Pembatasan jeruk impor justru peluang untuk pengembangan jeruk lokal. Pekebun tinggal memilih segmen pasar yang akan dibidik.

Trubus — Sejak 2014 para pekebun bergairah mengembangkan jeruk lokal setelah pemerintah membatasi keran impor jeruk. Semula pada 2012 impor jeruk mencapai angka tertinggi, yakni 252.293 ton. Impor itu naik 448% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 46.030 ton. Akibatnya pasar jeruk nasional banjir jeruk impor. Kondisi itu keruan saja membuat para pekebun jeruk di tanah air resah. Pasar mereka tergerus jeruk impor sehingga menyebabkan harga jeruk lokal terpuruk. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan pembatasan impor jeruk, terutama saat panen raya.
Tiga segmen

Pada 2013 jumlah impor jeruk turun menjadi hanya 103.865 ton atau turun 58,83%. Kebijakan itu mendorong para pekebun kembali bergairah mengembangkan jeruk lokal. Para pekebun baru pun terus bermunculan. Jeruk siam pilihan favorit para pekebun untuk memasok pasar bawah. Padahal, harga jeruk siam di tanah air paling rentan terkena imbas fluktuasi harga.
Saat panen raya harga jeruk siam di tingkat pekebun di daerah sentra bisa anjlok hingga Rp3.000 per kg. Harga jeruk siam tertinggi hanya Rp10.000 per kg. Meski demikian para pekebun lebih memilih siam karena lebih mudah memasarkan. Mereka cukup menunggu pengepul datang dan menerima pembayaran. Alasan lain karena perawatannya relatif lebih mudah dan berproduksi tinggi, 100 kg dari sepohon berumur 5 tahun.
Pasar jeruk di tanah air dapat digolongkan menjadi tiga lapisan, yakni pasar atas, madya, dan bawah. Karakteristik ketiga pasar itu berbeda dan menghendaki kualitas buah yang berbeda pula. Itulah sebabnya calon pekebun mesti memperhatikan varietas sebelum menanam jeruk. Varietas itu berkaitan dengan pasar yang hendak dibidik. Pekebun yang menargetkan pasar menengah, misalnya, dapat memilih keprok batu 55.
Kulit jingga

Bagi sebagian konsumen, jeruk siam tidak dapat menggantikan kualitas jeruk impor yang sempat marak. Kehadiran jeruk impor membuat persepsi sebagian konsumen tentang kualitas jeruk berubah. Menurut pemasok buah di Pluit, Jakarta Utara, Suparman Halim, konsumen saat ini menginginkan jeruk berkulit jingga seperti jeruk impor.
Hanya jeruk keprok yang memungkinkan berwarna jingga. Itulah sebabnya kini penanaman jeruk keprok berkembang pesat.
Harga jual jenis keprok lebih tinggi ketimbang siam karena berkulit buah jingga. Di pasaran, sebagian besar keprok masuk kategori pasar madya atau medium dengan harga jual Rp10.000—Rp15.000 di tingkat pekebun. Jeruk itulah yang kini banyak mengisi gerai-gerai pasar swalayan. Namun, warna jingga saja tak cukup. “Saat ini banyak jeruk lokal yang berwarna jingga, tapi rasanya hambar,” ujar Halim.
Menurut Vendi Tri Suseno, dari PT Laris Manis Utama, perusahaan pemasok dan importir buah di Jakarta Utara, selera konsumen jeruk berbeda-beda. Ada juga konsumen jeruk yang menghendaki buah berkualitas prima. “Mereka tidak mau kalau kulitnya burik, maunya mulus. Rasanya juga harus manis. Konsumen seperti itu tidak mementingkan harga,” tutur Vendi.

Kini beberapa pekebun yang menyasar target konsumen seperti itu. Salah satunya Jasa Bagastara di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu yang mengebunkan jeruk siam madu medan. Namun, karena menyasar konsumen menengah ke atas, ia berupaya meningkatkan kualitas buah dengan memanen jeruk saat matang optimal. Itulah sebabnya jeruk produksi Bagastara sangat manis, tapi penampilan buahnya tak kalah cantik, yakni berwarna jingga.
Ia menjual jeruk dengan harga Rp15.000—Rp40.000 per kg, tergantung kualitas buah. Harga jual itu tergolong premium bila dibandingkan dengan jeruk siam. (baca Potret Bisnis Jeruk Premium, halaman 10).
Makin beragamnya jeruk yang dikembangkan di tanah air mendoro ng jumlah produksi jeruk nasional. Perlahan tapi pasti, jumlah produksi jeruk nasional terus meningkat. Pada 2013 jumlah produksi jeruk nasional mencapai 1.654.731 ton atau naik 2,67% dari tahun sebelumnya. Pada 2014 jumlah produksi jeruk nasional terus merangkak naik menjadi 1.926.543 atau naik 16,43%.
Menurut peneliti Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) di Kota Batu, Jawa Timur, Ir. Sutopo, M.Si., Kementerian Pertanian mencanangkan jeruk sebagai buah unggulan nomor satu yang menjadi prioritas untuk dikembangkan. Pada 2018 Kementerian Pertanian memberikan 2 juta bibit jeruk keprok batu 55 dan siam di seluruh Indonesia. “Program itu membuat budidaya jeruk semakin ramai,” tutur Sutopo. Pekebun tinggal memilih target pasar mana yang akan dibidik. (Imam Wiguna/Peliput: Bondan Setyawan)
