Tuesday, November 29, 2022

Peluang Besar di Balik Kendala

Rekomendasi

Sterin adalah produk turunan dari minyak kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel. Dalam sekejap belasan drum sterin diturunkan puluhan karyawan untuk diproses menjadi bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan.

Malam terus merayap, tapi kesibukan di perusahaan itu tak kunjung menyusut. Dua orang tampak menuang 200 liter sterin ke dalam tangki baja berdiameter 1 meter. Kemudian metanol dan katalis seperti NaOH dan KOH ditambahkan. Ketika tombol mesin ditekan, mesin pengaduk pun bekerja memadukan kedua bahan itu. Bahan itu dipanaskan dengan boiler pada suhu 60—65oC selama 2—2,5 jam. Setelah itu biodiesel dipetik. Dari 200 liter campuran sterin dan metanol diperoleh 200 liter biodiesel yang dikemas dalam botol bervolume 2 liter.

“Malam ini harus jadi 1.500 biodiesel untuk memenuhi permintaan beberapa SPBU di Jakarta dan Bandung,” ujar Santosa, penanggung jawab produksi. Mesin berkapasitas 1,5 ton per hari itu nyaris terus meraung-raung sepanjang malam. Maklum permintaan biodiesel belakangan ini datang bertubi-tubi. Setidaknya 3 SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di Jakarta meminta pasokan 100 liter per bulan. “Kita proses sampai malam karena permintaan mencapai 4 ton/minggu,” tambahnya.

Permintaan lain datang dari Bandung. Enam belas SPBU di Kota Kembang itu rutin dipasok 100 liter per bulan. Dalam sebulan PT Energi Alternatif Indonesia mampu memasarkan 20—30 ton dengan harga Rp17.000 per 2 liter. Dengan volume itu omzet yang diraup perusahaan yang berdiri pada 2001 itu mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Keuntungan PT Energi Aternatif Indonesia itu bakal terus bertambah. Pasalnya, 15—20 bengkel mobil di seputaran Jakarta pun meminta pasokan 100 liter/bulan. Maka tambahan omzet 2 kali lipat mengucur deras.

Laba perniagaan biodiesel tak cuma dinikmati produsen SPBU, tapi juga bengkel yang menjajakan turut mencicipi manisnya berbisnis biodiesel. SPBU Bukit Sentul, Kabupaten Bogor, misalnya, mampu mendulang laba bersih Rp1-juta—Rp1,5-juta sebulan. Itu hasil penjualan 80—100 liter/bulan ke para pelanggan. “Sabtu dan Minggu paling banyak pembeli. Bisa habis 20 liter,” kata Ruswa Purwanto, karyawan SPBU.

Bengkel-bengkel mobil pun demikian. Lestari Ban, Jakarta, mampu menjual 24—34 liter dalam waktu kurang sebulan. “Laku terus. Dulu cuma ambil 20 liter sekarang harus ambil 40 liter,” kata Yanti, karyawan bengkel. Dengan menjual Rp25.000/2 liter, untung Rp8.000 masuk ke kantong Willy Setiawan, pemilik bengkel.

Itu juga dialami Andala Ban. Bengkel besar di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan, itu meraup omzet ratusan ribu rupiah setiap bulan dari penjualan biodiesel. Bengkel mobil itu menghabiskan 34—40 liter setiap bulan. “Makanya untuk menjaga persediaan, kita (Andala Ban, red) mengambil 60—80 liter sekali jalan,” kata Nita Harsanti, karyawan bengkel.

Biodiesel industri

Tingginya permintaan biodiesel akibat melambungnya harga BBM belum lama ini. Selain itu biodiesel ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan emisi berbahaya seperti plumbum dan logam berat. Menurut Ir Bambang Tribudiman, presiden PT Energi Alternatif Indonesia, tren penggunaan biodiesel didorong kenaikan harga bahan bakar mentah dunia yang melonjak drastis US$60/barrel, setara Rp600.000/158,9 liter. Dampaknya, harga solar industri ikut terdongkrak, dari Rp2.500/liter menjadi Rp5.000—Rp6.000/liter. Pun solar transportasi naik hampir 105% dari Rp2.100 menjadi Rp4.300/liter. Harga solar naik hampir 100%.

Dengan harga biodiesel dari CPO Rp5.500—Rp6.000/liter, banyak industri dan perusahaan tertarik memakainya. Mengapa? Biodiesel mampu menurunkan kadar opasitas alias kepekatan asap dari mesin dan kendaraan “tua” yang jumlahnya di atas 50%. Biodiesel juga membuat mesin lebih awet. “Banyak perusahaan atau industri tertolong dengan penggunaan biodiesel,” ungkap Bambang.

S e but l a h P an a s on i c M anu f a c tu r i ng , PT Ajinomoto, GT Cabel, dan Santa Fe. Mereka membutuhkan pasokan biodiesel hingga ratusan liter setiap bulan. “Rata-rata setiap perusahaan mengambil 0,5—1 ton biodiesel per bulan,” lanjut sekjen Forum Biodiesel Indonesia (FBI) itu.

Kepekatan asap dari mesin diesel memang berkurang setelah menggunakan biodiesel. “Opasitas forklift memang menurun hingga 70—80% hanya dengan pemakaian 10% biodiesel,” tutur Bambang. Tak pelak, titel ISO14000 industri tetap melekat.

 

Seperti dibuktikan Purbo Jarsono. Sejak menggunakan biodiesel 7—8 bulan lalu, mobil Renault Xenic miliknya tidak lagi mengeluarkan asap hitam tebal. Penggunaan 2—5% biodiesel membuat tarikan mesin lebih kencang dan getaran berkurang. “Pihak perusahaan mobil Renault di Perancis mengizinkan penggunaan biodiesel 2—5%. Makanya saya kadang membeli sampai 40 liter untuk persediaan,” kata konsultan geoteknik, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, itu.

Bahan baku

Pemakaian biodiesel di Indonesia terbilang terlambat. Jauh sebelum Indonesia, negara lain seperti Brazil, Jerman, Jepang, dan Malaysia telah menikmatinya. Tak heran bila penelitian dan pengembangan biodiesel di mancanegara jauh lebih berkembang, termasuk penyediaan bahan baku dan areal penanaman.

Kedua faktor itu kini menjadi ganjalan besar. PT Energi Alternatif Indonesia dan Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT) sampai saat ini masih menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel. Harap mafh um, ketersediaan kelapa sawit di Indonesia melimpah. Dari Sabang sampai Merauke tersebar ratusan bahkan jutaan hektar kebun Elaeis guineensis.

Berdasarkan data Departemen Pertanian 2003, Riau menjadi provinsi penghasil CPO terbesar: 3,3-juta ton yang diperoleh dari luasan 1,3-juta ha. “Sebenarnya semua minyak dapat diolah menjadi biodiesel. Namun, di sini yang paling banyak digunakan CPO dan PFAD (Plum Fatty Acid Destillate, red),” kata Ir Syamsu Rizal, staf BPPT.

Masalahnya, kebutuhan kelapa sawit untuk biodiesel “berperang” dengan kebutuhan konsumsi. “Itu kelemahan bila menggunakan kelapa sawit. Bagaimanapun konsumsi harus diutamakan,” kata Nurtjahjono, wakil presiden Engineering and Research Downstream PT Pertamina. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor, jika harga minyak mentah tetap bertahan di posisi US$60/barrel, maka CPO banyak digunakan: 1,04-juta ton untuk mensubsidi 10% pada 2009. Tak pelak, harga CPO meningkat dan berfl uktuasi di pasar dunia.

Itu diakui Santoso, staf PT Energi Alternatif Indonesia. Perusahaan mengeluarkan minimal Rp40-juta—Rp50-juta per bulan untuk memboyong sterin 2—3 ton/bulan dan PFAD 6—7 ton/bulan. “Mahal. Harga sterin dan PFAD berkisar  Rp3.500/kg—Rp4.000/kg,” ujar kelahiran Solo32 tahun itu. Tidak heran, tahun depan pabrik itu berencana menggunakan biji jarak untuk biodiesel.

Menurut Nurtjahjono penggunaan minyak jarak disarankan karena dari segi ekonomi jauh lebih murah dibanding CPO. Ia pun tidak dikonsumsi. “CPO banyak tersedia tapi mahal. Harga bahan baku CPO di Rotterdam, Belanda, mencapai Rp4.000—Rp5.000/kg,” kata alumnus Fakultas Teknik Kimia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, itu. Menurut perhitungan tim peneliti ITB harga minyak jarak jauh lebih ekonomis dan kompetitif, Rp2.500/liter.

Kendala lahan

Saat ini areal penanaman jarak masih terbatas. Padahal, untuk memproduksi 15.000 liter/hari saja dibutuhkan 2.700 ha areal pertanaman jarak. Jika kebutuhannya mencapai 2-juta kiloliter minyak jarak dengan rendemen 25%, perlu 2-juta—3-juta ha lahan pada 2009. Artinya harus tersedia lahan pertanaman jarak minimal 500-ribu ha per tahun. “Jarak sebaiknya ditanam di lahan kritis tanpa mengganggu tanaman produktif lainnya,” ujar Nurtjahjono.

 

Menurut Soni Sofi an, pekebun jarak di Bogor, keterbatasan areal penanaman mempengaruhi ketersediaan biji jarak, bahan baku utama. Pasalnya, untuk menghasilkan 1 liter biodiesel diperlukan 2,5 kg biji kering dengan rendemen sekitar 40%. Penggunaan bibit nonunggul hanya menghasilkan biji jarak 2—3 kg/pohon/tahun. Artinya setiap hektar lahan yang terdiri dari 2.000—2.500 tanaman hanya menghasilkan 4—5 ton biji kering atau mengeluarkan 1.000—1.500 liter biodiesel/tahun. Dr Bambang Prastowo, kepala Pusat Penelitian & Pengembangan Perkebunan menjanjikan, lembaga itu telah mengalokasikan 7 varietas unggulan dari berbagai wilayah.

Pembibitan jarak

Untuk mengejar ketinggalan dari negara lain persiapan dari hulu ke hilir dalam industri biodiesel harus dilakukan. Oleh karena itu, PT Rekayasa Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT Pertamina bekerjasama untuk mendirikan industri biodiesel yang kuat. “Semuanya telah menandatangani nota kesepahaman bersama pada 18 Agustus 2005,” kata Tatang Saft ari, senior project engineer PT Rekayasa Industri.

Penandatangan itu bukan hanya simbol tanpa realisasi. Buktinya, perusahaan yang terletak di bilangan Kalibata Selatan, Jakarta Selatan, itu telah mendatangkan bibit jarak dari Sumbawa, NTB, beberapa bulan silam. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 200.000 bibit setinggi 0,5 m itu diterbangkan ke Jakarta. Jatropha curcas itu langsung disebar ke beberapa pekebun dan pembibit di Cianjur, Bogor, dan beberapa daerah di Jawa Barat.

Itu pula yang dilakukan Soni. Direktur PT Trizazona itu mendatangkan ratusan ribu bibit jarak dari berbagai daerah untuk dikembangkan. Ia mengambil 400.000 bibit dari Ponorogo dan masingmasing 100.000 bibit asal Jember dan Jampang, Sukabumi. “Sekarang kalau ditotal ada 1-juta lebih bibit,” tambahnya.

Toh, tidak ada ruginya membibitkan jarak. Buktinya, 5.000 bibit jarak diborong PT Krakatau Steel, PT Semen Gresik, dan PT Jasamarga. PT Jasamarga menanam 300-ribu—400-ribu bibit jarak di ruas jalan tol Cipularang sepanjang 60—70 km. Dengan harga bibit Rp1.000—Rp1.500/tanaman, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung, itu minimal meraih omzet Rp800-juta.

Untuk menanam jutaan bibit jarak jelas dibutuhkan lahan yang sangat luas. Oleh karena itu program penanaman jarak harus didukung semua daerah. “Pemerintah Kabupaten Subang sudah menyediakan 300 ha lahan untuk penanaman jarak. Bupati bersedia menjadikan Subang sebagai proyek percontohan. Kita sedang survei ke beberapa lokasi,” kata Tatang. Selain Subang, Kabupaten Tasikmalaya dan Indramayu telah diincar untuk ditanami anggota famili Euphorbiaceae itu.

PT Pertamina pun berencana membangun 1 pabrik pengolahan dan penampungan biodiesel di Cilacap, Jawa Tengah, atau Balongan, Indramayu. “Yang penting masih ekonomis dan menguntungkan,” kata Nurtjahjono. Tidak ada yang menyangkal bila industri biodiesel butuh modal ratusan juta bahkan triliunan rupiah. Namun, bila semua kendala teratasi tidak mustahil pada 2009 semua mesin diesel di Indonesia pasti menggunakan biodiesel. (Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img