerasnya pun berbuah manis. Li ‘melahirkan’ phalaenopsis putih dengan splash ungu di pinggir kelopak bunga. Hingga kini minimal 140 hibrida hasil silangan Li terdaftar di Royal Horticultural Society di Inggris.

Omzet

Lima tahun ekspor berjalan, Li berhasil melunasi utang. Kesuksesan Li menginspirasi banyak orang untuk membuka kebun phalaenopsis untuk pasar ekspor. Selama 20 tahun berjalan, mantan staf promosi perusahaan alat pertanian itu berhasil mengekspor lebih dari 60-juta seedling dan tanaman remaja. Awalnya, pangsa terbesar ke Jepang sebesar 90% dari total ekspor. Kini Jepang tinggal 20%, Korea (60%), Amerika (10%), dan sisanya ke negara lain. Total penjualan per tahun 40-juta tanaman.

Hingga 7 tahun lalu Li memegang 15% dari seluruh volume ekspor phalaenopsis Taiwan, sekarang hanya 3%. ‘Meski menurun dari segi pangsa pasar total, tapi untuk volume penjualan terus meningkat,’ katanya.

Terbukti ayah 3 anak itu melebarkan sayap ke Cina sejak 6 tahun lalu. Di negeri Tirai Bambu, Li membangun kebun seluas 18 ha secara bertahap. Dari sana, ia memproduksi 10-juta seedling/tahun lewat kultur jaringan. Jumlah itu untuk memenuhi pasar Eropa.

Pantas bila Li dianugerahi banyak penghargaan sebagai pelopor ekspor phalaenopsis. Dua di antaranya menorehkan kebanggaan. Yaitu penghargaan Moufan dari menteri pertanian Taiwan pada 1996 karena kecakapan bisnisnya. Kedua, Shen Nung Juang (Juang =penghargaan, red) yang didapat pada 4 Februari 1997 dan diberikan presiden Taiwan. Setiap tahun hanya 10 orang dari sekitar 2-juta pekebun di Taiwan yang menerima penghargaan itu. Buat Li, sukses pun mengalir dari phalaenopsis. (Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img