Monday, August 8, 2022

Peluang Pasar Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Bayam jepang atau horenzo di lahan Sayur Organik Merbabu. (Dok. Trubus)

Permintaan sayuran organik terus meningkat hingga 20% per tahun. Peluang membudidayakan komoditas organik makin besar.

Trubus — Meskipun terdapat berbagai aral, budidaya komoditas secara organik masih tetap prospek. Kunci berbisnis produk organik antara lain memangkas tata niaga. Rantai tata niaga menjadi sangat pendek, dari produsen langsung ke konsumen, atau dari distributor langsung ke konsumen. Begitulah pengalaman petani-petani muda di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang berkelompok membentuk Sayur Organik Merbabu (SOM).

Mereka, jumlahnya total 30 orang, generasi ke-2 petani organik di Desa Kopeng. Lahan mereka 10 hektare untuk membudidayakan total 60 jenis sayuran. Tujuannya agar produk organik bisa dinikmati berbagai kalangan. Para petani muda itu membantu pemasaran produk organik sejak 2015 hingga sekarang. Kelompok ini memilih pemasaran via daring atau online. Hasilnya cukup efektif untuk memangkas tata niaga. Produk yang dijual langsung ke konsumen.

Omzet besar

Harga jual sayuran ekonomis bagi konsumen dan menguntungkan untuk petani. Itu salah satu cara mengedukasi konsumen bahwa produk organik tidak melulu mahal. Fakta lain hasil panen dari lahan organik tidak kalah dibandingkan dengan hasil pertanian konvensional. Apalagi lahan yang sudah berorganik selama 13 tahun. Artinya tanah, produk, petani, dan lingkungan sudah bisa menghasilkan produk sehat.

Biaya produksi organik juga bisa dibilang sama saja dengan konvensional. Jika budidaya konvensional membeli pupuk kimia dan pestisida, biaya produksi tambahan pertanian organik untuk anggaran sertifikasi dan tenaga kerja. Biaya sertifikasi Rp20 juta—Rp30 juta per empat tahun. Namun, biaya itu lebih terjangkau jika dibagi per hari dan per komoditas. Budidaya pertanian organik di lahan 1.000 m2 pun menghasilkan laba di atas Upah Minimum Regional (UMR).

Kale salah satu sayuran permium, harga jual bisa mencapai Rp130.000 per kilogram. (Dok. Trubus)

Contohnya horenzo Spinacia oleracea. Harga jual sayuran anggota famili Amaranthaceae itu di tingkat petani Rp12.000 per kilogram. Di lahan 1.000 m2 petani membudidayakan 15.000 tanaman. Saat panen bobot mencapai 100 gram per tanaman sehingga menghasilkan omzet Rp16 juta. Masa budidaya horenzo hanya 35 hari. Adapun biaya produksi Rp6 juta sudah termasuk benih, pupuk dan tenaga kerja. Artinya potensi laba sekitar Rp10 juta.

Itu lebih tinggi dibandingkan dengan UMR Kota Semarang pada tahun 2020 mencapai Rp2,7 juta per bulan. Asalkan petani cermat memilih komoditas dan bergabung dengan kelompok tani dan melakukan budidaya standar organik. Apalagi tren permintaan produk organik terus tumbuh sekitar 15—20% per tahun. Salah satu pemicunya konsumen makin sadar akan produk pertanian sehat.

Konsumen yang sudah rutin mengonsumsi produk organik bisa merasakan perbedaan kualitas antara produk organik dan produk konvensional. Imbasnya konsumen produk organik akan enggan berpindah kembali ke produk pertanian konvensional. Permintaan terus menanjak itu biasanya di kota-kota besar atau metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Permintaan di kota atau kabupaten kecil tidak terlalu signifikan.

Standar mutu

Permintaan tinggi produk organik biasanya berkaitan erat dengan tinggi rendahnya upah minimum regional (UMR). Makin tinggi UMR biasanya selaras dengan permintaan produk organik. Daerah dengan UMR rendah mengutamakan produk pangan konvensional karena harga lebih murah. Pasar organik tanah air terus tembuh pada 2010 sejak digaungkan program Go Organic. Program itu membantu sertifikasi produk organik kelompok tani dari 2010 sampai 2014.

Harga jual produk organik bisa lebih tinggi 30—100% dibandingkan dengan produk konvensional. Permintaan produk organik baik lokal maupun ekspor menanjak. Permintaan produk lokal didominasi oleh hotel restoran dan kafe (horeka). Petani sebetulnya berpeluang mengisi pasar ekspor. Pengalaman kelompok tani organik di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pernah mengekspor beragam sayuran organik pada 2010—2014.

Tantangan ekspor pasokan harus kontinu dan menyesuaikan standar yang diinginkan konsumen. Saat mutu produk tidak sesuai dengan standar maka pasokan akan terganggu bahkan tidak terjadi transaksi. Contohnya ketika konsumen di luar negeri menghendaki standar produk lebih mini, ukuran brokoli hanya 200 gram per tanaman. Sementara petani tidak sanggup memenuhinya, hasil panen sayuran lebih besar yakni 400 gram per tanaman menyebabkan produk tidak laku.

Pasar lokal juga menjajikan, meski bukan tanpa kendala. Banyak kejadian tidak mengenakan jika melibatkan pihak ketiga. Contoh relasi antara kelompok tani organik di Desa Kopeng dan pihak ketiga yang tidak komitmen memenuhi hak petani. Pembayaran terlambat, bahkan tidak dibayar. Imbasnya produk tidak laku. Oleh karena itu, dibutuhkan relasi yang berkomitmen dengan sistem pemasaran transparan dan saling menguntungkan. Tujuannya agar banyak petani tertarik untuk beralih ke pertanian organik yang menyehatkan. Sayur Organik Merbabu yang bekerja sama dengan Kelompok Tani Citra Muda membuktikannya. (Shofyan Adi Cahyono S.P., Petani organik, pemilik Sayur Organik Merbabu, dan peraih penghargaan Trubus Khusala Swadaya)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img